Minggu, 01 November 2015

Kala Coretan Berarti Segalanya

Baru-baru ini saya tergelitik dengan salah satu pemberitaan di media massa. Tidak terlalu penting tapi cukup menarik perhatian. Jokowi menuliskan kesannya pada buku tamu di Blair House saat kunjungannya ke Amerika (akhir Oktober, 2015). Ia menuliskan kesannya dengan gaya tulisan sambung yang bunyinya: “Terima kasih atas kehangatan, persahabatan, dan keramah-tamahan yang baik selama rombongan Indonesia berada di Blair House. Terima kasih yg sebesar-besarnya. –  (tanda tangan) Jokowi, 28 Oct 2015.” Hanya itu. Tak kurang dan tak lebih. Isi kesannya santun, menghargai penerimaan tuan rumah yang baik kepada tamu dari Indonesia. Jokowi sangat tersanjung dengan keramahan Obama dan stafnya selama mereka mengunjungi White House. Deborah Dewi—seorang grafolog ngetop Indonesia—lantas memberikan analisanya atas tulisan tangan sang presiden. 

Grafolog American Handwriting Analysis Foundation itu memaparkan bahwa tulisan tangan Jokowi mampu menunjukkan persepsi hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat. Dewi mengacu pada sejumlah indikator, yakni margin kanan, margin kiri, arah pergerakan tulisan, lajur tulisan, dan beberapa bentuk huruf. Aspek lainnya yang dapat diteliti di antaranya ukuran, gaya penulisan, kemiringan, tekanan, dan bentuk huruf awal. Intinya, kata Dewi, “Pak Jokowi ragu bahwa di antara Indonesia dan Amerika telah atau akan terjalin hubungan persahabatan. Namun setelah melalui berbagai tahap observasi, beliau punya ketertarikan besar untuk mengembangkan hubungan diplomatik kedua Negara ini.” Begitulah simpulannya. Sebagai suatu ilmu yang kian popular, grafologi pelan-pelan tak lagi dianggap sebagai pseudosains, tapi ia mulai dipandang sebagai sebuah produk ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Betapapun, orang masih setengah hati untuk mengakui validitasnya. Masyarakat masih cenderung sekadar penasaran ketimbang meyakininya sebagai suatu ilmu pengetahuan. 

Saya sangat tertarik bagaimana tulisan tangan dapat diinterpretasikan sedemikian rupa. Betapa luar biasa otak manusia. Hanya dari goresan tangan bisa ditilik seperti apa perasaan, pikiran, dan alam bawah sadar seseorang. Grafologi juga dapat mendeteksi schizophrenia, tekanan darah tinggi, alzheimer, parkinson, dan gangguan kesehatan lainnya (wow!). Coba kita pikir, saat ini kurang lebih ada 6 milyar penduduk bumi, jika benar setiap manusia unik—tak ada seorang pun manusia yang sama dengan manusia lainnya—maka akan ada 6 milyar variasi tipe tulisan dari jenis goresan (jika saja semua umat manusia bisa menulis huruf latin :p), rentang margin, sudut kemiringan, dan lain sebagainya. Dan konon grafologi dapat mengidentifikasi 5.000 jenis kepribadian manusia (wow! Lagi). CNN pernah menyatakan pada sebuah artikel, bahwa 7 dari 8 orang yang tulisannya dianalisa mengatakan bahwa hasil analisanya akurat. 

Doktrin grafologi ialah menulis ibarat napas. Ritme pemenggalan huruf dan kata pada goresan merupakan hasil proyeksi otak bawah sadar penulisnya. Otak bawah sadar terlepas dari kungkungan norma. Ia bergerak sendiri dan buta tata aturan. Alam bawah sadar selalu ada pada masa “kini”, ia tidak tahu mana “nyata” atau “imajinasi”. Ia hidup tanpa memandang sekitar, satu-satunya kawan dalam eksistensinya hanya hati nurani dan alam pikiran si empunya ruh. Grafologi memercayai bahwa alam bawah sadar itu dapat dibahasakan lewat wujud gores tulisan, bukan isi pesannya. Ini yang menarik. Kita bisa saja menuliskan “aku cinta kamu sampai mati” padahal dalam hati kecil, kita menolak mentah-mentah kalimat ini. Dan grafologi agaknya bisa membaca goresan batin ini, bahkan ia bisa mengungkap kalimat mana yang “cenderung bohong”. Grafologi melihat dominasi alam bawah sadar dalam sebuah goresan pena. 

Nah, sekarang … jika grafologi memang seajaib itu, marilah kita gunakan grafologi secara lebih ambisius, tak hanya saat rekrutmen karyawan saja, tapi juga hal lain yang lebih radikal dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Contohnya untuk memilih kepala daerah atau presiden. Cobalah kita aplikasikan ilmu ini. Suruh semua kontestan untuk menuliskan sepucuk surat barang 3-4 paragraf sedang, saja. Maka kita lihat hasilnya. Undang Dewi untuk melakukan analisa, dan mintalah dia memberikan penilaian seakurat mungkin. Atau jika ingin lebih afdol, buatlah semacam panelis grafolog dan biarlah mereka menjadi juri untuk memilih siapa yang paling layak dipilih (mereka tersumpah dan lolos wawancara dengan lie detector). Dengan ini, tak perlu ada lagi pemilihan massal yang menghamburkan banyak biaya. Coba lihat betapa saktinya grafologi, kita tak perlu membayar orang-orang di komite, tidak perlu mengerahkan sukarelawan, dan tidak perlu susah-susah mengatur keamanan, dan kita masih mengantongi kira-kira 15 menit jatah waktu kita jika mencoblos di bilik suara. Cukup dengan secarik kertas, sebatang bolpoin, dan beberapa orang grafolog. Beres! Sebab alam bawah sadar kita selalu blak-blakan dan goresan-goresan tangan kita lebih jujur daripada huruf dan kata-kata hasil coretannya.[] 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar