Jumat, 22 Desember 2017

Sang Comte yang Awet Muda - kutipan naskah non-fiksi

  • Alkemis yang tak pernah diketahui secara jelas asal-usulnya
  • Sahabat para raja dan ningrat di Eropa
  • Konon hidup sejak zaman Isa Al Masih
  • Muncul di berbagai peristiwa sejarah dari zaman ke zaman

Tersebutlah seorang Comte[1] bernama Saint Germain. Menurut catatan sejarah, ia lahir pada rentang abad 17 atau 18, sekira tahun 1600 atau awal 1700-an. Namun catatan-catatan lainnya mengundang tanda tanya. Sebab, berbagai keterangan menyebut sosok yang menyerupai Saint Germain muncul dari masa ke masa. Bahkan konon ia telah hidup sejak zaman Isa Al Masih. Sejumlah catatan menyebutkan bahwa sang Comte ikut menyaksikan peristiwa yang terjadi di Cana, saat Isa Al-Masih mengubah air menjadi anggur. Terlepas dari hebohnya kabar tentang dia telah hidup di masa Isa Al-Masih, kebanyakan dari keterangan yang mengangkat kisah Comte de Saint Germain cenderung menyiratkan bahwa ia lebih dikenal sebagai seorang alkemis yang hidup sekira tahun 1600-an. Semakin mengundang rasa penasaran karena tokoh-tokoh dunia seperti Casanova, Madame de Pampadour, Voltaire, Raja Louis XV, Kathrine yang Agung, hingga Anton Mesmer kabarnya pernah berinteraksi dengan Comte de Saint Germain. Pada tulisan ini, kita akan dihibur sekaligus dibuat penasaran dengan mitos—atau justru fakta—tentang Comte de Saint Germain. Sosok penuh misteri yang disebut-sebut sebagai alkemis dan seorang yang immortal.

Cerita soal dia hidup pada masa Isa Al-Masih (termasuk kehadirannya pada Konsili Nicea pada 325 M) memang terdengar terlalu berlebihan. Akan tetapi, beberapa catatan penampakan dia di hadapan publik termasuk interaksi personalnya dengan para tokoh bersejarah pada rentang masa berabad kemudian—yang banyak orang memercayainya sebagai sebuah kebenaran—menunjukkan bahwa sosok ini memang sangat misterius sekaligus istimewa. Ia dikenal sebagai seorang alkemis, seseorang yang mengetahui rahasia materi dan mampu mengubah struktur kimia sebuah bahan dengan keahlian ilmu kimianya. Istilah “alkemis tak lagi asing, bahkan sebagian orang percaya bahwa sosok seperti ini memang ada atau pernah hidup. Ia dapat mengubah logam menjadi emas, meracik ramuan awet muda, menguasai banyak bahasa, hingga menguasai banyak keahlian termasuk bermain musik (jika benar ia bisa awet muda hingga hidup ratusan tahun lamanya, “menguasai banyak keahlian” menjadi cukup masuk akal karena ia memiliki waktu dan umur yang sangat panjang untuk mempelajari semua hal).

Bicara tentang alkimia, Batu Bertuah merupakan salah satu material terpenting di dunia alkimia. Belum ada yang mampu membuktikan keabsahan cerita ini, apakah batu ini memang nyata atau karangan belaka. Tapi dalam cerita-cerita tentang Batu Bertuah—disebut “philosopher stone” di kisah Harry Potter—Comte de Saint Germain disebut-sebut sebagai alkemis yang berhasil menemukan cara untuk menciptakan batu ini.

Saint-Germain muncul di lingkungan elit Eropa pada 1742. Ia digambarkan sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang sangat luas, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, sejarah, dan menguasai setidaknya enam bahasa, di antaranya bahasa Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Portugis, Rusia, dan Inggris. Di samping itu, ia pun mampu berkomunikasi dengan bahasa Cina, Latin, Arab, Yunani Kuno, bahkan Sankrit. Jika keterangan-keterangan ini benar, bisa dibilang ia mampu menguasai semua bahasa penting dunia.


Dimulai dari Sebuah Pesta
Pertemuan antara Saint-Germain dan Madame de Pompadour dalam sebuah pesta merupakan saat kali pertama isu tentang “keabadian” Saint-Germain menyeruak. Madame Pompadour sendiri merupakan selir Raja Louis XV dari Prancis.

Saat itu tahun 1760, Countess von Gregory juga hadir pada pesta tersebut. Saat ia melihat sosok Saint-Germain, dirinya dibuat bingung. Ia merasa pernah mengenali pria tersebut, mengira bahwa ia adalah putra seorang pria yang pernah ia kenal pada tahun 1710, yang tak lain adalah Saint Germain sendiri. Ia lantas mengenali bahwa orang itu memang benar merupakan orang yang sama, tak tampak menua sama sekali, padahal lima puluh tahun telah berlalu. Sang Comte tidak menyangkal ataupun mengiyakan, tidak mengakui pula bahwa ia adalah putra seperti yang disangkakan Countess von Gregory. Ia bahkan berkelakar kepada sang Countess bahwa dirinya memang berusia lebih dari 100 tahun.    

Kemunculan-Kemunculan Berikutnya
Empat puluh tahun kemudian, Comte de Saint Germain dilaporkan melakukan perjalanan ke seluruh Eropa. Ia tak pernah menua dan terus membuat kagum kalangan elit Eropa dengan banyak keahliannya: keterampilan bermain piano, melukis, dan pengetahuannya tentang ilmu pengobatan. Voltaire, seorang filosof abad ke-18 menggambarkan Saint Germain sebagai “orang yang abadi dan tahu segalanya.”Daya pikat lainnya ialah termasuk hartanya yang banyak serta kebiasaannya yang ganjil, yakni sering menggelar pesta dan mendatangi pesta namun tak pernah terlihat memakan hidangan yang disajikan. Ia hanya minum anggur merah, yang kemudian membuatnya juga dikenal sebagai connoisseur, ahli dan penikmat anggur.

Catatan yang disinyalir sebagai catatan terakhir tentang Saint Germain adalah cerita saat ia pergi ke Hamburg. Di sana, dia menjadi sahabat Pangeran Charles Hesse-Cassel. Saint Germain menjadi orang kepercayaan sang pangeran dan tinggal di kastil Eckernförde sebagai seorang tamu. Di tempat inilah Sang Comte disebutkan tutup usia. Satu-satunya keterangan tentang kematiannya hanyalah sebuah catatan yang menyatakan bahwa Comte de Saint Germain wafat pada 27 Februari 1784.

Menariknya, 9 tahun kemudian, Countess d’Adhémar mengklaim bahwa Comte Saint Germain menyaksikan peristiwa pemenggalan Marie Antoinette pada 16 Oktober 1793. Jika ini benar, usia sang Conte telah mencapai seratus tahun, merujuk pada sebuah keterangan yang menyebutkan tentang tahun kelahirannya yang terjadi pada 1710 (sementara von Gregory menyebut pada tahun ini Saint Germain merupakan seorang pria dewasa). Lebih daripada itu, kesaksian ini juga menghapus anggapan bahwa sang Comte telah meninggal. Comtesse d’Adhémar beberapa tahun kemudian juga menyatakan bahwa dirinya melihat Saint Germain saat peristiwa pembunuhan Ratu di Brumaire, pada hari setelah kematian Duke d’Enghien, Januari 1815, dan pada malam pembunuhan Duke de Berry. Comtesse d’Adhémar menuliskan ini pada catatannya tahun 1820.

Comte de Saint Germain terus menampakkan diri di berbagai kesempatan. Dengan demikian, catatan kematian bahwa ia wafat pada Februari 1784 menjadi sebuah tanda tanya besar. Seorang tokoh dunia lainnya yang dilaporkan pernah berinteraksi dengan Saint-Germain adalah Anton Mesmer, seorang pionir seni hipnosis (desas-desus beredar bahwa Saint Germain-lah yang mengajari Mesmer). Menarik pula untuk menyimak beberapa keterangan bahwa  Saint Germain dipilih sebagai perwakilan Freemason di sebuah konvensi. Cerita demi cerita tentang sang Comte terus bergulir dan dia disebut-sebut tak pernah terlihat lebih tua dari pria berusia 45 tahun.

Kemunculannya di Abad 20
Apakah kisah Sang Comte berakhir sampai abad pertengahan dan abad 19? Nyatanya tidak. Kisah tentang Sang Comte malah semakin liar dan penuh misteri. Tahun 1902, seorang pria yang dikenal sebagai Jaques Saint Germain pindah ke sebuah rumah mewah di sudut Ursulines and Royal. Kabarnya ia pindah dari selatan Prancis, mengaku sebagai keturunan Saint Germain. Ia memperkenalkan dirinya lewat sebuah pesta di masyarakat elite New Orleans, para pejabat dan politisi hadir di sana. Para tamu disuguhi makanan yang disajikan dengan porselen dan peralatan makan perak terbaik dari Tiongkok. Namun ia tidak sedikit pun memakan hidangan tersebut. Sepanjang pesta, ia hanya menikmati minuman yang terlihat seperti anggur merah.

            Kebiasaan dan sikap yang ditunjukkan Jacques terhadap elitis New Orleans membuat mereka terheran-heran. Jaques digambarkan memiliki pesona yang menawan, sangat cerdas dan menguasai banyak bahasa dan seni. Namun kawan-kawan yang ia miliki dan fakta bahwa ia sering sekali mengadakan pesta membuat dirinya tetap diterima di lingkungan pergaulan kaum elit tersebut.

Jaques dan Perempuan Pub
Pada satu rentang masa, kehidupan Jaques Saint Germain tak pernah ter-ekspos lagi. Ia menjalani kesehariannya seperti biasa. Hingga kemudian pada suatu hari, ia menciptakan kehebohan lagi saat polisi melakukan penyelidikan terhadapnya. Suatu malam, Jaques pulang ke rumahnya dari pub setempat membawa seorang perempuan. Keesokan harinya, perempuan ini siuman di kantor polisi. Ia memberikan kesaksian yang cukup mencengangkan tentang pengalaman yang ia alami di kediaman Jaques. Malam itu sepulang dari pub, ia sedang melihat-lihat sejumlah benda yang indah di dekat perapian. Tak disangka-sangka, Jaques datang kepadanya dengan kecepatan yang luar biasa kemudian menggigitnya di leher secara beringas.

            Untungnya, persis pada saat itu, orang-orang yang diduga teman pesta Jaques datang ke kediamannya untuk mengajak minum. Mereka menggedor-gedor pintu dan mulai meminta minuman. Jaques terhenyak, dan perhatiannya yang teralihkan tersebut cukup untuk membuat si perempuan melepaskan diri dari Jaques. Tapi karena rasa takutnya, perempuan itu malah berlari dan melompat ke jendela. Menyebabkannya terjatuh dari lantai dua dan menimpa balkon. Hal ini membuat kakinya mengalami patah tulang di sejumlah titik. Dia lantas menjerit-jerit hingga didengar warga sekitar. Polisi datang dan membawanya ke rumah sakit. Ia pingsan, kemudian memberikan kronologis tadi di kantor polisi setelah siuman. Malam itu, saat Jaques ditanyai polisi, ia hanya menjawab bahwa perempuan itu mabuk dan tiba-tiba melompat ke luar jendela. Polisi lalu meminta Jaques untuk datang ke kantor polisi esok harinya untuk memberikan keterangan resmi. Tapi ia mangkir dari panggilan itu dan tak pernah menunjukkan batang hidungnya lagi.

            Polisi kembali menyatroni kediaman Jaques beberapa hari kemudian. Namun, rumah itu kelihatan sepi dan tampak telah ditinggalkan oleh pemiliknya. Saat polisi memasuki rumah itu, mereka dibuat terkejut dan heran dengan keadaan di sana. Ada noda-noda darah di atas taplak meja. Dari penilaian mereka, taplak tersebut merupakan taplak antik jika dilihat dari motif dan bahannya. Tapi hal paling mengherankan bagi mereka bukanlah barang-barang antik yang tampaknya dibuat pada masa berabad lampau, melainkan fakta bahwa di rumah itu sama sekali tak didapati bahan makanan, peralatan dapur atau piring-piringan satu pun. Mereka hanya mendapati cawan dan gelas-gelas anggur serta botol-botol anggur besar yang mereka asumsikan berisi anggur merah. Belakangan diketahui bahwa cairan dalam botol tersebut merupakan campuran anggur dan darah.  



Kemunculan Sang Comte di Era 70-an
Richard Chanfray mengklaim dirinya sebagai Comte de Saint Germain pada tahun 70-an. Ia muncul di sebuah acara televisi dan mengatakan dirinya mampu mengubah logam menjadi emas. Bertahun-tahun setelah tayangan televisi tersebut, Chanfray bunuh diri di Saint Tropez pada 1983.  Namun kemudian, Chanfray dilaporkan memalsukan kematiannya tersebut dan masih hidup.

Hingga saat ini, banyak laporan menyebutkan bahwa sosok misterius yang dikenali sebagai “Jack” sering berinteraksi dan “mengganggu” turis-turis setempat di New Orleans. New Orleans sendiri merupakan kota dengan angka kekerasan paling tinggi di Amerika Serikat. Membuat kota ini berada pada urutan teratas pada statistik “pembunuhan per kapita”. Tapi tak hanya itu, kota tersebut juga terkenal karena kasus-kasus lenyapnya orang secara misterius. Kasus orang hilang tersebut tak menimpa mereka yang berpenghasilan rendah, melainkan para turis dan selebritis setempat. Kejahatan-kejahatan ini mengesankan New Orleans sebagai kota yang berbahaya dan angker. Rumor lain menegaskan predikat kota tersebut, bahwa barangkali tak hanya sindikat pengedar narkoba dan para kriminal saja yang berkontribusi pada angka kejahatan tersebut, tapi juga sosok vampir bernama Jack.

Kebenaran kisah Sang Comte yang alkemis ataupun vampir yang senang berpesta barangkali dapat dengan mudahnya kita sangsikan. Kisah-kisah terlalu aneh dan berlebihan, bisa jadi comte yang muncul dari masa ke masa tersebut merupakan orang yang berbeda, tapi memiliki sejumlah kesamaan—nama misalnya—secara kebetulan sehingga menimbulkan persepsi liar, yang “dikuatkan” oleh keterangan dari berbagai sumber dan dianggap sebagai kepingan-kepingan dari sebuah puzzle. Barangkali kepingan-kepingan itu pas dan dapat menyusun puzzle secara utuh. Namun bagaimana jika puzzle-puzzle tersebut sesungguhnya tak berasal dari puzzle yang sama, hanya secara kebetulan memiliki bentuk yang sesuai dan saling melengkapi dengan kepingan lainnya; memang pas dan cocok, tapi bisa jadi keliru.[]



[1] Gelar bangsawan pria di Eropa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar