Sabtu, 14 Februari 2015

Hanya 10 Menit (saduran; lupa sumbernya)

Adi masih asyik dengan permainan ular tangganya sendirian, si mbok yang sejak tadi pagi sudah sibuk dengan pekerjaannya kini terlelap karena kelelahan. Jam sudah menunjukkan pukul 21.35, Adi sebentar menengok jam dinding di ruang tengah, sesaat  seperti  teringat sesuatu, lalu kembali melempar dadu. Suara tawa yang terdengar dari TV menjadi ironi yang mewarnai suasana sepi di rumah itu. Malam itu, seperti malam-malam yang lain, Adi sendirian menunggu ayahnya pulang.
Suatu adegan yang lucu di layar TV sempat membuatnya bersuara seperti tawa, tawa yang justru terlihat mengibakan. Adi masih menunggu ayahnya, ada suatu permintaan sederhana buat ayahnya malam itu.
Salah satu pion sudah hampir sampai di  kotak terakhir, namun pintu rumah terbuka sebelum Adi sempat melempar dadunya.  Serta merta air muka yang berseri terpancar dari wajah mungil itu. Ayah sudah pulang !
Dengan segera ia tinggalkan ular tangga yang sedari tadi menemaninya , Adi membereskannya dengan terburu-buru untuk suatu alasan.
“Adi, belum tidur?” kata ayahnya sambil melepaskan jaket dan menaruhnya sembarang di sofa. Adi berlari menuju ayahnya, lalu kedua pelukan itu saling bersambut dengan mesra.
“Belum Yah...” jawab Adi  . Ayahnya mengelus kepala Adi dengan sayang.
“Adi harus tidur, sudah malam...besok kan sekolah.” Kata ayahnya sambil menuntun Adi menuju kamar. Kotak permainan ular tangga yang sedari tadi  Adi  pegang akhirnya ia sembunyikan dibalik punggungnya – urung untuk ia tawarkan. Adi hanya dapat tunduk dan menurut, namun terbersit di benaknya untuk melakukan usahanya yang terakhir. Sebelum ayahnya membuka pintu kamar Adi, Adi nekat mengatakan sesuatu kepada ayahnya.
“Yah...mmm, bisa temani  Adi merapikan kamar?”
Ayahnya belum menjawab, ia hanya merendahkan tubuhnya, lalu dua pasang mata itu berpandangan. Tangan ayahnya sekarang memegang pundak Adi.
“Adi, ayah baru saja pulang kerja, capek. Ini juga ayah masih banyak pekerjaan rumah (sambil menunjukkan setumpuk map kepada anaknya) “ .
Kembali  Adi hanya bisa tertunduk, ular tangga yang ia sembunyikan semakin erat ia pegang dibalik punggungnya.  Sebuah hembusan nafas tanda pasrah dan kecewa cukup menjadi  jawaban  Adi atas kata-kata ayahnya tadi. Namun ternyata ia belum menyerah.
“sebentaar saja ‘Yah...10 menit saja” kata Adi dengan  agak lesu.
Ayahnya kali ini terlihat semakin simpatik. “Ayah kerja seharian juga untuk Adi, ayah dapat uang dari pekerjaan ayah di kantor “ . kali ini ia menyisipkan seulas senyuman diantara kalimatnya. “Adi beli mainan, sekolah, dan keperluan lainnya juga karena ayah membiayai hidup kita dengan pekerjaan ayah sekarang ini ” lanjutnya.
“Adi ngerti kan?!... Ayah harus istirahat, masih ada pekerjaan juga yang belum diselesaikan”. Ia mencoba menangkap kembali perhatian anaknya. “Sekarang waktunya Adi tidur, kamar Adi biar si mbok yang bereskan besok ”. Katanya ringan. Adi langung masuk ke kamarnya, kekecewaan itu membuatnya merasa diabaikan. Ayahnya hanya bisa diam mematung di depan kamar, selanjutnya pintu kamar ditutup dengan meninggalkan pemandangan yang miris.
                Adi melemparkan dirinya ke atas ranjang, ia tak merasa sedih,  hanya kecewa dan marah. Kenapa ayahnya tak bisa mengerti perasaannya saat ini. Ini memang hal yang sudah biasa baginya, tapi anak seumuran Adi juga mengerti bahwa ada sesuatu yang kurang – sesuatu yang ‘salah’.
                Akhirnya ia duduk bersandar di ranjangnya,  memperhatikan ruangan kamarnya (yang sebenarnya tertata rapi). Ia berpikir bahwa ayahnya telah salah memperlakukannya selama ini. Adi terus berpikir di tengah kantuk yang mulai melandanya. Namun sontak ia terbangun setelah teringat suatu benda dalam mimpinya, benda yang merupakan hadiah dari ayahnya. Ia menghempaskan selimutnya yang hangat, lalu berjalan ke arah lemari, pandangannya tertuju pada rak-rak. Lalu ia mengambil sesuatu dari sana, tanpa panjang-lebar – celengan itu ia lempar  ke lantai, gemericing uang receh terdengar ramai di kamarnya, namun tak ada seorang pun yang mendengar, atau malah – tak ada seorang pun yang ambil peduli. Wajah Adi sekarang kembali cerah, secerah ketika ayahnya baru pulang dari kantor beberapa menit yang lalu. Satu persatu uang receh itu ia pungut, lalu dihitungnya. Tak banyak, tapi Adi menaruh harapan besar dari tiap keping recehan itu.
***

Tak selang beberapa lama, Adi mengetuk pintu kamar ayahnya. Kali ini ia membawa sekantong uang recehan hasil dari tabungannya selama ini. Adi kembali mengetuk pintu kamar seraya memanggil-manggil ayahnya. lalu suara yang terdengar pelan dari dalam mempersilahkannya masuk. Adi membuka pintu dan mendapati  ayahnya tengah sibuk mengerjakan sesuatu di meja kerjanya, namun sama sekali tak menengok,  masih terlihat sibuk dan ‘tak bisa diganggu’ – membelakangi anaknya itu.
“Ada apa Adi, kenapa belum tidur?” sapa ayahnya  ( malas ) sambil tetap mengerjakan dengan teliti tugas-tugasnya, belum juga menoleh kepada Adi. Anak itu sekarang hanya berdiri diam di tengah ruangan, kembali ia mempertimbangkan apakah ini ide yang bagus. Ia memandangi  bungkusan uang receh yang dipegangnya, lalu giliran sosok ayahnya yang kini menarik perhatiannya.
“Ada apa Adi?...” kali ini ayahnya meninggalkan pekerjaan itu, mengatur sebentar tumpukan kertas yang ada di depannya lalu menghampiri Adi.
“Apa itu isinya?” tanya ayahnya.
“ini uang celengan Adi  ‘Yah” jawabnya singkat. Ayahnya kelihatan kebingungan.
“Sudah penuh ya?!...kok dibuka? Emang Adi mau beli apa?”
Adi saat ini tak mampu cepat menjawab pertanyaan ayahnya itu. Ia berpikir ulang, dan keyakinannya mulai kabur.
“Yah...” kata Adi pelan dan tak bersemangat, namun setitik harapan masih nampak di matanya.
“Apa ‘Di ?...” Sekarang ayahnya mulai mendapati  kesan yang berbeda dari percakapannya kali ini. Ia mendekatkan diri pada Adi, mencoba membaca pikiran anaknya.
Adi mengumpulkan seluruh keberanian yang ada  dalam dirinya. “Ayah kan kerja seharian...kalau Adi  hitung-hitung  Ayah kerja 12 jam sehari. Adi dikasih uang sama Ayah setiap harinya, Adi bisa menjumlahkannya, tapi Adi tidak bisa menghitung berapa ayah dibayar untuk  setiap jam-nya sehingga ayah bisa memberi Adi uang.” Adi memberikan pengantar semampunya tentang apa yang akan ia ungkapkan. Ayahnya masih tetap tidak mengerti, dan kebingungan mendengar kata-kata anaknya itu.
“Maksud Adi ?“ Tanya ayahnya penasaran.
“Adi tadi hanya minta sepuluh menit saja waktu ayah untuk temani Adi main ular tangga. Kalau uang tabungan Adi bisa membayar dan mengganti jam kerja  Ayah untuk sepuluh menit saja, Adi bisa tukarkan semua uang tabungan Adi ini.” Katanya melanjutkan.
Uang recehan itu ia sodorkan kepada orang yang tengah terpaku di depannya.
“ Kalau jumlah uang ini bisa menggantikan jam kerja ayah lebih dari sepuluh menit, Adi senang sekali... Adi bisa membeli waktu yang  ayah punya untuk temani Adi dengan uang ini ? Kalau tidak cukup juga walaupun hanya untuk 10 menit, Ayah mau pinjamkan uang untuk Adi ? ”
Hati ayahnya seakan teriris mendengar seluruh untaian kalimat yang keluar dari mulut anaknya itu. Dirinya merasa terlempar ke dalam jurang yang amat curam, lalu mencerai beraikan hatinya hingga berkeping-keping. Tangannya gemetaran, jantungnya berdegup kencang. Tak kuasa ia melihat wajah putranya itu. Kata-kata itu seperti suatu hujaman dahsyat yang menghantam relungnya. Ucapan itu mungkin sederhana dan tak cukup berarti bagi Adi, namun meninggalkan luka dan penyesalan yang dalam bagi ayahnya. Bungkusan itu masih terangkat di depannya, Ayahnya lalu tak kuasa menahan perasaan.
Semuanya seakan terbuka dengan gamblang, segala kesalahannya, dosa, dan ‘kedurhakaan’ terhadap anaknya tanpa malu menampakkan diri dalam hati  ayahnya. Adi tak mengerti apa yang dirasakan oleh ayahnya, namun ia merasakan sesuatu yang dapat membuatnya senang saat ini. Walaupun Adi belum mengerti apa yang terjadi, suara hatinya mengatakan kalau ini pertanda bagus. Maka, anak mana yang tak tak tersentuh hatinya ketika sang ayah tersungkur lekat di bahunya. Sekarang hati Adi semakin sumringah.
“Adi mau maafkan ayah?...” pinta ayahnya. Adi hanya mengangguk. Tak perlu lebih lama lagi untuk bersedih, pikir ayahnya, dan bukan saatnya untuk membuang-buang waktu ayahnya dan melewatkan kesenangan detik demi detik ini, pikir Adi. Mereka berdua berjalan menuju kamar Adi, ayahnya membacakan dongeng malam itu. Ketika dongeng dibacakan, mata  Adi sebenarnya sudah terasa berat, dan  sesekali  terlelap,  namun Adi berusaha untuk tidak tertidur, ketika ayahnya bertanya kenapa Adi berusaha menahan kantuk, Adi hanya menjawab bahwa dia tidak mau sampai tertidur dan menjadikan kebersamaan dengan ayahnya menjadi semakin singkat. Ayahnya baru merasakan suatu peringatan yang membuatnya tersadar. Uang, barang-barang, mainan, fasilitas yang tersedia di rumahnya, kemewahan – semuanya tidak berarti apa-apa.
Seorang anak membutuhkan  perhatian dan pendidikan orang tua yang tak dapat digantikan oleh siapapun atau oleh apapun. Terkadang pikiran kita terlalu sempit, terlalu banyak melihat dari sudut pandang ego pribadi. Kita berkata kepada orang lain “saya tidak punya waktu untukmu”, tapi ternyata orang itu selalu punya waktu  untuk menunggu kita.
Rumah itu masih tetap sepi, namun Adi sekarang bisa bermimpi indah, dan suatu saat nanti di masa depan,  Adi bisa menceritakan kisah dirinya dan ‘waktu’ kepada anak dan cucunya. Bahwa kita sering khilaf, mengusir  dan mengecewakan orang-orang yang kita sayangi dan cintai hanya untuk mengejar ‘waktu’. Lalu, apa yang akan kita lakukan bersama  ‘waktu’ jika orang-orang itu sudah terlanjur pergi meninggalkan kita sendirian?[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar