Jumat, 09 Maret 2018

Wejangan Sir Muhammad Iqbal dan Literasi di Pesantren




Sastrawan, filosof, sekaligus reformis asal Pakistan, Sir Muhammad Iqbal, pernah memberikan wejangannya tentang menulis. Menurutnya, kemampuan menulis sebagai buah dari intelektualitas dapat diasah dengan empat jenis bacaan. Tak hanya menjadikan keahlian menulis kita semakin baik, secara umum kapasitas kita sebagai manusia pun akan ikut terbangun. Ia menuturkan: “Bacalah empat jenis bacaan. Pertama, bacaan tentang agamamu; kedua, buku-buku sastra; ketiga, bacaan-bacaan yang berhubungan dengan pekerjaan, keahlian, atau kesenanganmu; dan keempat, bacaan dengan tema yang sama sekali kamu tidak menguasai atau bahkan tidak kamu sukai.”

Pertama, membaca bacaan atau buku-buku yang berhubungan dengan agama kita. Muhammad Iqbal ialah seorang muslim, yang dengan predikat tersebut ia sadar bahwa atribut kemuslimannya senantiasa melekat. Sebagai seorang muslim, ia tahu bahwa agama merupakan fondasi hidup. Maka, ia menempatkan agama sebagai prioritas. Pandangan seperti ini sejatinya bersifat universal, sebab agama—apa pun itu—berfungsi sebagai fondasi utama dalam perikehidupan kita. Ajaran-ajaran baik dan kebijaksanaan disampaikan oleh setiap agama. Ia merupakan ruh dan inspirasi dari setiap nilai-nilai positif yang berkembang dalam peradaban manusia. Agama juga menjadi filter dan rambu-rambu bagi kita dalam mengarungi kehidupan. Maka benarlah apa yang Muhammad Iqbal katakan, pengetahuan agama seharusnya menjadi kekuatan utama dalam menjalani hidup. Agar kekuatan itu senantiasa menyala, kesadaran serta ilmu pengetahuan dalam beragama pun harus terjaga, yakni dengan terus memasukkan nutrisi ke dalam jiwa kita dengan ajaran-ajaran baik dari agama yang kita anut.

Kedua, bacaan sastra. Mengapa hal ini penting? menurut Muhammad Iqbal, membaca sastra tak ubahnya sebuah menu untuk menajamkan perasaan. Dalam sastra, perasaan dan keadaan batin yang sesungguhnya tak terlukiskan dapat diekspresikan menggunakan bahasa. Manakala kita membaca dan meresapi rangkaian kata dari sebuah karya sastra, rasa kita lewat bahasa akan kian dipertajam, menjadikannya lebih peka, jauh dari sifat keras hati, bebal, sehingga kita lebih pandai menjaga diri dan proporsional saat bersikap terhadap orang-orang di sekitar kita.

Ketiga, bacalah buku-buku atau bacaan yang membahas bidang yang kita sukai atau yang kita kuasai. Bagian ini erat kaitannya dengan aspek manusia sebagai makhluk sosial. Saat kita meningkatkan kapasitas dan keahlian yang kita miliki, secara tak langsung keterlibatan kita dalam kehidupan bermasyarakat akan semakin signifikan. Seorang dengan keahlian yang tinggi akan lebih bermanfaat dan dihargai di dalam komunitasnya. Ia dapat berkontribusi dengan keahliannya tersebut untuk membangun masyarakat. Sebagai pribadi pun, ia akan semakin cakap, andal dalam menggunakan keahliannya yang sudah tentu menjadi modal dan kekuatan baginya untuk mengatasi segala tantangan. Seorang dokter harus terus mengasah ilmunya tentang kedokteran, medis, farmasi, pengobatan, ilmu herbal, dan lain sebagainya. Seorang guru harus terus menambah wawasan dan ilmunya tentang ilmu-ilmu pendidikan serta teknik-teknik mengajar, dan seterusnya.

Keempat, bacalah bacaan atau buku tentang bidang yang tidak kita sukai atau tidak kita kuasai. Mengapa hal ini penting? Untuk apa kita mencari tahu tentang hal-hal yang tidak kita sukai? Bukankah itu hanya buang-buang waktu? Bisa jadi anggapan itulah yang pertama tebersit di benak kita saat mendengar wejangan ini. Tapi menurut Muhammad Iqbal, pada hal-hal yang tidak disukai pun dapat memberikan manfaat bagi kita. Otak kita sesungguhnya dapat menangkap dan menyimpan informasi melalui alam sadar dan alam bawah sadar kita. Informasi-informasi yang “tidak berguna” atau tidak menjadi prioritas untuk kita simpan dalam memori ternyata dapat menjadi semacam potongan-potongan informasi yang dapat dipanggil sewaktu-waktu, secara sadar atau tidak. Ia pun bisa menjadi kepingan-puzzle-pelengkap atas pengetahuan-pengetahuan tidak tidak utuh yang pernah kita terima. Dengan demikian, jangan lupakan untuk membaca hal-hal yang jauh dari keseharian atau bahkan sesuatu yang tidak kita sukai. Jika informasi itu tertanam di alam bawah sadar kita, ia dapat berguna pada saat yang tak terduga.

Wejangan Sir Muhammad Iqbal tersebut tampak kuat mengejawantah ketika Bitread menyambangi Pondok Pesantren Daar-el Qolam di Gintung, Tangerang. Dalam program Bitread Satu Sekolah Satu Buku – Pesantren Menulis, tim Bitread menyaksikan langsung antusiasme dan bakat-bakat terpendam dari para santri dan santriwati di sana. Kegiatan ini merupakan program yang diinisiasi Bitread setelah menyadari dan menangkap adanya potensi literasi yang luar biasa di lingkungan pesantren. Akan tetapi pada faktanya, lingkungan pesantren tampaknya belum terlalu banyak terjamah oleh program-program literasi mainstream yang jamak digelar. Kebanyakan program literasi yang melibatkan pesantren lebih bersifat kegiatan workshop atau event-event lain yang sifatnya insidental dan tak berkesinambungan. Oleh sebab itu, Bitread hadir ke hadapan masyarakat pesantren dengan membawa sebuah program literasi yang secara kontinyu dapat mengasah minat dan bakat mereka di bidang literasi.

Delapan puluh peserta One Day Wokrshop memadati ruangan. Kegiatan ini gratis, tanpa memungut biaya dari para santri. Para santri hanya diwajibkan membuat sebuah karya—cerpen, esai, atau artikel—sebagai tiket workshop tersebut. Selama sehari, mereka dibekali pengetahuan, wawasan, serta motivasi yang berhubungan dengan kepenulisan. Pada sesi pertama, mereka mendapatkan informasi tentang latar belakang program Pesantren Menulis, menyadarkan bahwa di pesantren-pesantren sebenarnya terkandung potensi literasi yang besar. Mereka disadarkan bahwa menjadi santri adalah kekuatan yang tak dimiliki semua orang. Sebagai seorang santri, mereka digembleng dengan pengajaran agama yang menjadi porsi terbesar dalam keseharian mereka, mereka dituntut untuk berdakwah dan diamanahi ilmu untuk menyebarkan risalah Islam lewat lisan dan laku mereka. Jika mereka memiliki kemampuan menulis, hal tersebut akan semakin menyempurnakan predikat mereka sebagai santri calon pewaris para ulama. Mereka sadar, menjadi santri tak hanya harus pandai berorasi dan berdakwah secara verbal, kepiawaian mereka dalam menulis pun dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah dan syiar yang efektif.

Tak ketinggalan, materi-materi motivasi pun dipresentasikan ke hadapan mereka, membuat mereka semakin yakin arti penting menulis, nilai luhur kegiatan menulis sebagai salah satu wujud budaya literasi. Pada sesi kedua selepas tengah hari, lokasi workshop beralih ke sebuah area hijau di tepi danau. Di sana, mereka ditantang untuk mempraktikkan ilmu dan wawasan yang mereka peroleh pada sesi pertama. Secara individu dan berkelompok, mereka ditantang untuk mencari  inspirasi, memperoleh ide, dan meramu ide tersebut untuk dieksplorasi dalam karya yang akan mereka tulis. Hingga sesi akhir, semangat mereka tak surut. Beberapa di antara mereka bahkan menyanyangkan bahwa program tersebut hanya dilaksanakan dalam satu hari saja, seharusnya program seperti ini dapat menjadi kegiatan mingguan atau bulanan yang diselenggarakan secara rutin.

Program Pesantren Menulis sebenarnya tidak terhenti sampai di sana. Setelah mengikuti One Day Workshop, mereka akan dibimbing dalam program konsulitasi penerbitan selama dua bulan hingga mereka benar-benar menerbitkan karya, baik itu karya kolektif, antologi, maupun karya individu. Dua puluh lima karya terbaik dari karya yang mereka kirimkan sebagai tiket workshop pun akan dipilih dan dikurasi oleh Pidi Baiq, untuk kemudian diterbitkan dalam antologi terbaik pesantren. Bukan berarti karya-karya lainnya menguap atau dilupakan begitu saja, karya-karya lainnya juga akan tetap dikurasi dan dibimbing hingga menjadi sebuah naskah yang siap diproses di meja redaksi. Aksan Taqwim Embe, pengajar Pesantren Daar-el Qolam sekaligus penulis yang tahun lalu terpilih sebagai salah seorang emerging writers di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017, sangat mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan seperti ini harus secara reguler dilasaksanakan untuk memfasilitasi potensi para santri, utamanya dalam bidang literasi dan kepenulisan. Ia yakin bahwa melalui program ini, dapat ditemukan benih-benih penulis dari kalangan pesantren yang dapat berbicara banyak di kancah literasi Indonesia.

Bitread terus mengajak pesantren-pesantren dan sekolah umum lainnya untuk dapat bergabung dalam program Satu Sekolah Satu Buku. Daar el-Qolam tak akan menjadi perhentian pertama dan terakhir bagi program ini, sejumlah pesantren dan sekolah lainnya telah siap bersinergi bersama Bitread untuk mensukseskan program ini.

Kata-kata Sir Muhammad Iqbal dalam pembukaan tulisan ini telah ada pada pribadi santri. Agama mereka telah terbina, bahkan menjadi elemen utama dalam kurikulum pendidikan yang mereka jalani. Di pesantren tentu tak hanya ilmu agama yang diajarkan kepada santrinya, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan ilmu pasti ataupun ilmu sosial turut mereka peroleh. Dengan motivasi yang ditularkan dalam workshop ini, kehausan mereka dalam menuntut ilmu melalui aktivitas membaca akan kian memuncak. Hal ini berimbas pula pada minat baca mereka. Tak hanya bacaan yang mereka senangi saja, misalnya sastra dan fiksi, bacaan-bacaan yang sesuai dengan bidang keilmuan dan keahlian yang mereka sukai pun tak akan luput sebagai bahan bacaan mereka.
Bitread Satu Sekolah Satu Buku – Pesantren Menulis akan menjadi tonggak peningkatan kapasitas santri dalam menjalankan segala fungsi dan amanah mereka di tengah masyarakat. Jika yang bukan santri saja bisa menjadi seorang yang hebat dan bermanfaat bagi masyarakat, maka seharusnya seorang santri yang pada dirinya kaya akan pengetahuan, wawasan, dan kesadaran spritual tentu dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Lewat menulis dan media literasi seperti buku, pengetahuan dan ilmu mereka akan tersebar ke tengah masyarakat, mengispirasi dan menjadi titian jalan menuju kejayaan negeri. Maka tak salah jika kita katakan bahwa menulis adalah suatu jalan untuk mengabdi  dan mengabadi.[Luttfi Fatahillah]

Jumat, 22 Desember 2017

Sang Comte yang Awet Muda - kutipan naskah non-fiksi

  • Alkemis yang tak pernah diketahui secara jelas asal-usulnya
  • Sahabat para raja dan ningrat di Eropa
  • Konon hidup sejak zaman Isa Al Masih
  • Muncul di berbagai peristiwa sejarah dari zaman ke zaman

Tersebutlah seorang Comte[1] bernama Saint Germain. Menurut catatan sejarah, ia lahir pada rentang abad 17 atau 18, sekira tahun 1600 atau awal 1700-an. Namun catatan-catatan lainnya mengundang tanda tanya. Sebab, berbagai keterangan menyebut sosok yang menyerupai Saint Germain muncul dari masa ke masa. Bahkan konon ia telah hidup sejak zaman Isa Al Masih. Sejumlah catatan menyebutkan bahwa sang Comte ikut menyaksikan peristiwa yang terjadi di Cana, saat Isa Al-Masih mengubah air menjadi anggur. Terlepas dari hebohnya kabar tentang dia telah hidup di masa Isa Al-Masih, kebanyakan dari keterangan yang mengangkat kisah Comte de Saint Germain cenderung menyiratkan bahwa ia lebih dikenal sebagai seorang alkemis yang hidup sekira tahun 1600-an. Semakin mengundang rasa penasaran karena tokoh-tokoh dunia seperti Casanova, Madame de Pampadour, Voltaire, Raja Louis XV, Kathrine yang Agung, hingga Anton Mesmer kabarnya pernah berinteraksi dengan Comte de Saint Germain. Pada tulisan ini, kita akan dihibur sekaligus dibuat penasaran dengan mitos—atau justru fakta—tentang Comte de Saint Germain. Sosok penuh misteri yang disebut-sebut sebagai alkemis dan seorang yang immortal.

Cerita soal dia hidup pada masa Isa Al-Masih (termasuk kehadirannya pada Konsili Nicea pada 325 M) memang terdengar terlalu berlebihan. Akan tetapi, beberapa catatan penampakan dia di hadapan publik termasuk interaksi personalnya dengan para tokoh bersejarah pada rentang masa berabad kemudian—yang banyak orang memercayainya sebagai sebuah kebenaran—menunjukkan bahwa sosok ini memang sangat misterius sekaligus istimewa. Ia dikenal sebagai seorang alkemis, seseorang yang mengetahui rahasia materi dan mampu mengubah struktur kimia sebuah bahan dengan keahlian ilmu kimianya. Istilah “alkemis tak lagi asing, bahkan sebagian orang percaya bahwa sosok seperti ini memang ada atau pernah hidup. Ia dapat mengubah logam menjadi emas, meracik ramuan awet muda, menguasai banyak bahasa, hingga menguasai banyak keahlian termasuk bermain musik (jika benar ia bisa awet muda hingga hidup ratusan tahun lamanya, “menguasai banyak keahlian” menjadi cukup masuk akal karena ia memiliki waktu dan umur yang sangat panjang untuk mempelajari semua hal).

Bicara tentang alkimia, Batu Bertuah merupakan salah satu material terpenting di dunia alkimia. Belum ada yang mampu membuktikan keabsahan cerita ini, apakah batu ini memang nyata atau karangan belaka. Tapi dalam cerita-cerita tentang Batu Bertuah—disebut “philosopher stone” di kisah Harry Potter—Comte de Saint Germain disebut-sebut sebagai alkemis yang berhasil menemukan cara untuk menciptakan batu ini.

Saint-Germain muncul di lingkungan elit Eropa pada 1742. Ia digambarkan sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang sangat luas, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, sejarah, dan menguasai setidaknya enam bahasa, di antaranya bahasa Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Portugis, Rusia, dan Inggris. Di samping itu, ia pun mampu berkomunikasi dengan bahasa Cina, Latin, Arab, Yunani Kuno, bahkan Sankrit. Jika keterangan-keterangan ini benar, bisa dibilang ia mampu menguasai semua bahasa penting dunia.


Dimulai dari Sebuah Pesta
Pertemuan antara Saint-Germain dan Madame de Pompadour dalam sebuah pesta merupakan saat kali pertama isu tentang “keabadian” Saint-Germain menyeruak. Madame Pompadour sendiri merupakan selir Raja Louis XV dari Prancis.

Saat itu tahun 1760, Countess von Gregory juga hadir pada pesta tersebut. Saat ia melihat sosok Saint-Germain, dirinya dibuat bingung. Ia merasa pernah mengenali pria tersebut, mengira bahwa ia adalah putra seorang pria yang pernah ia kenal pada tahun 1710, yang tak lain adalah Saint Germain sendiri. Ia lantas mengenali bahwa orang itu memang benar merupakan orang yang sama, tak tampak menua sama sekali, padahal lima puluh tahun telah berlalu. Sang Comte tidak menyangkal ataupun mengiyakan, tidak mengakui pula bahwa ia adalah putra seperti yang disangkakan Countess von Gregory. Ia bahkan berkelakar kepada sang Countess bahwa dirinya memang berusia lebih dari 100 tahun.    

Kemunculan-Kemunculan Berikutnya
Empat puluh tahun kemudian, Comte de Saint Germain dilaporkan melakukan perjalanan ke seluruh Eropa. Ia tak pernah menua dan terus membuat kagum kalangan elit Eropa dengan banyak keahliannya: keterampilan bermain piano, melukis, dan pengetahuannya tentang ilmu pengobatan. Voltaire, seorang filosof abad ke-18 menggambarkan Saint Germain sebagai “orang yang abadi dan tahu segalanya.”Daya pikat lainnya ialah termasuk hartanya yang banyak serta kebiasaannya yang ganjil, yakni sering menggelar pesta dan mendatangi pesta namun tak pernah terlihat memakan hidangan yang disajikan. Ia hanya minum anggur merah, yang kemudian membuatnya juga dikenal sebagai connoisseur, ahli dan penikmat anggur.

Catatan yang disinyalir sebagai catatan terakhir tentang Saint Germain adalah cerita saat ia pergi ke Hamburg. Di sana, dia menjadi sahabat Pangeran Charles Hesse-Cassel. Saint Germain menjadi orang kepercayaan sang pangeran dan tinggal di kastil Eckernförde sebagai seorang tamu. Di tempat inilah Sang Comte disebutkan tutup usia. Satu-satunya keterangan tentang kematiannya hanyalah sebuah catatan yang menyatakan bahwa Comte de Saint Germain wafat pada 27 Februari 1784.

Menariknya, 9 tahun kemudian, Countess d’Adhémar mengklaim bahwa Comte Saint Germain menyaksikan peristiwa pemenggalan Marie Antoinette pada 16 Oktober 1793. Jika ini benar, usia sang Conte telah mencapai seratus tahun, merujuk pada sebuah keterangan yang menyebutkan tentang tahun kelahirannya yang terjadi pada 1710 (sementara von Gregory menyebut pada tahun ini Saint Germain merupakan seorang pria dewasa). Lebih daripada itu, kesaksian ini juga menghapus anggapan bahwa sang Comte telah meninggal. Comtesse d’Adhémar beberapa tahun kemudian juga menyatakan bahwa dirinya melihat Saint Germain saat peristiwa pembunuhan Ratu di Brumaire, pada hari setelah kematian Duke d’Enghien, Januari 1815, dan pada malam pembunuhan Duke de Berry. Comtesse d’Adhémar menuliskan ini pada catatannya tahun 1820.

Comte de Saint Germain terus menampakkan diri di berbagai kesempatan. Dengan demikian, catatan kematian bahwa ia wafat pada Februari 1784 menjadi sebuah tanda tanya besar. Seorang tokoh dunia lainnya yang dilaporkan pernah berinteraksi dengan Saint-Germain adalah Anton Mesmer, seorang pionir seni hipnosis (desas-desus beredar bahwa Saint Germain-lah yang mengajari Mesmer). Menarik pula untuk menyimak beberapa keterangan bahwa  Saint Germain dipilih sebagai perwakilan Freemason di sebuah konvensi. Cerita demi cerita tentang sang Comte terus bergulir dan dia disebut-sebut tak pernah terlihat lebih tua dari pria berusia 45 tahun.

Kemunculannya di Abad 20
Apakah kisah Sang Comte berakhir sampai abad pertengahan dan abad 19? Nyatanya tidak. Kisah tentang Sang Comte malah semakin liar dan penuh misteri. Tahun 1902, seorang pria yang dikenal sebagai Jaques Saint Germain pindah ke sebuah rumah mewah di sudut Ursulines and Royal. Kabarnya ia pindah dari selatan Prancis, mengaku sebagai keturunan Saint Germain. Ia memperkenalkan dirinya lewat sebuah pesta di masyarakat elite New Orleans, para pejabat dan politisi hadir di sana. Para tamu disuguhi makanan yang disajikan dengan porselen dan peralatan makan perak terbaik dari Tiongkok. Namun ia tidak sedikit pun memakan hidangan tersebut. Sepanjang pesta, ia hanya menikmati minuman yang terlihat seperti anggur merah.

            Kebiasaan dan sikap yang ditunjukkan Jacques terhadap elitis New Orleans membuat mereka terheran-heran. Jaques digambarkan memiliki pesona yang menawan, sangat cerdas dan menguasai banyak bahasa dan seni. Namun kawan-kawan yang ia miliki dan fakta bahwa ia sering sekali mengadakan pesta membuat dirinya tetap diterima di lingkungan pergaulan kaum elit tersebut.

Jaques dan Perempuan Pub
Pada satu rentang masa, kehidupan Jaques Saint Germain tak pernah ter-ekspos lagi. Ia menjalani kesehariannya seperti biasa. Hingga kemudian pada suatu hari, ia menciptakan kehebohan lagi saat polisi melakukan penyelidikan terhadapnya. Suatu malam, Jaques pulang ke rumahnya dari pub setempat membawa seorang perempuan. Keesokan harinya, perempuan ini siuman di kantor polisi. Ia memberikan kesaksian yang cukup mencengangkan tentang pengalaman yang ia alami di kediaman Jaques. Malam itu sepulang dari pub, ia sedang melihat-lihat sejumlah benda yang indah di dekat perapian. Tak disangka-sangka, Jaques datang kepadanya dengan kecepatan yang luar biasa kemudian menggigitnya di leher secara beringas.

            Untungnya, persis pada saat itu, orang-orang yang diduga teman pesta Jaques datang ke kediamannya untuk mengajak minum. Mereka menggedor-gedor pintu dan mulai meminta minuman. Jaques terhenyak, dan perhatiannya yang teralihkan tersebut cukup untuk membuat si perempuan melepaskan diri dari Jaques. Tapi karena rasa takutnya, perempuan itu malah berlari dan melompat ke jendela. Menyebabkannya terjatuh dari lantai dua dan menimpa balkon. Hal ini membuat kakinya mengalami patah tulang di sejumlah titik. Dia lantas menjerit-jerit hingga didengar warga sekitar. Polisi datang dan membawanya ke rumah sakit. Ia pingsan, kemudian memberikan kronologis tadi di kantor polisi setelah siuman. Malam itu, saat Jaques ditanyai polisi, ia hanya menjawab bahwa perempuan itu mabuk dan tiba-tiba melompat ke luar jendela. Polisi lalu meminta Jaques untuk datang ke kantor polisi esok harinya untuk memberikan keterangan resmi. Tapi ia mangkir dari panggilan itu dan tak pernah menunjukkan batang hidungnya lagi.

            Polisi kembali menyatroni kediaman Jaques beberapa hari kemudian. Namun, rumah itu kelihatan sepi dan tampak telah ditinggalkan oleh pemiliknya. Saat polisi memasuki rumah itu, mereka dibuat terkejut dan heran dengan keadaan di sana. Ada noda-noda darah di atas taplak meja. Dari penilaian mereka, taplak tersebut merupakan taplak antik jika dilihat dari motif dan bahannya. Tapi hal paling mengherankan bagi mereka bukanlah barang-barang antik yang tampaknya dibuat pada masa berabad lampau, melainkan fakta bahwa di rumah itu sama sekali tak didapati bahan makanan, peralatan dapur atau piring-piringan satu pun. Mereka hanya mendapati cawan dan gelas-gelas anggur serta botol-botol anggur besar yang mereka asumsikan berisi anggur merah. Belakangan diketahui bahwa cairan dalam botol tersebut merupakan campuran anggur dan darah.  



Kemunculan Sang Comte di Era 70-an
Richard Chanfray mengklaim dirinya sebagai Comte de Saint Germain pada tahun 70-an. Ia muncul di sebuah acara televisi dan mengatakan dirinya mampu mengubah logam menjadi emas. Bertahun-tahun setelah tayangan televisi tersebut, Chanfray bunuh diri di Saint Tropez pada 1983.  Namun kemudian, Chanfray dilaporkan memalsukan kematiannya tersebut dan masih hidup.

Hingga saat ini, banyak laporan menyebutkan bahwa sosok misterius yang dikenali sebagai “Jack” sering berinteraksi dan “mengganggu” turis-turis setempat di New Orleans. New Orleans sendiri merupakan kota dengan angka kekerasan paling tinggi di Amerika Serikat. Membuat kota ini berada pada urutan teratas pada statistik “pembunuhan per kapita”. Tapi tak hanya itu, kota tersebut juga terkenal karena kasus-kasus lenyapnya orang secara misterius. Kasus orang hilang tersebut tak menimpa mereka yang berpenghasilan rendah, melainkan para turis dan selebritis setempat. Kejahatan-kejahatan ini mengesankan New Orleans sebagai kota yang berbahaya dan angker. Rumor lain menegaskan predikat kota tersebut, bahwa barangkali tak hanya sindikat pengedar narkoba dan para kriminal saja yang berkontribusi pada angka kejahatan tersebut, tapi juga sosok vampir bernama Jack.

Kebenaran kisah Sang Comte yang alkemis ataupun vampir yang senang berpesta barangkali dapat dengan mudahnya kita sangsikan. Kisah-kisah terlalu aneh dan berlebihan, bisa jadi comte yang muncul dari masa ke masa tersebut merupakan orang yang berbeda, tapi memiliki sejumlah kesamaan—nama misalnya—secara kebetulan sehingga menimbulkan persepsi liar, yang “dikuatkan” oleh keterangan dari berbagai sumber dan dianggap sebagai kepingan-kepingan dari sebuah puzzle. Barangkali kepingan-kepingan itu pas dan dapat menyusun puzzle secara utuh. Namun bagaimana jika puzzle-puzzle tersebut sesungguhnya tak berasal dari puzzle yang sama, hanya secara kebetulan memiliki bentuk yang sesuai dan saling melengkapi dengan kepingan lainnya; memang pas dan cocok, tapi bisa jadi keliru.[]



[1] Gelar bangsawan pria di Eropa

Menjebak Johan (petikan novel)




Ujung jemarinya mengetuk permukaan meja secara bergantian. Kelingking, jari manis, jari tengah, dan telunjuknya, mengintimidasiku. Setelah aku memasuki ruangannya, suasana sempat hening. Ia hanya mempersilakanku duduk dan sengaja menunda pembicaraan.

Suara ketukan itu kembali terdengar; kelingking, jari manis, jari tengah, telunjuk. Mematuk meja dengan irama konstan sehingga mengeluarkan bunyi ketuk yang merambat. Tindakan yang cerdas agar orang di hadapanmu merasa tak nyaman.

Dari balik kacamatanya, ia menatapku. Mungkin berusaha menebak isi kepalaku juga. Ini membuatku gemas. Namun sisi baiknya, aku senang dia ikut terseret dalam persoalan ini. Ia juga tak bakal sadar bahwa aku tengah mempersiapkan sebuah rencana untuknya, sebuah manuver. Kau bisa saja menganggapku culas. Tapi aku yakin, kita tak perlu sepenuhnya merasa bersalah ketika melakukan suatu “kejahatan” terhadap orang jahat. Lagi pula, aku melakukan ini demi kebaikan semua orang. Jika rencanaku berhasil, kebenaran akan terungkap. Atau bisa jadi, ini semacam bagian dari karma di mana aku turut andil di dalamnya.

“Raka, kau tahu, kan, seberapa pentingnya ini?” tanyanya tenang.

Aku terdiam sejenak.

“Ya, Pak.”

Aku menunduk demi memberikan kesan “merasa bersalah”. Ini menjadi sebuah konsensus sekaligus kesepahaman di antara kami, para kaki-tangan Johan, bahwa kita sama sekali tak bisa menyanggah atau membela diri ketika Johan mengadili kami. Kau harus menerima secara lapang dada bahwa ia berhak menekanmu karena kau adalah seorang “terdakwa”. Andaipun hendak melakukan perlawanan, jaga agar jangan sampai berlebihan. Jadi, begitu kata-katanya yang pedas menghajarmu, telan saja dulu. Kami sudah terbiasa dengan ini. Dadamu akan terasa sesak tapi setelah itu kau akan baik-baik saja. Sedihnya lagi, ia terlalu perasa dan melankolis. Jika kamu menantang dia, ia akan merasa sebal padamu dan akan mendiamkanmu setidaknya selama tiga hari. Ada saat-saat ketika ia bertingkah kelewatan. Hal itu biasanya akan cukup lama membekas. Kau akan keluar dari ruangannya dengan wajah muram, menelan sumpah serapah yang sesungguhnya ingin engkau muntahkan tepat di mukanya. Pada situasi seperti sekarang ini—seperti yang tengah aku alami—mengalah dan tetap bersabar adalah jalan terbaik. Sudah pasti kau tak ingin mendapat masalah lainnya dari Johan.

“Raka, saya pernah kasih tahu kamu kalau kamu selalu bisa diandalkan. Sejak pertama kali saya ngelihat hasil kerja kamu.”

Aku masih menunduk, lalu mengangguk ringan.

“Tapi kali ini, kamu payah banget. Lambat!” Johan menonjokku dengan kata-katanya.

Kini mataku terarah padanya. Lalu aku paksa diriku untuk mengalihkan pandangan pada tumpukan berkas di atas meja. Bukan karena takut, lebih karena menahan diri agar segalanya tak semakin keruh.

“Jadi?” Johan mengangkat alisnya.

“Ada penjelasan? ... atau mungkin alasan?” lanjutnya.

Aku berdeham. Membasahi bibirku sebentar. Sejenak menghela napas, dan ....

“Saya mesti mengatur ulang jadwal setelah kemarin sibuk bantuin launching bukunya Januar, Pak. Awalnya saya atur 15 halaman per hari. Tapi keteteran.”

Dengan berat hati, tidak kusebutkan bahwa perintah Johan untuk menganalisis sebuah program kemarin sebenarnya dapat menjadi alasan lain keterlambatanku.

“.... Selagi saya menyunting, Eva jalan proofreading. Tapi Haryono juga bermasalah, Pak.”

“Itu biasa, kan? Kita sering ngehadapin outsourcee seperti itu,” jawabnya singkat.

“Ya, tapi sejak awal saya nggak rekomendasikan buat ‘pakai’ Haryono, Pak.” sergahku.

“Mestinya kamu antisipasi juga. Bukan kali ini saja kita ngehadapin masalah seperti ini.” Nada bicaranya meninggi. “Dia bisa kerja cepat, Raka. Kita sudah sering kerja bareng dia, kan?”

Ya, cepat kalau uang muka sudah cair.

“Dan kerjanya juga bagus. Ayolah, masalah serius apa yang bisa kita dapat dari me-layout sebuah novel?”

Kerja bagus? Sebenarnya Haryono biasa saja. Dia hanya “murah”.

“Terakhir saya kontak dia, katanya dia sakit, Pak. Saya sudah bilang kalau memang tak sanggup dan tak memungkinkan, biar kami teruskan di kantor.”

“Ya, kenapa nggak gitu aja?”

“Dia bilang ‘besok akan saya rampungkan’” jawabku datar.

Besok?

“Ya, itu empat hari yang lalu.”

.“Kau bisa ambil saja layout itu, biar Mario yang mengerjakannya.”

“Dia penuh, Pak.”

Apa dia lupa apa alasan kami melempar pekerjaan ini ke freelancer. Mario sudah disesaki order desain dari Lia dan order project dari ... siapa itu, Kepala Bagian Project baru yang sering “menitipkan” pekerjaan kepada Departemen kami.

“Ok, itu mungkin masalah lain. Tapi intinya. Kerja kamu lambat. Kamu nggak bisa ngikutin timeline. Layout juga nggak bakal jalan kalau editan belum masuk, kan?”

Kubalas kata-kata Johan dengan anggukan ringan. Kutundukkan lagi kepalaku, sikap klise yang wajib kutampakkan pada situasi ini.

Johan melipat kedua lengannya di dada, memerhatikan berkas-berkas atau beberapa dummy yang tergeletak di atas meja. Ia lantas menerawang ke langit-langit sejenak, lalu menggaruk dagunya.

“Oke. Jadi begini: pameran kurang dari tiga minggu lagi. File masih belum siap. Tapi untungnya, desain cover sudah fix. Proofreading simultan dengan editing—tapi kerjaan Eva bakal lebih cepat daripada kamu—layout Haryono tergantung kecepatan kamu mengedit, yang jelas kamu harus push dia terus, tapi ... pengerjaan editing baru 60%....jadi, mau gimana kira-kira?”

“Setidaknya editing mesti beres dalam tiga hari, Pak.”

Dua hari. Perlu waktu dua minggu buat nyetak 3.000 eksemplar. Tapi nggak masalah, kita bisa ambil dulu sebagian yang udah jadi dari percetakan. Yang penting di pameran ada beberapa ratus yang jadi stok.”

“Bisa, Pak,” jawabku terkesan optimistis. Johan agak kaget. Dahinya mengerut, tapi aku tahu dia memercayaiku.

“Soal Haryono, gimana?” tanya Johan.

“Komunikasi sama dia ngabisin waktu, Pak.”

“Jadi?”

“Paksa dia selesaikan pekerjaan dia yang belum selesai. Lunasi penuh honornya.”

Kami berdua tahu bahwa sebenarnya Haryono adalah tipe orang yang bisa sangat pengertian setelah kita mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya.

Johan terdiam, bukan kebiasaannya melunasi honor sebelum pekerjaan selesai. Bahkan ia tidak pernah secara disiplin membayarkan uang muka di awal sesuai kesepakatan. Sekali lagi kubilang, mungkin ini bagian dari karma. Johan juga sering “mangkir” dari Haryono atau kerap menunda-nunda ketika Haryono menagih hak-nya.

“Lunasi honornya, saya push dia supaya menyelesaikan semua bahan layout yang dia pegang dalam waktu satu hari. Setelah honor itu cair, saya jamin semuanya beres secepatnya, Pak.”

“Lalu, bagaimana kamu ngerjain bagian kamu? Dua hari?”

“Ya, bisa diatur, Pak.”

Johan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya memandangku, lalu menyeringai.

“Jangan sampai meleset, ya.” Kacamata Johan tampak berkilat.

“Jangan khawatir, Pak.”

Sebenarnya, target menyunting selama dua hari dengan volume ketebalan sekira 100 halaman terbilang nekat. Tapi, kau tahu kan kalau aku punya sebuah kelebihan yang akan sangat membantu pada situasi seperti ini.

“Tapi izinkan saya lembur, Pak. Mungkin saya juga harus menginap di kantor.”

Sejak awal, aku menduga bahwa sebenarnya Johan memang akan memerintahkanku lembur, tapi komitmen untuk mengerjakan pekerjaan selama dua hari jelas membuatnya sedikit terkejut. Dan sekarang, aku mengajukan diri untuk menginap di kantor. Langkah lainnya yang tentu tak ia sangka-sangka. Tak ada cara lain agar aku bisa leluasa masuk ke ruangan ini dan mengaduk-aduk lacinya hingga kutemukan barang bukti itu. Seperti informasi yang kudapat dari Allea, seharusnya berkas itu ada pada Johan. Begitu kudapatkan berkas itu dan kuserahkan kepada Pak Helgi, mampuslah si Johan.

“Menginap?” tanya Johan, dahinya berkerut. “Yakin?”

“Yah, gimana lagi, Pak. Saya mesti fokus ngerjainnya.”

Johan memicingkan mata, seolah memastikan permintaanku. Ia mengangguk-angguk, lalu membenahi posisi duduknya.

“Oke. Kenapa nggak? Mulai besok?”

“Mulai malam ini saja, Pak.”

“Boleh. jangan lupa lapor sekuriti, ya.”

“Siap, Pak.”

Telepon di ruangan Johan berbunyi. Memberi jeda pada percakapan Johan yang Agung dan Raka yang bukan siapa-siapa.

“Sebentar,” kata Johan sambil mengangkat gagang teleponnya. “Halo ... Oh, Pak Wiky...”

Pikiranku meracau ....

Kau tahu Johan, tak lama lagi kau akan tamat. Bersenang-senanglah dulu sebelum kedokmu kubongkar. Aku sudah bosan mendengar rengekan Eva karena ulahmu, Mulyono yang uring-uringan karena kau ejek keluarganya, Mario yang akhirnya tahu bahwa kau sering mengadu domba, membuatnya berselisih dengan Akbar.

Johan terkekeh di tengah obrolannya.

Atau Jessica, anak baru di bagian SDM itu yang saat ini tengah menjadikanmu bahan gunjingan di kantor; tanganmu yang kurang ajar tak akan lagi mampu menjamah bokongnya yang kau bilang aduhai.

Johan tertawa terbahak-bahak, menampar meja dengan keras di tengah derai tawanya.

Tawamu yang meledak nyaring seperti tawa raja itu tak bakal lagi terdengar di kantor ini. Jika kau raja, tawa itu akan tergantikan dengan tawa rakyatmu yang telah lama mengidamkan keruntuhanmu. Kau akan jatuh sejatuh-jatuhnya. Tangga reyot yang kau susun tinggi itu akan membuat jatuhmu semakin menyakitkan, martabatmu akan hancur berkeping-keping. Kau akan kalah. Telak. Rasa malu itu akan membuatmu sembunyi lama sekali hingga kau merasa perlu membuat liang di tanah.

“Oke .... Sip.” Johan mengakhiri obrolannya dengan Pak Wiky. Seketika omong kosong di benakku terhenti.

“Sampai mana tadi? Oh, kamu mau nginep, ya?”

“Ya, Pak.”

“Jadi kesimpulannya. Kamu beresin editing kamu selama dua hari, lembur, nginep di kantor. Haryono kita lunasi tapi kamu jamin dia bisa beres cepat, ya!” Johan memberikan penekanan dengan mengangkat jari telunjuknya.

Aku hanya membalasnya dengan gumaman. Ia tampak tidak keberatan dengan responsku. Entah apa yang dibicarakannya dengan Pak Wiky, sebegitu cepat mengubah mood-nya menjadi ceria seperti ini.

“Oke, lanjutin lagi kerjaan kamu,” ia mengarahkan telapak tangannya pada pintu keluar.

“Baik, Pak,” kataku seraya beranjak dan berbalik.

Dengan enteng aku berjalan menuju pintu, maka sesaat setelah aku keluar dari ruangannya, senyumku merekah. Ini kali pertama seseorang keluar dengan senyuman setelah menghadapi pengadilan Johan. Kulihat Eva tengah berdiskusi dengan Mario. Mereka menatapku heran. Pandangan mereka mengikutiku seolah sedang menyaksikan hal paling aneh dalam hidup mereka. Kukedipkan sebelah mataku dan mereka pun ternganga.

Oke, jadi begini rencananya ... malam ini aku akan menginap di kantor, mengerjakan sisa suntinganku, dan pastinya menyempatkan diri untuk mencari “kotak pandora” di ruangan Johan. Seperti biasa, seperti malam-malam sebelumnya semenjak aku memiliki kelebihan ini, aku tak akan tidur. Ini hari ketiga “kesadaran tanpa jeda” dalam hidupku.
....

Selasa, 28 November 2017

Sawang - OUTLINE




M

alam pekat. Sebuah rumah tampak berdiri kokoh. Tak terlalu besar. Tepat di depannya, sepetak halaman kecil yang ditumbuhi rerumputan dan bunga-bungaan sekadarnya, menjadi pemanis di bagian muka. Sepertinya telah berminggu-minggu mereka tak terurus dan ditelantarkan. Rumah itu bukan rumah tua yang usang, ia rumah yang cukup nyaman untuk ditinggali.

Selangkah dari tepi halaman yang tak seberapa luas itu, terdapat sepetak teras. Sementara pintu utama merupakan pintu dengan ukuran yang cukup besar dengan desain sederhana, berpadan dengan sepasang jendela yang mengapitnya di kedua sisi secara simetris. Di lantai dua, sepasang jendela lainnya berbentuk ramping dengan kaca bermozaik warna-warni menambah sentuhan estetis pada bagian atas bangunan.

Suara jangkrik nyaring. Bulan terang, tapi ia hanya mampu membuat pantulan cahaya lembut pada dedaunan, pohon, rumput, dan tentu saja, pada bangunan rumah itu yang sunyi dan redup.

Sawang tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Pria muda itu terenyak kaget. Sebentar ia terdiam. Ruangan tempat dia beristirahat itu bernuansa remang-remang. Wajah Sawang memperlihatkan kekalutan. Malam itu, Sawang terbangun dengan napas memburu.

***

Malam berikutnya. Rerumputan dan bunga-bungaan di halaman masih membisu. Dingin dan tak bergairah. Seolah mereka menampakkan warnanya hanya ketika cahaya matahari mencumbui bumi. Di dalam, seekor serangga terbang menari di dekat bola lampu yang terpasang pada lelangit di lantai dua. Kepak sayapnya sesekali menyentuh plafon, menimbulkan suara yang mengganggu. Tapi Sawang tak menghiraukannya, ia masih asyik bersandar ke dinding sambil membaca sebuah buku.

Ruangan di lantai dua itu cukup lapang; terdapat void (area kosong) di sisi lainnya, menyediakan pemandangan yang mengarah langsung ke lantai satu. Sawang menjadikan lantai dua itu sebagai ruang rekreasi. Ia bahkan sering tidur di ruangan itu. Saat ini, ia terpekur pada sebuah buku: Melawan Tipuan Setan. Ekspresi Sawang serius, mencerna kata demi kata, meresapi setiap pesan dan maknanya. Hening, hanya Sawang seorang diri di rumah itu.

Namun, Sawang lantas tersentak. Suara yang entah apa—seperti suara benda jatuh atau dilempar—terdengar dari luar rumahnya. Senyap, cekam siap menerkam. Pikirannya menolak mentah-mentah kalau itu hanya ulah seekor kucing gelandangan.

Sawang berdiri, lantas berjalan menuju tangga. Menjejak anak tangga satu per satu. Bayangannya yang tampak pada dinding mengikutinya. Ia bergerak pelan dan tenang seakan tak ingin tepergok. Tangan Sawang memegangi railing tangga, meliuk mengikuti sudut kelokannya. Walaupun batinnya tak tenang, ia tak sampai mencengkeram pegangan tangga itu. Ia berjalan menapaki tangga dengan luwes.

Sesampainya di lantai satu, Sawang mulai berjalan mengendap. Pelan-pelan ia mendekat menuju jendela di ruang tamu. Di luar bagai tak ada cahaya, nyaris gulita. Ia dekatkan kepalanya ke jendela. Mata Sawang berusaha mencari sesuatu yang ia pun tak yakin sedang mencari apa. Dahinya berkerut. Ia mengamati, menyapu pandangannya dari kanan ke kiri. Lalu pada satu titik, ia terperanjat.

Ada sosok yang tengah berdiri di sana. Laki-laki? Tak jelas. Ia berdiri di jalan, tak terlalu jauh dari halaman depan rumahnya. Manusiakah? Sawang menelan ludah. Ia menundukkan kepala sejenak untuk berpikir, mencoba berkompromi dan meredakan rasa kaget itu. Sesaat kemudian, ia kembali melihat ke arah luar. Sosok itu masih berdiri di sana. Seperti apa rupa atau wajahnya, ia tak tahu persis. Tapi, Sawang menaksir bahwa sosok itu merupakan bentuk seorang laki-laki. Sawang lalu mengalihkan pandangan ke jam di belakangnya, jam bundar itu menempel di dinding dekat tangga: 00.30. Namun saat ia kembali mengarahkan pandangan ke luar .... Sosok itu tak lagi ia temui di tempatnya tadi. Raib. Sawang kalut. Kini nyata benar kalau ia merasa takut. Maka mulai saat itu, pikiran Sawang sering tak tenang.

***

Malam kesekian setelah “penampakan” sosok itu, Sawang kembali terbangun dengan perasaan gundah. Ia lalu memutuskan untuk membasahi tenggorokannya dengan air putih. Saat ia menuju dapur, Sawang tiba-tiba menghentikan langkahnya, telinganya menangkap bunyi yang terdengar cukup akrab. Ya, suara itu. Ia mendongak ke atas. Seekor serangga tampak bermain-main dengan bola lampu di lantai dua. Mungkin masih serangga yang sama. Sudah berapa malam atau berapa kali ia menyatroni rumah itu? Sawang tak ingat dan tak mempermasalahkannya. Ia anggap serangga itu teman. Sawang tersenyum kecil.

Sawang melanjutkan langkahnya menuju dapur. Diambilnya sebuah gelas. Ia kemudian menggelontorkan air dari keran dispenser. Saat ia hendak meneguk air di dalam gelas, suara gonggong anjing mengagetkan Sawang, anjing di sekitar sana tiba-tiba menyalak dan menggonggong liar. Secara spontan, Sawang menengok ke jendela, pandangannya menerawang ke luar. Denah rumah itu menempatkan ruang tamu, sebuah kamar, dan dapur berdampingan. Tata ruang itu membuat orang yang berada di dapur dapat melihat dengan jelas bagian depan rumah, memandang dari jendela dapur yang langsung mengarah ke luar.

Saat Sawang melihat ke luar melalui jendela dapur, ia terperanjat. Sawang kembali melihat sosok misterius di depan rumah itu. Kini ia berdiri lebih dekat daripada sebelumnya, di dekat halaman, di samping tanaman yang tumbuh hampir setinggi orang dewasa. Kali ini, Sawang yakin benar bahwa itu adalah sosok yang menyerupai seorang laki-laki. Sawang juga tahu kalau itu masih sosok yang sama. Tubuhnya terlihat tegap, sedikit gempal. Sawang ternganga. “Siapa di luar ...” gumamnya lemah.

Sawang beringsut mundur. Meletakkan gelas dengan agak serampangan di sisi wastafel, lalu berbalik dan berjalan sambil menundukkan kepala dengan tatapan kosong. Ia menuju tangga hendak ke lantai dua. Sawang tak tahu mengapa ia memutuskan untuk bergerak ke lantai dua. Tak ada alasan pasti untuk itu. Satu hal yang Sawang tahu, ia ingin menjauh dari sosok yang tengah berdiri di luar.

Maka pada anak tangga kesekian, Sawang terdorong untuk menengok kembali ke arah jendela dapur. Lebih karena penasaran yang dipicu kenekatan. Benar saja, sosok itu masih berdiri di sana. Sawang memicingkan mata, tertegun sejenak. Memperhatikan baik-baik sosok itu. Setelah kembali tersadar dengan situasi yang tengah ia hadapi, Sawang buru-buru melanjutkan langkahnya menaiki tangga. Sesampainya di lantai dua, Sawang berjalan ke ujung ruangan, tampak sehelai matras tergeletak di sana.

Sawang merebahkan diri, memutar badan hingga sepenuhnya menghadap ke tembok. Ia meringkuk. Perasaan-perasaan ganjil mulai menjamahi Sawang. Ia terjaga sepanjang malam dengan kecamuk di pikirannya. Sementara, serangga itu masih terbang seperti orang mabuk, menari, menabrak-nabrak plafon dan bola lampu, menimbulkan suara berisik yang mengganggu.

***



Malam berikutnya, Sawang tak menyangka ia bakal dipaksa menyerah. Saat itu, ia tengah bersantai di sebuah sofa untuk melanjutkan bacaannya, Melawan Tipuan Setan. Tapi tiba-tiba, ia tersentak oleh suara-suara dari arah luar. Apalagi ini?

Ia melempar buku itu ke sofa. Sawang segera beranjak menuju jendela. Beringsut, mengendap. Akhirnya ia sampai juga ke dekat jendela di kamar itu, lalu menengok ke arah luar. Sawang tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia melihat dua sosok yang tengah berdiri di luar sana. Penampakan malam itu terlihat lebih dramatis. Salah satu dari dua sosok itu berpendar, mengeluarkan cahaya lembut kehijauan. Cepat-cepat Sawang membalikkan badan, ia merosot dan terduduk di lantai. Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok, persis di bawah jendela itu. “Cukup, gue mesti pindah dari rumah ini!” kata Sawang kesal. Napasnya terengah. Keringat dingin membasahi keningnya. Sejurus kemudian, Sawang berdiri, ia memutuskan untuk pindah dari rumah itu. Malam itu juga.

Di luar rumah. Tepat ketika Sawang duduk di lantai dan tersandar pada tembok setelah menyaksikan keanehan yang menurutnya kian menggila, dua orang tengah berdiri di luar, memperhatikan rumah itu dengan jantung berdebar.

“Bang, kejadiannya pasti malam-malam. Jam seginian, lah,” kata seorang pria berpostur tegap dan sedikit gempal.

Orang yang dipanggil “abang” itu hanya mengangguk. Ia mengamati rumah itu dari sudut ke sudut, dari atas sampai bawah, seperti tengah menilai orang asing yang berpenampilan tak wajar.

“Kalau siang, sih, nggak ada apa-apa, Bang. Tapi kalau malam, suasananya langsung nggak enak. Lampu suka nyala sendiri. Barang-barang kadang hilang, taunya pindah tempat. Suara-suara di kamar mandi. Lama-lama saya nggak tahan,” lanjut pria itu.

“Dia takut matahari. Kalau siang dia sembunyi, mungkin istirahat juga. Malam baru dia ‘bangun’,” kata lawan bicaranya dengan nada datar.

Pria di sebelahnya hanya mengangguk, mulutnya mengerucut. Seolah paham dengan asumsi itu.

“Saya udah pastiin, Bang. Rumah ini memang ada yang ngisi. Abang kan orang pintar, pasti bisa ngerasain, kan?” kata si pria gempal.

Flashback 1...

Pria gempal itu sampai di depan rumah miliknya yang telah berminggu-minggu ia tinggalkan. Memperhatikan isi rumah dari luar. Lantai dua rumah itu temaram oleh cahaya dari dalam ruangan. Mengherankan. Ia membuang ke jalan sebuah kaleng bekas minuman soda yang isinya telah habis ia minum, menimbulkan bunyi kelontang yang cukup nyaring. Ia memperhatikan lagi dengan teliti rumah itu. Matanya awas, memaku ke arah jendela depan di lantai satu. Lalu beberapa saat kemudian, ia bergidik.

Flashback 2 ...

Larut malam lainnya, pria itu kembali mengamati rumahnya. Anjing menggonggong tak mau diam. Pria itu tak mengacuhkannya. Wajar kalau anjing tak bisa tenang, mungkin mereka merasakan kehadiran setan, pikirnya. Kali ini ia mengambil posisi yang lebih dekat ke halaman. Ia berdiri di samping sebuah tanaman setinggi dadanya. Lalu, seketika ia mengalihkan pandangan ke arah dapur saat ia mendengar suara-suara gaduh dari dalam sana. Ia berhasil memberanikan diri, tetap berdiri di sana sambil memperhatikan sosok yang bergerak-gerak di dalam rumah.

Back to present ...

“Gimana, Bang?” tanya si pria gempal kepada orang di sebelahnya.

“Ya, kita usir dia sekarang, bahan-bahannya udah saya bawa, kok.”

Mereka berjalan menuju pintu dengan langkah meyakinkan. Pria yang dipanggil “abang” memegang sesuatu yang terbungkus kain kumal di tangan kanannya. Saat mereka hampir mencapai pintu depan, ruangan di lantai dua tak lagi gelap. Dari dalam, cahaya lampu berkedip-kedip tak keruan. Sawang terusik, ia panik![Luttfi Fatahillah]





~ END ~

Selasa, 14 November 2017

Pesta Itu Bernama Ubud Writers & Readers Festival




Saya merasa beruntung karena berkesempatan untuk menjadi tamu di Ubud Writers & Readers Festival yang dihelat pada 25-29 Oktober tahun ini. Bagi para pegiat seni, sastra, dan literasi, festival ini bisa jadi sudah mereka kenal atau minimal pernah mereka dengar. Kali pertama saya menaruh perhatian pada event tahunan ini kira-kira pada 2010 (saya masih bekerja di penerbit konvensional), ketika seorang penulis memberitahu saya bahwa dia diundang ke UWRF sebagai pembicara. Dari penjelasannya, saya menangkap kesan bahwa festival tersebut merupakan salah satu gelaran literasi yang cukup bergengsi. Walaupun demikian, dari tahun ke tahun saya tak pernah sengaja mengikuti kabar tentangnya. Hingga enam tahun kemudian, penerbit tempat saya bekerja bermitra dengan founder festival tersebut—Yayasan Mudra Swari Saraswati. Kami menerbitkan buku antologi, berisi kompilasi tulisan lintas-genre dari para penulis muda; mulai puisi, prosa, cerpen, esai, petikan novel, hingga petikan naskah drama yang lolos kurasi untuk dimuat dalam antologi resmi Ubud Writes & Readers Festival. Tahun ini, kami kembali berkolaborasi. Saya pun kecipratan berkahnya dengan diundang untuk menghadiri festival tersebut. Dengan mengantongi akses 4 day free pass, saya bebas mengikuti semua acara yang digelar di sana. Bahkan ikut diundang pada gala opening pada malam tanggal 24 Oktober.

Berkelana di UWRF ternyata menghadirkan perasaan yang menggelitik. Aneka ragam manusia dari berbagai latar belakang yang telah menumpahkan kerja kerasnya pada dunia seni dan literasi tampil menjadi panelis, membagi ilmu dan wawasannya. UWRF memang tak hanya soal buku, sastra, jurnalistik, atau hal-hal yang berbau tulis-menulis. UWRF semacam hajat besar, sebuah wahana apresiasi terhadap seni dan kreativitas. Musik, lukisan, fotografi, drama, bahkan kuliner turut menjadi menu yang ditawarkan dalam festival ini. Tak heran, setiap tahun festival ini selalu ramai dikunjungi tamu-tamu yang datang dari berbagai tempat, dalam maupun luar negeri. Semua mata acara tersebut tersaji dalam bentuk event-event berlabel Talk Show, Workshop, Book Launching, Food & Ubud Culture, After Dark, Free Event, Pameran, dan Satellite Event.

Mereka yang datang tak merasa “sayang” dengan biaya yang harus dikeluarkan. Semua itu digantikan oleh berbagai bentuk diskusi dan sajian hiburan yang dapat memuaskan dahaga intelektualitas mereka. Di sana, saya bertemu pula dengan seorang perempuan dan penulis asal Sumba. Ia harus menempuh jarak ratusan kilometer jauhnya untuk sampai ke Ubud. Tentu tak sedikit ongkos yang harus dia keluarkan, belum lagi biaya menginap, makan, dan lain sebagainya. Bagi saya, hal ini pun istimewa, sebab sekilas-pandang, saya perkirakan peserta atau pengunjung festival ini 80% adalah warga asing. Peserta lokal hanya sebagian kecil saja, antara memang benar-benar peserta atau “hanya” staf panitia. Menghadiri UWRF ibarat sebuah rekreasi yang dapat menambah wawasan kita—atau bahkan kepekaan seni—melalui kemasan-kemasan acara sederhana yang tetap berbobot. Saya seolah berada entah di mana; alamnya di Ubud, namun dengan mudahnya kita bisa menemukan gerombolan warga asing yang sedang becengkerama, berdiskusi, atau tengah berjalan kaki menuju event yang ia tuju. Di sini, kami ibarat lebah-lebah di padang bunga. Setelah selesai mengambil nektar dari satu pangkal kelopak, kami bergegas terbang lagi menuju bunga yang lain.

Tersedia lebih dari 200 butir acara dalam gelaran ini (saya masih takjub dengan para panitia, bagaimana mereka mengatur acara demi acara dan memastikan semua berjalan dengan apik). Acara tersebut dilaksanakan secara pararel. Format ini membuat kita harus pandai memilah, acara mana saja yang akan kita ikuti. Sebab tak jarang, ada event-event menarik yang waktu pelaksanaannya bentrok. Mau tak mau kita harus memilih, datang ke diskusi tentang proses kreatif penulisan novel kriminal bersama penulis buku best-seller Australia atau menyimak cerita seorang jurnalis yang sering diterjunkan ke wilayah konflik. Begitu kira-kira gambarannya. Sebenarnya semua acara menarik, semua acara sayang untuk dilewatkan. Tapi di situlah gregetnya. Kita mesti menentukan dan mengatur jadwal harian kita, mana saja event yang akan kita ikuti (dan tentunya yang kita lewatkan sebagai konsekuensi pilihan kita). Untungnya, kita dibekali sebuah program book sebagai buku panduan kita selama di sana. Di dalamnya termuat jadwal acara berikut deskripsinya dengan penyajian yang praktis sekaligus menarik—sangat membantu.

Pada UWRF kali ini, Yayasan Mudra Swari Saraswati juga menganugerahkan lifetime achievement kepada novelis legendaris N.H. Dini. Beliau dinobatkan sebagai penulis inspiratif karena mampu menyarikan ide-ide yang dinilai progresif dalam karya-karya novelnya. Seremonial pemberian penghargaan itu dilakukan saat Gala Opening. Malam itu, Pierre Coffin, sang putra, menyodorkan lengannya untuk menggantikan tongkat sang Ibu, memandunya sampai ke atas panggung (saya baru tahu beberapa hari sebelum acara bahwa Pierre Coffin adalah putra N.H. Dini). N.H. Dini menerima penghargaan atas kontribusinya yang ia wujudkan dalam karya-karyanya, disaksikan tamu undangan dan hadirin Gala Opening, di antara mereka duduk pula perwakilan kedutaan-kedutaan negara sahabat dan pejabat kementerian pariwisata RI.

Sejumlah lokasi dipilih sebagai venue untuk menggelar acara-acara tersebut. Venue-venue yang dipilih juga terbilang unik, mulai museum, kafe, saung, joglo, hingga puri yang juga biasa disebut “Ubud Palace” atau Puri Ubud. Suatu waktu, saya baru saja selesai mengikuti kegiatan di Museum Neka untuk menyaksikan sesi sharing Pierre Coffin, topiknya tentang kisah di balik penemuan karakter Minion “Despicable Me”. Ketika saya berjalan menuju lokasi acara berikutnya—saat itu kebetulan saya memarkir motor sewaan di tempat lain—seorang perempuan berlari tergopoh-gopoh dari arah berlawanan. “Anda baru dari Neka?” (dia mengetahui saya pengunjung UWRF dari nametag yang saya kenakan, semua orang mengenakan nametag di acara ini). Saya mengiyakan. Lalu dia bertanya lagi apakah acara Pierre Coffin sudah selesai. “Ya, baru saja selesai. Sekarang mereka sedang sesi tanda-tangan,” jawab saya. Ia lalu menampakkan ekspresi kecewa. Terlambat, pikirnya. Sambil mengucapkan terima kasih ia pun berlalu, melanjutkan jogging-nya menuju Museum Neka. 

Pada hari pertama festival digelar, saya menghadiri sesi sharing N.H. Dini. Sebuah aula yang “terbuka” dengan ditopang tiang-tiang dan selapis dinding di latarnya, telah disesaki peserta bahkan sejak acara belum dimulai. Selama acara berlangsung, entah itu penulis, jurnalis, atau sekadar penikmat literasi, dengan antusias mendengar cerita N.H. Dini. Baginya, menulis adalah upaya peninggalan jejak dan proses pengawetan ide. Suatu saat kita pasti akan wafat, tapi tulisan dan ide-ide kita akan tetap hidup selama ada yang membaca dan mengapresisasinya. N.H. Dini yang usianya sudah terbilang senja, masih mempertahankan selera humornya. Hadirin beberapa kali tertawa, salah satunya saat dia melontarkan lelucon bahwa ia menikahi “stranger”. Secara saklek, “orang asing” jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi stranger, padahal padanan “orang asing” yang tepat dalam konteks tersebut adalah foreigner, sementara stranger adalah orang asing dalam artian “orang yang tidak dikenal”. Panitia saat itu sebenarnya sudah mendudukkan seorang penerjemah di sebelah beliau. Namun karena dia bersikeras ingin memaparkannya ceritanya dalam bahasa Inggris, alhasil sang penerjemah hanya sesekali menerjemahkan atau memberikan penjelas. Memang begitulah “gaya” diskusi di UWRF, sederhana, cair, dan santai.  

Momen yang tak kalah menariknya ialah ketika menyaksikan diskusi yang juga diisi oleh para pegiat sastra dan literasi dalam negeri. Penulis-penulis kondang pun ikut meramaikan kegiatan ini. Di antara mereka ada Seno Gumira Ajidarma, Joko Pinurbo, Djenar Maesa Ayu, Trinity, Intan Paramaditha. Leila S. Chudori, Debra Yatim, dan nama-nama lain yang terbilang kawakan pun ikut berbagi. Belum lagi, sesi diskusi yang mengundang para pembicara dari kalangan penulis muda juga seolah menyempurnakan komposisi para pembicara. Karya para penulis muda inilah yang dimuat dalam antologi UWRF yang sejalan dengan tema besar acaranya, mengambil Origins sebagai judul antologi tersebut.
Emerging Writers UWRF 2017

Soal antologi, buku ini merupakan buah dari program Emerging Writers yang diprakarsai oleh UWRF sendiri. Setiap tahun, UWRF membuka kesempatan bagi para penulis tanpa batasan usia maupun kriteria khusus, untuk mengirimkan karya-karyanya. Setiap karya yang diterima panitia akan dikurasi. Tersebutlah dua sosok kurator pada UWRF kali ini, yakni Seno Gumira Ajidarma dan Leila S. Chudori. Karya-karya tersebut kemudian dinilai dan diseleksi. Menurut keterangan yang disampaikan oleh Janet DeNeefe (founder Yayasan Mudra Swari Saraswati, beliau juga merupakan pembina sekaligus Pengarah tim UWRF), naskah ajuan yang masuk berjumlah lebih dari 900. Sungguh, suatu jumlah yang tak main-main. Dari 900-an naskah itu, hanya terpilih 15 naskah untuk dimuat dalam antologi UWRF. Terbayang betapa ketat penialaiannya dan betapa beruntungnya mereka yang berhasil lolos untuk diundang ke Ubud. Emerging Writers yang terpilih akan dipasangkan dengan patron mereka masing-masing, diberi tiket pesawat, disediakan akomodasi dan uang saku selama di Ubud. Asyik, ya? Di UWRF, mereka diberikan sesi untuk membagi pengalaman dan ide-idenya, semua yang orisinal dari tempat mereka berasal. Saya mengikuti beberapa sesi yang diisi oleh para penulis Emerging Writers. Salah satu sesi yang menurut saya cukup berkesan adalah sesi Morika Tetelepta dari Maluku. Tak hanya jago menulis, ia pun pandai bermusik lewat aliran hiphop dan rap. Namun yang membuatnya semakin unik ialah, dalam lagunya ia menyematkan pesan tentang kejujuran bahwa apa yang tampak itu tak selalu nyata; mereka yang bernyanyi belum tentu bahagia, bisa jadi mereka menyanyi justru untuk melupakan kesedihan mereka.

Sebagai perwakilan penerbit, saya hadir di acara launching buku antologi Origins. Bertempat di Casa Luna, sebuah kafe yang lumayan unik; berdiri tepat di atas sebuah anak sungai, dilengkapi pemandangan alami yang dramatis berupa pepohonan yang serba hijau beserta akar belukarnya. Di lantai basement itu, kami semua duduk di atas anjungan yang sesungguhnya adalah “jembatan”, tepat mengangkangi anak sungai di bawahnya. Desain interiornya cukup eksotis, lukisan seorang penari Bali yang berukuran besar menjadi fokus, terpajang di salah satu sisi. Ruangan yang tak terlalu luas itu perlahan dipadati oleh hadirin: panitia, para patron, sponsor, dan tentunya para Emerging Writer si empunya lakon. Janet Deneefe juga hadir, memberikan sambutan dan ucapan selamatnya kepada para penulis. Pada satu sesi sebelum pembacaan karya oleh perwakilan penulis, Wayan Juniarta—salah seorang manajer kegiatan—menyebutkan nama dan meminta satu per satu pihak yang terlibat dalam penggarapan naskah tersebut agar maju ke atas panggung untuk diberikan applause dan foto bersama.

Di bagian penutup, empat orang penulis perwakilan membacakan karyanya. Dua buah puisi dan dua buah esai. Terpancar raut wajah semringah dan penuh gairah dari para penulis. Jelas, ini bukan launching biasa, mungkin pengalaman sekali dalam seumur hidup bagi mereka. Setelah acara demi acara tuntas, kami pun beramah tamah, mengobrol, sekadar bertukar kartu nama, atau obrolan serius lainnya menyangkut proyek penerbitan dan rencana-rencana mereka. Sebuah pengalaman berharga bagi saya untuk mengikut rangkaian acara tersebut dan bertemu dengan orang-orang luar biasa seperti mereka.

Tak terasa, enam hari saya berada di Ubud untuk mengikuti UWRF. Banyak pelajaran yang dapat saya petik, banyak pula pengetahuan yang ikut membenam di benak saya. Pada hari terakhir menjelang senja, panitia sudah berbenah, mengemasi barang-barang. Kursi-kursi, meja-meja, x-banner, dekorasi, bahkan “markas” media center pun mulai dirapikan. Itu semua menandai bahwa pesta literasi tersebut akan segera diakhiri. Seiring dengan hari yang semakin gelap, satu per satu venue menjadi sepi. Namun, bukan berarti semuanya selesai sampai di sana. Kesibukan justru beralih ke Blanco Renaissance Museum. Di sanalah Closing Ceremony yang meriah digelar. Pukul tujuh lebih sedikit, tarian pembuka dipentaskan. Pada malam penutupan itu tumpah ruahlah suka-cita para hadirin, pertunjukan tarian tradisional dan musik alernative-pop pun memberikan jejak yang penuh kesan bagi semua tamu. Pesan penyelenggara pun tak lupa disematkan untuk mengingatkan hadirin pada UWRF edisi berikutnya. Mereka memulainya dengan sangat baik dan menutup semuanya dengan manis.

Kendatipun saat itu status Gunung Agung bagi banyak orang masih membuat galau, tak surut minat para peserta dan pembicara untuk menghadiri festival tahunan di Ubud itu. Bahkan, Nuri Vitachi—ketua asosiasi penulis Asia Pasifik—pada Gala Opening dalam sambutannya menyebutkan bahwa mereka tak gentar untuk hadir ke Ubud, karena semangat merekalah Gunung Agung enggan meletus, katanya berseloroh. Ia memberikan apresiasi sekaligus motivasi bagi seluruh elemen yang terlibat. Ya, walaupun masih diterpa kekhawatiran erupsi Gunung Agung (bahkan panitia menganjurkan kepada seluruh peserta dan pembicara untuk membawa jas hujan dan masker), antusiasme semua orang tak mampu diredam. Acara berlangsung lancar, meriah, dan kaya makna. Sebagai sebuah ajang apresiasi literasi, seni, dan sastra, UWRF merupakan alam permai yang setiap tahunnya menggoda kita untuk berkunjung dan menjelajahinya; baik sekadar menikmati atmosfernya maupun memetik buah-buahan segar yang tumbuh subur di atas tanahnya. Bagi saya pribadi, sungguh saya tak kapok datang ke sana lagi. (Luttfi Fatahillah).