Senin, 26 Oktober 2015

Antara Aku dan Si Tikus Kecil

Malam itu, seekor tikus kecil masuk begitu saja lewat celah pintu kamarku yang sempit—pintu kamarku sudah tak sebagus dulu, ada celah di pojok bawahnya. Si tikus berlari masuk dari luar kamar lewat celah itu lalu berbelok menyusuri tepian dinding. Sempat kukira itu cecak, karena pernah  beberapa kali aku melihat cecak yang terjatuh atau mungkin sengaja menjatuhkan diri. Tapi begitu aku sadar bahwa cecak tak secepat itu larinya—dan tentu saja mereka tak berwarna hitam—langsung aku tersentak dan berdiri di atas kasur. Si tikus juga kaget, kini dia bersembunyi di belakang ranselku yang tegeletak di lantai. Aku masih ternganga, memandangi daerah di sekitar ransel itu, berjaga-jaga kalau si tikus berlari menuju ke arahku.
Tak terjadi apa-apa, kuberanikan diri melangkah dan mendekati ranselku. Saat aku melangkahkan kaki, si tikus sepertinya diam tak berani bergerak … tapi pada langkah kedua, pijakan kakiku membuat lantai kamar berdecit. Maklumlah, aku tidur di loteng yang berlantai kayu. Sontak saja, si tikus sepertinya kaget, dia berlari sambil mencicit. Aku pun hampir melompat, tapi untunglah si tikus tidak berlari ke arahku. Dia berlari cepat-cepat dengan kakinya yang kecil-kecil itu menyusuri tepi dinding dan bersembunyi di belakang lemari pakaianku.
            Episode tadi terulang, yang berbeda hanyalah tempat sembunyi si tikus. Tentu saja, seekor tikus yang bersembunyi di belakang lemari pakaian tidak lebih menyenangkan ketimbang tikus yang bersembunyi di belakang ransel, yang ranselnya bisa dengan mudah kupindahkan sehingga aku dan si tikus bisa langsung bertatap muka. Ya, sekarang si tikus bersembunyi di belakang lemari pakaianku. Kini aku tak sanggup beranjak ke mana-mana dan terpaksa harus memperhatikan lekat-lekat untuk mengantisipasi gerak-gerik si tikus, khawatir dia malah masuk ke lemari pakaianku atau salah satu rak di sana. Aku tak boleh pergi dari kamarku sebelum kupastikan si tikus benar-benar pergi dari lemari pakaianku. Celakanya, pintu lemari pakaianku juga punya celah dan laci di bawahnya sedikit terbuka. Si tikus bisa saja merayap di lemari pakaian itu lalu karena ketakutan dia malah masuk ke sana dan bersembunyi di antara tumpukan baju, celana, kaus kaki, atau pakaian dalamku.
Bagaimana kalau si tikus ternyata memang hamil dan malah beranak di lemariku?
Aku harus bertindak supaya si tikus benar-benar menjauhi lemari pakaianku. Akhirnya, aku berjalan pelan-pelan mendekati lemari pakaian. Belum terjadi apa-apa. Aku tahu benar si tikus pun sedang siaga. Tinggal selangkah lagi menuju lemari pakaian. Kuangkat kedua tanganku dan meraih kedua sisi lemari pakaian lalu kugoncang-goncangkan sedikit. Tiba-tiba, kudengar suara-suara di belakang lemari pakaian, si tikus panik dan berlari berputar-putar di belakang lemari pakaianku. Aku segera bertolak dan melompat menjauhi lemari, lalu berbalik 180’ dan kembali memperhatikan lemari pakaianku. Aku diam dan fokus. Tetap berkonsentrasi, menyiapkan rencana pelarianku bila si tikus lari terbirit-birit dan justru mendekatiku. Suasana senyap, agaknya aku dan si tikus kali ini sama-sama mematung.
Akhirnya, beberapa saat kemudian, suara langkah kaki kecil yang berlari di atas lantai kayu terdengar. Si tikus tunggang-langgang, aku dibuat kaget melihatnya. Kini si tikus bersembunyi di belakang komputerku, dan jelas sekali kudengar ia menapaki casing komputerku dan kulihat kabel keyboard bergoyang-goyang. Si tikus sedang memanjat komputerku rupanya. Tapi tiba-tiba, “pluk”, si tikus terjatuh. Aku tak melihatnya tapi kupastikan dia terjatuh di belakang CPU. Seperti kesetanan, si tikus pontang-panting dan mencicit. Aku takut, mundur ke belakang beberapa langkah, siap ambil jurus pamungkas menuju pintu kamar. Tapi tiba-tiba, tak disangka si tikus menampakkan diri, beringsut menyembul dari belakang CPU, memperlihatkan sosoknya yang hitam keabu-abuan. Kini, ia seperti memikirkan sesuatu. Alih-alih lari, ia malah berjalan tenang menampakkan dirinya—kini ia diam di samping speaker dan menatap ke arahku. Aku terkesima dengan pemandangan itu.
Aku menatapnya juga, jadinya seperti sebuah duel. Aku tak tahu apa ia mau lari atau apa. Kalaupun lari, mau lari ke manakah dia? Sebenarnya ada lubang di atas plafon kamarku. Untuk naik ke sana ia bisa memanjat kabel listrik yang menjuntai pada struktur kayu di kamarku ini. Dari sana, ia bisa memanjat dinding dan naik ke plafon. Tapi yang kutakutkan, ia malah berlari ke arahku lalu aku lari dari kamar. Jika itu terjadi, begitu nanti aku masuk lagi ke kamarku, aku tak akan tahu si tikus ada di mana. Bisa-bisa dia malah sembunyi di tempat yang tak kuperkirakan sama sekali dan membuat “kejutan manis di akhir acara”. Maka dari itu, aku hanya bisa berharap si tikus cukup pintar dan aku cukup berani untuk tetap bersamanya.
Ternyata semuanya kacau-balau, si tikus malah mendekatiku, tentu saja aku gelagapan dan akhirnya melompat lalu berlari menuju pintu dan keluar kamar terbirit-birit. Sempat kulihat si tikus tersentak pula kemudian berlari ke belakang komputer, sembunyi lagi. Kami berdua sama-sama takut. Aku tak tahu siapa yang lebih takut, si tikus atau aku.
Sekarang aku berada di luar kamar. Celakalah kalau sudah begini. Aku tak akan tahu apa yang diperbuat si tikus di kamarku. Baru saja kusadari bahwa si tikus semakin terperangkap di kamarku. Aku bisa saja menaruh racun tikus atau lem tikus di sana, tapi aku tidak tega. Tikus—seperti semua binatang lainnya yang punya muka—bisa “berekspresi” dan kelihatannya turut merasa seperti manusia. Aku tidak pernah tega menyakiti binatang. Membayangkan seekor cecak tegeletak tak berdaya pun bisa bikin aku membayangkan hal yang menyedihkan. Kini, si tikus kecil itu, yang sebenarnya seperti tikus-tikus lainnya, punya wajah yang sebetulnya tak terlalu seram. Cuma sayang sekali mereka bergaul dengan sampah dan kotoran, warna tubuhnya pun hitam, jadi kesan lucu dan bersahabatnya hilang. Tapi yang bikin aku tak tega terhadap mereka cuma ekspresinya itu, pastilah mereka juga merasa, sebab mereka bisa berekspresi—menampakkan raut muka sedih, ketakutan, dan segala macam perasaan lainnya. Jadi, aku tak mungkin menjebak si tikus dengan lem atau membunuhnya dengan racun. Kupikir, biar saja, toh dia lama-lama juga bakal menemukan jalan keluar. Lagipula, dia sebenarnya takut kepadaku. Sedikit saja aku bergerak dia akan langsung kocar-kacir.
Dengan terpaksa aku kembali masuk ke kamarku. Tapi tentu saja tetap dengan perencanaan matang. Kubuka pintu kamarku, sedikit kuintip seperti apa situasi di dalam. Si tikus belum kelihatan. Aku jalan berjinjit biar si tikus tidak panik. Tapi, satu hal yang pertama kali harus kulakukan ialah menggoyang-goyangkan kasur. Aku tetap tak mau si tikus memberiku kejutan. Jadi, aku goyangkan kasurku menggunakan kaki. Tak terjadi apa-apa, begitu pula saat aku memeriksa bantal dan selimutku. Aman, tak ditemukan tanda-tanda si tikus. Aku agak lega, tapi aku harus memastikan si tikus berada di tempat yang jauh dariku. Kuperhatikan sekelilingku, setiap sudut ruangan dan daerah-daerah yang gelap dan mungkin dijadikan tempat sembunyi. Si tikus tetap tidak terlihat, pun tidak menampakkan diri. Kupikir, mungkin aku tak usah merisaukan dia, sebab dia sendiri begitu takutnya kepadaku. Jadi kalau sama-sama takut, kita pasti saling jaga jarak dan menghindar bila terjadi sesuatu. Biarlah, nanti si tikus pun pasti lari, dia juga bukan binatang buas. Kalau saja kita berdua bisa bicara dari hati ke hati, mungkin si tikus bisa lekas pergi dan aku bisa segera bermimpi malam ini.
Kurebahkan diriku di kasur, memeriksanya sebentar untuk terakhir kali. Lalu, begitu aku hendak menaruh kepalaku di atas bantal, si tikus ternyata muncul lagi di belakang komputerku. Kali aku diam dan hanya memperhatikannya. Ia berjalan pelan, kulihat hidungnya berkedut-kedut, seru membaui macam-macam benda di sekitarnya. Tak kusangka, dia berjalan ke arah dinding tempat kabel listrik berada. Ia memanjatnya cepat-cepat. Terus memanjat memutar dengan pola spiral. Hampir ia terjatuh, tapi untunglah ia masih bisa bertahan. Ia menuju palang kayu di kamarku, memanjat ke atas. Kulihat ia merayap di dinding batu-bata yang kasar, semakin mendekati lubang di plafon kamarku. Kaki depannya menggapai lubang plafon, ia mengangkat badannya dan kulihat kaki belakangnya bergerak-gerak lucu mencoba menaiki tepi lubang. Dan akhirnya, ia berhasil masuk lubang di plafon kamarku kemudian menghilang, tak kudengar pula langkah kakinya di langit-langit.
Aku dan si tikus itu mungkin tak akan pernah kembali bertemu, atau kelak aku akan bertemu anak pinak dan cucu-cicitnya. Mungkin pengalaman ini akan diceritakan kepada anak-anaknya kelak agar berhati-hati jika masuk ke kamarku. Tapi mungkin dia pun menyadari bahwa aku tak mungkin menyakitinya walau aku takut dan jijik padanya. Sebentar, kami berdua tidak pernah saling bicara, kan? Lantas, siapa yang memberitahunya agar dia keluar lewat lubang di plafon kamarku? Oh, barangkali dia memang pernah ke sini lewat lubang itu tapi tanpa sepengetahuanku. Mungkin sehari-hari dia sebenarnya lewat sana. Lucunya, aku harus berterima kasih kepadanya. Jika pertemuan ini tidak pernah terjadi, aku tak akan sadar bahwa lubang di plafon itu bisa jadi tempat jalan keluar-masuk bagi si tikus. Besok akan aku tutup plafon itu dan kuharap si tikus punya jalan lain selain lubang di plafon itu. Atau jangan-jangan dia sudah kapok lewat kamarku lagi atau bahkan telanjur pergi dari rumahku? Biarlah, yang penting aku tidak menjebaknya dengan lem tikus atau membunuhnya dengan racun tikus. Mungkin rumahku yang harus kurapikan dan kubersihkan supaya dia memilih rumah lain yang lebih berantakan untuk tinggal dan mencari makan di sana. Tunggu dulu, apa si tikus bisa mendengarku?[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar