Minggu, 02 April 2017

The Face - Wajah |Premise+Outline|



Premise
Seorang perempuan, terpidana kasus pembunuhan-berencana, harus menjalani operasi bedah plastik karena wajahnya disiram air keras. Sesaat sebelum insiden penyiraman air keras  itu, terjadi kontroversi yang menimbulkan gejolak, perempuan itu tak divonis mati, ia hanya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, walaupun ia mengakui perbuatannya dan tak menyatakan penyesalan sedikit pun.

Outline
Seorang perempuan muda, Maya, membunuh secara terencana sahabatnya sendiri, Naila. Tak diketahui secara pasti apa motif di balik pembunuhan itu. Sidang kasus pembunuhannya tak mampu mengungkap motifnya, pun keluarga, dan termasuk pengacaranya sendiri. Maya memilih bungkam. Persidangan atas kasusnya menjadi persidangan yang cukup dramatis dan mencengangkan, Maya menolak menyampaikan pledoi, dan menyatakan tidak menyesal sedikitpun atas perbuatan yang telah ia lakukan. 

Sidang kasus pembunuhan itu pada prosesenya berjalan efektif dan tak bertele-tele. Hingga kejutan terbesar pun muncul, saat hakim menjatuhkan vonis pada persidangan yang kesekian. Ia menjatuhkan vonis penjara seumur hidup kepada Maya alih-alih vonis hukuman mati. Orang-orang terperanjat, massa yang hadir histeris. Jaksa menyatakan naik-banding, bahkan pengacara juga tak habis pikir mengapa hakim menjatuhkan vonis demikian. Maya tertegun namun juga lega. 

Insiden menghebohkan berikutnya terjadi ketika Maya hendak meninggalkan ruang sidang untuk kembali ke kantor polisi. Tiba-tiba, seorang pria menyiramnya dengan air keras dan secara telak mengenai wajah Maya. Rusuh dan panik menutup episode persidangan terakhir Maya.

Wajah Maya mengalami kerusakan yang sangat fatal. Publik menyikapinya dengan kasar, menyebut bahwa Maya layak mendapatkannya. Ganjaran, karma, balasan, apapun istilahnya, mereka senang karena si pembunuh kejam nan bengis itu menderita. Kabar simpang siur mengatakan wajah Maya melepuh dengan parah sehingga berubah menjadi tampak mengerikan.

Maya lantas dirawat intensif di sebuah rumah sakit. Namun selepas peristiwa yang dialaminya, keberuntungan kembali menghampiri perempuan itu tanpa disangka-sangka. Maya mendapat penawaran untuk menjalani operasi plastik demi memperbaiki wajahnya. Seorang sponsor misterius siap membiayai pembedahan itu, bahkan dengan dokter-dokter bedah spesialis yang ditunjuk langsung oleh sang sponsor. Maya tak mampu menolak. Identitas sponsor itu tak pernah diketahui. Sebagian orang menganggap hal itu sebagai sebuah perbuatan konyol, sebagian lagi menganggapnya mulia, terlepas dari latarbelakang Maya yang seorang pembunuh. Maya kemudian menjalani operasi rekonstruksi wajah. Sebuah operasi yang berat dan serius. Operasi itu sendiri dilakukan beberapa tahap. 

Pada suatu kesempatan setelah keadaannya stabil, Maya membuat semacam pernyataan terbuka yang diunggah melalui internet. Menilai dari pernyataannya itu, Maya tampak kian melunak. Ia mengaku sangat menyesal telah membunuh Naila, sahabatnya sendiri. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah memungkinkan operasi rekonstruksi wajah itu terwujud. 

Suatu waktu, pengacara pria yang tempo lalu menangani kasusnya menjenguk Maya di rumah sakit. Ia merasa Maya sangat beruntung; sejak mula vonis yang dirasa janggal itu, banding jaksa yang tidak dikabulkan (padahal ayah Naila sesungguhnya adalah seorang taipan bisnis yang kaya raya dan berpengaruh. Ia amat mengutuk perbuatan Maya dan menyatakan tak pernah rela Naila dihabisi Maya), hingga Maya berkesempatan menjalani operasi untuk memperbaiki wajahnya yang rusak itu. Apapun yang terjadi, sang pengacara tetap menyampaikan rasa simpatinya, terlebih setelah mengetahui Maya yang dari waktu ke waktu berubah menjadi lebih baik, dewasa, dan teduh. Maya hanya mengatakan bahwa Tuhan masih memberinya kesempatan, bahwa Tuhan begitu sayang padanya. Ia menyesal dan berjanji akan menjadi pribadi yang baru, kendatipun sisa hidupnya harus ia habiskan di dalam benteng penjara. 

Beberapa bulan kemudian, semua prosedur telah dilalui. Pemulihan pun berjalan dengan sempurna. Seorang dokter di rumah sakit tempat Maya dirawat memberi kabar gembira itu. Waktunya telah tiba untuk membuka perban yang menutupi wajah Maya. 

Seorang dokter dan perawat menemani Maya untuk melakukan proses itu. Duduk pada sebuah kursi, Maya menghadap cermin. Jantungnya berdegup kencang. Sang dokter dan perawat pun menantikan momen ini. Maya amat bersemangat untuk melihat hasil operasi tersebut. Mulailah si perawat melepas gulungan perban itu dengan sangat hati-hati. Lilitan perban yang menutupi wajah Maya pelan-pelan dilepas. Mulai dari atas kepalanya, terus menurun pada dahi dan seterusnya. 
Namun, wajah ceria dokter dan perawat itu memudar, pada satu titik, bulu kuduk mereka bahkan meremang. Maya lebih dari itu, semakin terbuka perban itu, semakin kuat pula cekam yang menyerang. Saat seluruh perban yang menutupi wajah itu dilepas, mereka semua tercekat. Mulut dokter dan perawat menganga, mata mereka terbelalak tak percaya. Sesaat kemudian, suara jeritan yang paling mengerikan bergema, memantul-mantul di koridor rumah sakit. Lalu senyap menyergap. Maya membatu. Ada wajah cantik Naila pada cermin itu.[Luttfi Fatahillah]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar