Minggu, 25 Oktober 2015

Hebatnya Dunia Pemahat-Kata

Bekerja di dunia tulis-menulis membuat saya semakin bersyukur. Mengapa? Apa hubungannya antara menulis dan bersyukur? Sebelum saya menjawabnya, akan saya ceritakan dulu bagaimana saya bekerja setiap hari ….
Komputer hampir seperti segalanya bagi saya, bahkan paras monitornya lebih sering saya tatap ketimbang wajah istri saya sendiri. Saya selalu duduk manis di depan layarnya ketika di kantor. Atau saat saya membawa pekerjaan kantor ke rumah, si komputer akan duduk manis di pangkuan saya. Ini menyadarkan saya mengapa komputer jinjing itu disebut laptop. Lalu, begitu menyalakan komputer, masuklah saya ke “dunia lain”. Dunia yang mengizinkan saya melakukan apa saja. Dunia yang—setidaknya untuk sementara waktu—membolehkan saya membuat kesalahan, sebanyak dan sefatal apa pun itu. Dunia yang tak mengenal kata menyesal sebab segalanya bisa saya sunting kemudian. Kata “menyunting”, selalu menyenangkan bagi saya—in every sense of the words. Inilah dunia saya: dunia pemahat-kata.
Dari puluhan ribu entri di KBBI, tak sampai 5 persennya saya gunakan ketika bekerja.  Dunia pemahat-kata ialah sebuah penjelajahan panjang. Tersedia banyak kata di (d)alamnya. Jika beruntung, bisa saja ada “penemuan” baru. Saat itu terjadi, sensasinya seperti tak sengaja menemukan uang 20.000-an dari saku celana kotor. Misalnya, saat kali pertama saya menemukan apa itu makna “petahana”, “tanja”, dan “tatah”, atau kata “perinci” yang sering disalahkaprahkan dengan “rinci”. Ada banyak kata yang jarang terjamah oleh lisan orang Indonesia sendiri. Bagi saya, dunia pemahat-kata tak bakal ada habisnya. Di sinilah saya bersyukur, bahwa pekerjaan saya tak pernah terasa membosankan.
Lalu setelah menyalakan komputer, saya disuruh menyunting dan menulis. Dua hal itu bersinggungan, tapi sebenarnya yang satu dilebihkan dari yang lain. Stephen King pernah berkata, “To write is human, but to edit is divine” (Menulis itu pekerjaan manusia, tapi menyunting itu pekerjaan Tuhan). Sebagai seorang editor, saya merasa sedikit bangga dengan ini. Setidaknya untuk mereka yang paham, mengedit memang bukan hal sepele. Menulis ibarat membuat resep dan memasak, sementara mengedit bagaikan menjadi kritikus lantas menambah bahan, mengurangi, dan memasak ulang resep tersebut. Mereka yang menyunting pasti mampu menulis, tapi yang mampu menulis, belum tentu pandai menyunting. Di situ kadang saya merasa … bersyukur. Tak ada yang sempurna, yang sempurna hanyalah takdir-Nya, hasil “tulisan” dan “suntingannya”.


Menjadi seorang editor buku dan pemahat-kata barangkali bukanlah pekerjaan yang membuat saya kaya raya. Tapi setidaknya, dunia bisa lebih baik berkat hasil suntingan saya; agar semua tetap pada tempatnya; agar huruf “r” pada kata preface tidak pernah tergantikan dengan huruf “e”, atau kesalahan-kesalahan lain semacamnya.[Luttfi Fatahillah]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar