Jumat, 22 Desember 2017

Menjebak Johan (petikan novel)




Ujung jemarinya mengetuk permukaan meja secara bergantian. Kelingking, jari manis, jari tengah, dan telunjuknya, mengintimidasiku. Setelah aku memasuki ruangannya, suasana sempat hening. Ia hanya mempersilakanku duduk dan sengaja menunda pembicaraan.

Suara ketukan itu kembali terdengar; kelingking, jari manis, jari tengah, telunjuk. Mematuk meja dengan irama konstan sehingga mengeluarkan bunyi ketuk yang merambat. Tindakan yang cerdas agar orang di hadapanmu merasa tak nyaman.

Dari balik kacamatanya, ia menatapku. Mungkin berusaha menebak isi kepalaku juga. Ini membuatku gemas. Namun sisi baiknya, aku senang dia ikut terseret dalam persoalan ini. Ia juga tak bakal sadar bahwa aku tengah mempersiapkan sebuah rencana untuknya, sebuah manuver. Kau bisa saja menganggapku culas. Tapi aku yakin, kita tak perlu sepenuhnya merasa bersalah ketika melakukan suatu “kejahatan” terhadap orang jahat. Lagi pula, aku melakukan ini demi kebaikan semua orang. Jika rencanaku berhasil, kebenaran akan terungkap. Atau bisa jadi, ini semacam bagian dari karma di mana aku turut andil di dalamnya.

“Raka, kau tahu, kan, seberapa pentingnya ini?” tanyanya tenang.

Aku terdiam sejenak.

“Ya, Pak.”

Aku menunduk demi memberikan kesan “merasa bersalah”. Ini menjadi sebuah konsensus sekaligus kesepahaman di antara kami, para kaki-tangan Johan, bahwa kita sama sekali tak bisa menyanggah atau membela diri ketika Johan mengadili kami. Kau harus menerima secara lapang dada bahwa ia berhak menekanmu karena kau adalah seorang “terdakwa”. Andaipun hendak melakukan perlawanan, jaga agar jangan sampai berlebihan. Jadi, begitu kata-katanya yang pedas menghajarmu, telan saja dulu. Kami sudah terbiasa dengan ini. Dadamu akan terasa sesak tapi setelah itu kau akan baik-baik saja. Sedihnya lagi, ia terlalu perasa dan melankolis. Jika kamu menantang dia, ia akan merasa sebal padamu dan akan mendiamkanmu setidaknya selama tiga hari. Ada saat-saat ketika ia bertingkah kelewatan. Hal itu biasanya akan cukup lama membekas. Kau akan keluar dari ruangannya dengan wajah muram, menelan sumpah serapah yang sesungguhnya ingin engkau muntahkan tepat di mukanya. Pada situasi seperti sekarang ini—seperti yang tengah aku alami—mengalah dan tetap bersabar adalah jalan terbaik. Sudah pasti kau tak ingin mendapat masalah lainnya dari Johan.

“Raka, saya pernah kasih tahu kamu kalau kamu selalu bisa diandalkan. Sejak pertama kali saya ngelihat hasil kerja kamu.”

Aku masih menunduk, lalu mengangguk ringan.

“Tapi kali ini, kamu payah banget. Lambat!” Johan menonjokku dengan kata-katanya.

Kini mataku terarah padanya. Lalu aku paksa diriku untuk mengalihkan pandangan pada tumpukan berkas di atas meja. Bukan karena takut, lebih karena menahan diri agar segalanya tak semakin keruh.

“Jadi?” Johan mengangkat alisnya.

“Ada penjelasan? ... atau mungkin alasan?” lanjutnya.

Aku berdeham. Membasahi bibirku sebentar. Sejenak menghela napas, dan ....

“Saya mesti mengatur ulang jadwal setelah kemarin sibuk bantuin launching bukunya Januar, Pak. Awalnya saya atur 15 halaman per hari. Tapi keteteran.”

Dengan berat hati, tidak kusebutkan bahwa perintah Johan untuk menganalisis sebuah program kemarin sebenarnya dapat menjadi alasan lain keterlambatanku.

“.... Selagi saya menyunting, Eva jalan proofreading. Tapi Haryono juga bermasalah, Pak.”

“Itu biasa, kan? Kita sering ngehadapin outsourcee seperti itu,” jawabnya singkat.

“Ya, tapi sejak awal saya nggak rekomendasikan buat ‘pakai’ Haryono, Pak.” sergahku.

“Mestinya kamu antisipasi juga. Bukan kali ini saja kita ngehadapin masalah seperti ini.” Nada bicaranya meninggi. “Dia bisa kerja cepat, Raka. Kita sudah sering kerja bareng dia, kan?”

Ya, cepat kalau uang muka sudah cair.

“Dan kerjanya juga bagus. Ayolah, masalah serius apa yang bisa kita dapat dari me-layout sebuah novel?”

Kerja bagus? Sebenarnya Haryono biasa saja. Dia hanya “murah”.

“Terakhir saya kontak dia, katanya dia sakit, Pak. Saya sudah bilang kalau memang tak sanggup dan tak memungkinkan, biar kami teruskan di kantor.”

“Ya, kenapa nggak gitu aja?”

“Dia bilang ‘besok akan saya rampungkan’” jawabku datar.

Besok?

“Ya, itu empat hari yang lalu.”

.“Kau bisa ambil saja layout itu, biar Mario yang mengerjakannya.”

“Dia penuh, Pak.”

Apa dia lupa apa alasan kami melempar pekerjaan ini ke freelancer. Mario sudah disesaki order desain dari Lia dan order project dari ... siapa itu, Kepala Bagian Project baru yang sering “menitipkan” pekerjaan kepada Departemen kami.

“Ok, itu mungkin masalah lain. Tapi intinya. Kerja kamu lambat. Kamu nggak bisa ngikutin timeline. Layout juga nggak bakal jalan kalau editan belum masuk, kan?”

Kubalas kata-kata Johan dengan anggukan ringan. Kutundukkan lagi kepalaku, sikap klise yang wajib kutampakkan pada situasi ini.

Johan melipat kedua lengannya di dada, memerhatikan berkas-berkas atau beberapa dummy yang tergeletak di atas meja. Ia lantas menerawang ke langit-langit sejenak, lalu menggaruk dagunya.

“Oke. Jadi begini: pameran kurang dari tiga minggu lagi. File masih belum siap. Tapi untungnya, desain cover sudah fix. Proofreading simultan dengan editing—tapi kerjaan Eva bakal lebih cepat daripada kamu—layout Haryono tergantung kecepatan kamu mengedit, yang jelas kamu harus push dia terus, tapi ... pengerjaan editing baru 60%....jadi, mau gimana kira-kira?”

“Setidaknya editing mesti beres dalam tiga hari, Pak.”

Dua hari. Perlu waktu dua minggu buat nyetak 3.000 eksemplar. Tapi nggak masalah, kita bisa ambil dulu sebagian yang udah jadi dari percetakan. Yang penting di pameran ada beberapa ratus yang jadi stok.”

“Bisa, Pak,” jawabku terkesan optimistis. Johan agak kaget. Dahinya mengerut, tapi aku tahu dia memercayaiku.

“Soal Haryono, gimana?” tanya Johan.

“Komunikasi sama dia ngabisin waktu, Pak.”

“Jadi?”

“Paksa dia selesaikan pekerjaan dia yang belum selesai. Lunasi penuh honornya.”

Kami berdua tahu bahwa sebenarnya Haryono adalah tipe orang yang bisa sangat pengertian setelah kita mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya.

Johan terdiam, bukan kebiasaannya melunasi honor sebelum pekerjaan selesai. Bahkan ia tidak pernah secara disiplin membayarkan uang muka di awal sesuai kesepakatan. Sekali lagi kubilang, mungkin ini bagian dari karma. Johan juga sering “mangkir” dari Haryono atau kerap menunda-nunda ketika Haryono menagih hak-nya.

“Lunasi honornya, saya push dia supaya menyelesaikan semua bahan layout yang dia pegang dalam waktu satu hari. Setelah honor itu cair, saya jamin semuanya beres secepatnya, Pak.”

“Lalu, bagaimana kamu ngerjain bagian kamu? Dua hari?”

“Ya, bisa diatur, Pak.”

Johan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya memandangku, lalu menyeringai.

“Jangan sampai meleset, ya.” Kacamata Johan tampak berkilat.

“Jangan khawatir, Pak.”

Sebenarnya, target menyunting selama dua hari dengan volume ketebalan sekira 100 halaman terbilang nekat. Tapi, kau tahu kan kalau aku punya sebuah kelebihan yang akan sangat membantu pada situasi seperti ini.

“Tapi izinkan saya lembur, Pak. Mungkin saya juga harus menginap di kantor.”

Sejak awal, aku menduga bahwa sebenarnya Johan memang akan memerintahkanku lembur, tapi komitmen untuk mengerjakan pekerjaan selama dua hari jelas membuatnya sedikit terkejut. Dan sekarang, aku mengajukan diri untuk menginap di kantor. Langkah lainnya yang tentu tak ia sangka-sangka. Tak ada cara lain agar aku bisa leluasa masuk ke ruangan ini dan mengaduk-aduk lacinya hingga kutemukan barang bukti itu. Seperti informasi yang kudapat dari Allea, seharusnya berkas itu ada pada Johan. Begitu kudapatkan berkas itu dan kuserahkan kepada Pak Helgi, mampuslah si Johan.

“Menginap?” tanya Johan, dahinya berkerut. “Yakin?”

“Yah, gimana lagi, Pak. Saya mesti fokus ngerjainnya.”

Johan memicingkan mata, seolah memastikan permintaanku. Ia mengangguk-angguk, lalu membenahi posisi duduknya.

“Oke. Kenapa nggak? Mulai besok?”

“Mulai malam ini saja, Pak.”

“Boleh. jangan lupa lapor sekuriti, ya.”

“Siap, Pak.”

Telepon di ruangan Johan berbunyi. Memberi jeda pada percakapan Johan yang Agung dan Raka yang bukan siapa-siapa.

“Sebentar,” kata Johan sambil mengangkat gagang teleponnya. “Halo ... Oh, Pak Wiky...”

Pikiranku meracau ....

Kau tahu Johan, tak lama lagi kau akan tamat. Bersenang-senanglah dulu sebelum kedokmu kubongkar. Aku sudah bosan mendengar rengekan Eva karena ulahmu, Mulyono yang uring-uringan karena kau ejek keluarganya, Mario yang akhirnya tahu bahwa kau sering mengadu domba, membuatnya berselisih dengan Akbar.

Johan terkekeh di tengah obrolannya.

Atau Jessica, anak baru di bagian SDM itu yang saat ini tengah menjadikanmu bahan gunjingan di kantor; tanganmu yang kurang ajar tak akan lagi mampu menjamah bokongnya yang kau bilang aduhai.

Johan tertawa terbahak-bahak, menampar meja dengan keras di tengah derai tawanya.

Tawamu yang meledak nyaring seperti tawa raja itu tak bakal lagi terdengar di kantor ini. Jika kau raja, tawa itu akan tergantikan dengan tawa rakyatmu yang telah lama mengidamkan keruntuhanmu. Kau akan jatuh sejatuh-jatuhnya. Tangga reyot yang kau susun tinggi itu akan membuat jatuhmu semakin menyakitkan, martabatmu akan hancur berkeping-keping. Kau akan kalah. Telak. Rasa malu itu akan membuatmu sembunyi lama sekali hingga kau merasa perlu membuat liang di tanah.

“Oke .... Sip.” Johan mengakhiri obrolannya dengan Pak Wiky. Seketika omong kosong di benakku terhenti.

“Sampai mana tadi? Oh, kamu mau nginep, ya?”

“Ya, Pak.”

“Jadi kesimpulannya. Kamu beresin editing kamu selama dua hari, lembur, nginep di kantor. Haryono kita lunasi tapi kamu jamin dia bisa beres cepat, ya!” Johan memberikan penekanan dengan mengangkat jari telunjuknya.

Aku hanya membalasnya dengan gumaman. Ia tampak tidak keberatan dengan responsku. Entah apa yang dibicarakannya dengan Pak Wiky, sebegitu cepat mengubah mood-nya menjadi ceria seperti ini.

“Oke, lanjutin lagi kerjaan kamu,” ia mengarahkan telapak tangannya pada pintu keluar.

“Baik, Pak,” kataku seraya beranjak dan berbalik.

Dengan enteng aku berjalan menuju pintu, maka sesaat setelah aku keluar dari ruangannya, senyumku merekah. Ini kali pertama seseorang keluar dengan senyuman setelah menghadapi pengadilan Johan. Kulihat Eva tengah berdiskusi dengan Mario. Mereka menatapku heran. Pandangan mereka mengikutiku seolah sedang menyaksikan hal paling aneh dalam hidup mereka. Kukedipkan sebelah mataku dan mereka pun ternganga.

Oke, jadi begini rencananya ... malam ini aku akan menginap di kantor, mengerjakan sisa suntinganku, dan pastinya menyempatkan diri untuk mencari “kotak pandora” di ruangan Johan. Seperti biasa, seperti malam-malam sebelumnya semenjak aku memiliki kelebihan ini, aku tak akan tidur. Ini hari ketiga “kesadaran tanpa jeda” dalam hidupku.
....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar