Senin, 26 Oktober 2015

Hari-Hari Si Ngatijo

Setiap malam Ngatijo tidak pernah tidur pulas. Ia kerap membolak-balikkan badannya di atas ranjang, berganti posisi karena Ngatijo tidak kunjung merasa nyaman. Lelaki tua yang ubanan itu belum juga makmur di usianya yang senja, masih saja melarat. Malam itu, sesekali Ngatijo merasakan sakit di kepala, snut-snutan. Keningnya pasti terasa nikmat bila dipijat – andai ada orang yang memijatnya, begitu pikirnya. Ranjang tempat ia berbaring tak lagi empuk, rasanya hanya seperti rebahan di atas dipan yang dilapis lipatan dan kerutan kain butut. Jika Ngatijo sedikit saja bergerak, suara derit yang parau bakal terdengar – seperti bunyi sesuatu yang terjepit di antara dipan dan kasurnya. Lalu tiba-tiba, kedua matanya seketika terbuka, dalam benaknya terlontar sebuah pertanyaan: waduh, besok ngutang sama siapa lagi ya?
            Malam merangkak lambat, bulan purnama terang, namun alam sudah sunyi dan kian tenang. Di dapur rumah Ngatijo, tikus dan cecurut di dekat tungku sedang rapat, tengah mendiskusikan rencana perampokan ransum yang tersisa di dapur Ngatijo. Sang tikus bilang, “Lihat itu, ada sasaran empuk!” kata si tikus gembul menengok ke atas meja usang di dapur Ngatijo. “Tidakkah kau kasihan ‘kus?” kata si curut, sambil sedikit menoleh ke arah kresek hitam yang  berisi tempe mentah milik Ngatijo. Si tikus yang gembul dan berbadan montok mengibas-ngibaskan ekornya yang mirip cacing, “Hmm… ini sudah pekerjaan kita, kan?” katanya enteng, “Tenang saja, Ngatijo pasti tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya sendiri,” tambah si tikus gemuk. “Bagaimana, ‘kus?” kepala si curut agak mendongak, moncongnya kedat-kedut. “Yaaa… ngutang lah! Seperti biasa ….” Ngatijo yang hampir terbuai lelap, dengan kedunguannya yang entah lupa atau apa, menyimpan bahan makanan dalam kresek yang ada di tempatnya sekarang ini. Ngatijo tak tahu kresek itu sedang digigiti. Dalam hitungan: satu, dua, tiga, saat lubangnya semakin menganga, tampaklah tempe yang ia dapat dengan berhutang dari warung Si Baba A Siong, muncul berdesakan dari robekan kantung kresek itu. Sang tikus dan curut berpesta. Tak jauh dari sana, si kucing sempat kaget, ia ogah-ogahan memerhatikan kejadian itu, lalu kembali tenggelam dalam dengkur.
            Saat pagi tiba, kokok ayam tidak kuasa membangunkan Ngatijo, pun suara ramai aktivitas orang-orang desa yang mulai hilir-mudik ke pasar dan ke ladang. Setiap pagi hanya akan menjadi tambahan dalam hitungan hari-hari yang malang baginya. Badannya masih terasa pegal-pegal– terang saja, hanya sedikit istirahat dan banyak mengeluh malam tadi. Namun begitulah adanya setiap malam. Pagi itu, mata Ngatijo disorot cahaya yang perlahan merayap dari jendelanya, bersamaan dengan matahari yang makin tinggi memanjat cakrawala. Karena sorot cahaya terang itu, mata Ngatijo terasa hangat, lalu di balik kelopak mata yang awalnya masih tertutup rapat, kemudian terbuka, bola mata itu terpaksa berpapasan dengan silaunya mentari pagi. Ngatijo berkedip beberapa kali, spontan tangan kurus itu mengucek kedua matanya. Lalu ia menguap, kantuk masih hebat terasa. Saat ia berhenti menguap, bunyi ceplak menyusul dari mulutnya. Ia seperti orang linglung, memaksakan dirinya duduk, lalu selang berapa detik, ia kembali merebahkan badannya, kemudian tidur lagi selama satu-setengah jam sambil memeluk guling. Ngatijo yang uzur tidak pernah dewasa, masih seperti anak muda yang doyan malas-malasan dan memandang remeh kehidupan. Ia terlelap lagi dan bermimpi, seperti mimpi yang sering ia alami: mimpi jadi orang kaya.
            Dua jam kemudian ia benar-benar bangun dari tidurnya. Ia bangkit lalu berjalan ke jamban. Langkahnya masih terasa melayang, kepalanya agak pusing dan mulutnya terasa aneh, harus cepat-cepat cuci muka dan gosok gigi pikirnya. Sesampainya di depan jamban, dibukalah pintunya yang reyot. Bunyi tetes air kran menyambutnya, konstan dan monoton seperti ritme hidup Ngatijo. Setelah cuci muka dan gosok gigi, ia membersihkan lubang hidung dan lubang telinganya, mengambil handuk lusuh dengan tulisan: made in china. Di depan sebuah cermin retak yang dipaku di kamar mandi itu, ia nyengir, sejurus kemudian merapikan rambutnya yang tipis dan beruban, maka semakin yakinlah ia dengan penampilannya. Percaya atau tidak, inilah Ngatijo, orang tua yang sudah bangkotan.
Ngatijo lalu pergi ke beranda untuk menyapa pagi. Oh iya, ke mana perginya salat subuh? Kalau ditanya, ia pasti mengaku Muslim, tapi salat pun hampir tak pernah. Pernah suatu waktu ia salat, namun setelahnya ia alfa dan kembali tak acuh. Waktu ia ditegur Pak Ustad, Ngatijo menimpalinya: “Ini kan kehidupan saya sendiri, ‘tad, lagipula, bukankah tidak ada paksaan dalam beragama?” tegasnya tempo lalu, dadanya busung dan hidungnya kembang-kempis, merasa yakin dengan kata-katanya. Ia pikir Pak Ustad mengguruinya, Ngatijo tidak mau terima, apalagi jika dibilang tak beragama, sontak ia pasti marah: “Aku ini Muslim!” pekiknya, tepat di depan muka orang.
            Saat ia menikmati hangatnya sinar matahari pagi, sambil duduk di kursi kayunya di beranda, tiba-tiba sesuatu melayang di udara dan mendarat telak di keningnya. Bletak! Rasa nyeri sekonyong-konyong menyerang. “Wadduh!” teriaknya refleks.  Ia mengusap-usap kepalanya yang terasa nyeri itu dengan telapak tangan. Saat keningnya digosok-gosok, malah semakin sakit rasanya. Ngatijo lalu mengerang, “Sialan!” katanya. Ternyata, adalah sebuah kerikil yang menyebabkan keningnya benjut. Ia lalu bangkit dan berdiri, matanya melotot, tangannya berkacak pinggang. Sambil menyapu pandangan ke kanan-kiri, ia memaki-maki tak jelas: “Hai kurang ajar! Siapa nih yang ngelempar kepalaku sampai benjol begini!” bentaknya sambil mendengus. Ia berjalan ke dekat pagar bambu di halamannya, sesampainya di dekat pagar, ia menengok ke sana-ke mari, mencari-cari siapakah gerangan penyebab petaka ini. “Awas loh ya! ‘tak uwek-uwek mukamu!” ujarnya lantang. Ternyata, sesosok anak ingusan sedang cekikikan tak jauh dari sana, di balik pohon pisang ia memerhatikan Ngatijo yang tengah kesal. Ngatijo pagi itu mengalami suatu kejadian yang benar-benar membuat dirinya menjadi buas dan meledak-ledak, tak seperti biasanya.
            Dialah Najib, anak kecil yang akhir-akhir ini semakin kurang ajar. Najib awalnya pendiam, namun belakangan ini selalu membikin ulah yang sering kali membuat Ngatijo jengkel. Najib seakan berubah jadi anak setan. Kelakukannya tidak pernah bisa ditebak. Tapi kali ini dia sudah kelewatan, kalau hanya sekadar maling jambu dari pohon di halaman Ngatijo, itu sudah biasa, atau menjahili anak ayam Ngatijo dengan menyiksa dan mengikatkan tali rapia di kakinya sih tak perlu terlalu diambil pusing. Kali ini sudah kelewatan, masak orang tua macam Ngatijo ditimpuk batu – tepat di keningnya pula, saat ini bengkak itu memerah, dan pasti akan membuat dirinya menderita (setidaknya selama beberapa hari). “Hei bocah gendheng! Apa maksudnya kamu nimpukin aku pake kerikil, hah?” tanya Ngatijo gusar.  Najib berlagak bodoh, ia celingak-celinguk, “Aku tadi mau ngetapel burung!” ujarnya tanpa sedikitpun kata maaf. Tentu saja Ngatijo tidak percaya, terang-terangan tadi Najib cekikikan waktu Ngatijo memergokinya sedang berdiri dekat pohon pisang. “Alaaah! bohong kamu! wong aku liat kamu ketawa-ketiwi ngetawain aku!” kata Ngatijo semakin berang. Najib tertegun sejenak, ia lalu berkata, “Hmm… salah Bapak lah! Kenapa diam di situ? Jadi kena batu ‘kan kepalanya!” katanya yakin, semakin membuat gemas Ngatijo. Ngatijo kian murka, “Awas kamu ya… sini! ‘ta jewer kamu!” Ngatijo sudah benar-benar kesal. Matanya merah seperti mata banteng rodeo, wajahnya panas karena amarahnya mendidih hingga ke ubun-ubun kepala.
Ngatijo setengah berlari menuju pintu pagar, dibantingnya pintu itu, pintu pagar mengayun dan menghentak sisi pagar lainnya. Ngatijo mempercepat langkah, Najib kaget, ia melongo. Tapi, Najib hanya terkejut sesaat, setelah itu ia tertawa puas, lalu lari menjauh dari situ. Ngatijo yang gelap mata terus mengejarnya – mengejar anak kecil yang pakai celana monyet. Najib begitu lincah, ia terus berlari. Dengan segenap daya upaya, Ngatijo mengejarnya. Orang tua itu berurusan dengan seorang anak ingusan, entah apa sebenarnya maksud si Najib. Namun, saat mereka berdua berkejar-kejaran tak tentu arah (Ngatijo yang uzur tak dapat menandingi kelincahan Najib yang tengah dalam kondisi puncaknya untuk main kucing lari), dekat pagar Ngatijo, seseorang mengendap-endap, ia menyeringai. Tak jelas siapa.
Orang itu lebih tua dari Ngatijo, ia tidak kelihatan seperti orang dengan niat baik. Ia lantas memasuki halaman rumah Ngatijo. Sesaat ia menengok ke belakang, memeriksa keadaan, memastikan yang empunya halaman masih sibuk kejar-kejaran. Orang itu berjalan dengan santai, melewati halaman yang luas tapi tidak sedikit pun ditanami tumbuh-tumbuhan, kecuali pohon jambu yang jarang berbuah, padahal lahan itu gembur dan subur. Orang asing itu mengitari rumah dan berakhir di sebuah kandang ayam di halaman belakang, yang kira-kira hanya muat untuk empat ekor ayam. Orang itu memandangi dua ekor ayam yang kebetulan tengah mencari makan dekat kandang, sisanya yang lain sedang plesiran. Di situ ada seekor ayam jago dan anak ayam. Kemudian, orang itu dengan sigap meraih keduanya, lalu dikepitlah si ayam jago di ketiaknya. Si anak ayam digenggamnya erat, Ini yang masih anak ayam buat si Najib saja, katanya dalam hati. Ia lalu terkekeh-kekeh. Ayam jago itu berkokok-kokok sebentar, yang kecil tentu saja berciak-ciak. Di manakah gerangan Sang induk? Ditelantarkan begitu saja si anak ayam tanpa perhatian, adapun si pemilik ayam jelas sedang dikecoh. Setelah itu, ia mengambil langkah seribu, ke suatu tempat nun jauh dari kampung itu.
            Hampir zuhur Ngatijo baru pulang ke rumah. Masih ngos-ngosan dan badannya basah oleh peluh. Membentuk bekas resapan keringat pada kaos oblong di punggung dan ketiaknya. “Sial, bocah sial … “ ia terengah-engah, “… awas kamu … hahh… hahh…” ujar Ngatijo lemah di antara suara nafas yang hampir mirip gejala bengek. Dengan langkah gontai ia menuju pintu rumah untuk beristirahat dan melepas haus setelah melakukan pengejaran yang hasilnya nihil. Dari ekspresi dan penampakannya saat ini, jelas sudah Najib berhasil lolos, hanya menyisakan Ngatijo yang kelelahan dan terhina.
Ternyata, baru malam harinya Ngatijo sadar ayamnya hilang. Terlambat, habislah sudah pikirnya. Keningnya benjut, ayamnya hilang, pegal-pegal pula seluruh badannya. Selain itu, jika ia mengingat waktu mengejar si Najib siang tadi, runtuhlah wibawa dan martabatnya, ditertawakan orang-orang seisi kampung. Malam hari ia coba tenangkan diri menonton TV, berharap nonton film bule dan acara TV show impor, atau tayangan adaptasi Barat lainnya. Tapi berita dan breaking news malah membuatnya semakin kesal, katanya: “Bangsa kita dipermalukan dan dijahili saudara serumpun.” Ngatijo yang merasa dirinya nasionalis tentu saja geram, ia ingin jihad katanya. Seru sekali berita itu, tak henti digembar-gemborkan. Antara membeberkan fakta atau menyulut murka, selalu seperti itulah berita di negerinya.
Bukannya tak bisa Ngatijo bebas dari keadaannya yang serba sulit, tapi ia tidak mau. Barangkali, saat ini Tuhan berkata kepada Ngatijo: salahmu sendiri kamu terus begini, Ngatijo, bukannya tak bisa, tapi tak mau berubah. Ngatijo marah-marah. Malam ini – seperti biasa – Ngatijo tidur diiringi sumpah serapah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar