Selasa, 14 November 2017

Pesta Itu Bernama Ubud Writers & Readers Festival




Saya merasa beruntung karena berkesempatan untuk menjadi tamu di Ubud Writers & Readers Festival yang dihelat pada 25-29 Oktober tahun ini. Bagi para pegiat seni, sastra, dan literasi, festival ini bisa jadi sudah mereka kenal atau minimal pernah mereka dengar. Kali pertama saya menaruh perhatian pada event tahunan ini kira-kira pada 2010 (saya masih bekerja di penerbit konvensional), ketika seorang penulis memberitahu saya bahwa dia diundang ke UWRF sebagai pembicara. Dari penjelasannya, saya menangkap kesan bahwa festival tersebut merupakan salah satu gelaran literasi yang cukup bergengsi. Walaupun demikian, dari tahun ke tahun saya tak pernah sengaja mengikuti kabar tentangnya. Hingga enam tahun kemudian, penerbit tempat saya bekerja bermitra dengan founder festival tersebut—Yayasan Mudra Swari Saraswati. Kami menerbitkan buku antologi, berisi kompilasi tulisan lintas-genre dari para penulis muda; mulai puisi, prosa, cerpen, esai, petikan novel, hingga petikan naskah drama yang lolos kurasi untuk dimuat dalam antologi resmi Ubud Writes & Readers Festival. Tahun ini, kami kembali berkolaborasi. Saya pun kecipratan berkahnya dengan diundang untuk menghadiri festival tersebut. Dengan mengantongi akses 4 day free pass, saya bebas mengikuti semua acara yang digelar di sana. Bahkan ikut diundang pada gala opening pada malam tanggal 24 Oktober.

Berkelana di UWRF ternyata menghadirkan perasaan yang menggelitik. Aneka ragam manusia dari berbagai latar belakang yang telah menumpahkan kerja kerasnya pada dunia seni dan literasi tampil menjadi panelis, membagi ilmu dan wawasannya. UWRF memang tak hanya soal buku, sastra, jurnalistik, atau hal-hal yang berbau tulis-menulis. UWRF semacam hajat besar, sebuah wahana apresiasi terhadap seni dan kreativitas. Musik, lukisan, fotografi, drama, bahkan kuliner turut menjadi menu yang ditawarkan dalam festival ini. Tak heran, setiap tahun festival ini selalu ramai dikunjungi tamu-tamu yang datang dari berbagai tempat, dalam maupun luar negeri. Semua mata acara tersebut tersaji dalam bentuk event-event berlabel Talk Show, Workshop, Book Launching, Food & Ubud Culture, After Dark, Free Event, Pameran, dan Satellite Event.

Mereka yang datang tak merasa “sayang” dengan biaya yang harus dikeluarkan. Semua itu digantikan oleh berbagai bentuk diskusi dan sajian hiburan yang dapat memuaskan dahaga intelektualitas mereka. Di sana, saya bertemu pula dengan seorang perempuan dan penulis asal Sumba. Ia harus menempuh jarak ratusan kilometer jauhnya untuk sampai ke Ubud. Tentu tak sedikit ongkos yang harus dia keluarkan, belum lagi biaya menginap, makan, dan lain sebagainya. Bagi saya, hal ini pun istimewa, sebab sekilas-pandang, saya perkirakan peserta atau pengunjung festival ini 80% adalah warga asing. Peserta lokal hanya sebagian kecil saja, antara memang benar-benar peserta atau “hanya” staf panitia. Menghadiri UWRF ibarat sebuah rekreasi yang dapat menambah wawasan kita—atau bahkan kepekaan seni—melalui kemasan-kemasan acara sederhana yang tetap berbobot. Saya seolah berada entah di mana; alamnya di Ubud, namun dengan mudahnya kita bisa menemukan gerombolan warga asing yang sedang becengkerama, berdiskusi, atau tengah berjalan kaki menuju event yang ia tuju. Di sini, kami ibarat lebah-lebah di padang bunga. Setelah selesai mengambil nektar dari satu pangkal kelopak, kami bergegas terbang lagi menuju bunga yang lain.

Tersedia lebih dari 200 butir acara dalam gelaran ini (saya masih takjub dengan para panitia, bagaimana mereka mengatur acara demi acara dan memastikan semua berjalan dengan apik). Acara tersebut dilaksanakan secara pararel. Format ini membuat kita harus pandai memilah, acara mana saja yang akan kita ikuti. Sebab tak jarang, ada event-event menarik yang waktu pelaksanaannya bentrok. Mau tak mau kita harus memilih, datang ke diskusi tentang proses kreatif penulisan novel kriminal bersama penulis buku best-seller Australia atau menyimak cerita seorang jurnalis yang sering diterjunkan ke wilayah konflik. Begitu kira-kira gambarannya. Sebenarnya semua acara menarik, semua acara sayang untuk dilewatkan. Tapi di situlah gregetnya. Kita mesti menentukan dan mengatur jadwal harian kita, mana saja event yang akan kita ikuti (dan tentunya yang kita lewatkan sebagai konsekuensi pilihan kita). Untungnya, kita dibekali sebuah program book sebagai buku panduan kita selama di sana. Di dalamnya termuat jadwal acara berikut deskripsinya dengan penyajian yang praktis sekaligus menarik—sangat membantu.

Pada UWRF kali ini, Yayasan Mudra Swari Saraswati juga menganugerahkan lifetime achievement kepada novelis legendaris N.H. Dini. Beliau dinobatkan sebagai penulis inspiratif karena mampu menyarikan ide-ide yang dinilai progresif dalam karya-karya novelnya. Seremonial pemberian penghargaan itu dilakukan saat Gala Opening. Malam itu, Pierre Coffin, sang putra, menyodorkan lengannya untuk menggantikan tongkat sang Ibu, memandunya sampai ke atas panggung (saya baru tahu beberapa hari sebelum acara bahwa Pierre Coffin adalah putra N.H. Dini). N.H. Dini menerima penghargaan atas kontribusinya yang ia wujudkan dalam karya-karyanya, disaksikan tamu undangan dan hadirin Gala Opening, di antara mereka duduk pula perwakilan kedutaan-kedutaan negara sahabat dan pejabat kementerian pariwisata RI.

Sejumlah lokasi dipilih sebagai venue untuk menggelar acara-acara tersebut. Venue-venue yang dipilih juga terbilang unik, mulai museum, kafe, saung, joglo, hingga puri yang juga biasa disebut “Ubud Palace” atau Puri Ubud. Suatu waktu, saya baru saja selesai mengikuti kegiatan di Museum Neka untuk menyaksikan sesi sharing Pierre Coffin, topiknya tentang kisah di balik penemuan karakter Minion “Despicable Me”. Ketika saya berjalan menuju lokasi acara berikutnya—saat itu kebetulan saya memarkir motor sewaan di tempat lain—seorang perempuan berlari tergopoh-gopoh dari arah berlawanan. “Anda baru dari Neka?” (dia mengetahui saya pengunjung UWRF dari nametag yang saya kenakan, semua orang mengenakan nametag di acara ini). Saya mengiyakan. Lalu dia bertanya lagi apakah acara Pierre Coffin sudah selesai. “Ya, baru saja selesai. Sekarang mereka sedang sesi tanda-tangan,” jawab saya. Ia lalu menampakkan ekspresi kecewa. Terlambat, pikirnya. Sambil mengucapkan terima kasih ia pun berlalu, melanjutkan jogging-nya menuju Museum Neka. 

Pada hari pertama festival digelar, saya menghadiri sesi sharing N.H. Dini. Sebuah aula yang “terbuka” dengan ditopang tiang-tiang dan selapis dinding di latarnya, telah disesaki peserta bahkan sejak acara belum dimulai. Selama acara berlangsung, entah itu penulis, jurnalis, atau sekadar penikmat literasi, dengan antusias mendengar cerita N.H. Dini. Baginya, menulis adalah upaya peninggalan jejak dan proses pengawetan ide. Suatu saat kita pasti akan wafat, tapi tulisan dan ide-ide kita akan tetap hidup selama ada yang membaca dan mengapresisasinya. N.H. Dini yang usianya sudah terbilang senja, masih mempertahankan selera humornya. Hadirin beberapa kali tertawa, salah satunya saat dia melontarkan lelucon bahwa ia menikahi “stranger”. Secara saklek, “orang asing” jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi stranger, padahal padanan “orang asing” yang tepat dalam konteks tersebut adalah foreigner, sementara stranger adalah orang asing dalam artian “orang yang tidak dikenal”. Panitia saat itu sebenarnya sudah mendudukkan seorang penerjemah di sebelah beliau. Namun karena dia bersikeras ingin memaparkannya ceritanya dalam bahasa Inggris, alhasil sang penerjemah hanya sesekali menerjemahkan atau memberikan penjelas. Memang begitulah “gaya” diskusi di UWRF, sederhana, cair, dan santai.  

Momen yang tak kalah menariknya ialah ketika menyaksikan diskusi yang juga diisi oleh para pegiat sastra dan literasi dalam negeri. Penulis-penulis kondang pun ikut meramaikan kegiatan ini. Di antara mereka ada Seno Gumira Ajidarma, Joko Pinurbo, Djenar Maesa Ayu, Trinity, Intan Paramaditha. Leila S. Chudori, Debra Yatim, dan nama-nama lain yang terbilang kawakan pun ikut berbagi. Belum lagi, sesi diskusi yang mengundang para pembicara dari kalangan penulis muda juga seolah menyempurnakan komposisi para pembicara. Karya para penulis muda inilah yang dimuat dalam antologi UWRF yang sejalan dengan tema besar acaranya, mengambil Origins sebagai judul antologi tersebut.
Emerging Writers UWRF 2017

Soal antologi, buku ini merupakan buah dari program Emerging Writers yang diprakarsai oleh UWRF sendiri. Setiap tahun, UWRF membuka kesempatan bagi para penulis tanpa batasan usia maupun kriteria khusus, untuk mengirimkan karya-karyanya. Setiap karya yang diterima panitia akan dikurasi. Tersebutlah dua sosok kurator pada UWRF kali ini, yakni Seno Gumira Ajidarma dan Leila S. Chudori. Karya-karya tersebut kemudian dinilai dan diseleksi. Menurut keterangan yang disampaikan oleh Janet DeNeefe (founder Yayasan Mudra Swari Saraswati, beliau juga merupakan pembina sekaligus Pengarah tim UWRF), naskah ajuan yang masuk berjumlah lebih dari 900. Sungguh, suatu jumlah yang tak main-main. Dari 900-an naskah itu, hanya terpilih 15 naskah untuk dimuat dalam antologi UWRF. Terbayang betapa ketat penialaiannya dan betapa beruntungnya mereka yang berhasil lolos untuk diundang ke Ubud. Emerging Writers yang terpilih akan dipasangkan dengan patron mereka masing-masing, diberi tiket pesawat, disediakan akomodasi dan uang saku selama di Ubud. Asyik, ya? Di UWRF, mereka diberikan sesi untuk membagi pengalaman dan ide-idenya, semua yang orisinal dari tempat mereka berasal. Saya mengikuti beberapa sesi yang diisi oleh para penulis Emerging Writers. Salah satu sesi yang menurut saya cukup berkesan adalah sesi Morika Tetelepta dari Maluku. Tak hanya jago menulis, ia pun pandai bermusik lewat aliran hiphop dan rap. Namun yang membuatnya semakin unik ialah, dalam lagunya ia menyematkan pesan tentang kejujuran bahwa apa yang tampak itu tak selalu nyata; mereka yang bernyanyi belum tentu bahagia, bisa jadi mereka menyanyi justru untuk melupakan kesedihan mereka.

Sebagai perwakilan penerbit, saya hadir di acara launching buku antologi Origins. Bertempat di Casa Luna, sebuah kafe yang lumayan unik; berdiri tepat di atas sebuah anak sungai, dilengkapi pemandangan alami yang dramatis berupa pepohonan yang serba hijau beserta akar belukarnya. Di lantai basement itu, kami semua duduk di atas anjungan yang sesungguhnya adalah “jembatan”, tepat mengangkangi anak sungai di bawahnya. Desain interiornya cukup eksotis, lukisan seorang penari Bali yang berukuran besar menjadi fokus, terpajang di salah satu sisi. Ruangan yang tak terlalu luas itu perlahan dipadati oleh hadirin: panitia, para patron, sponsor, dan tentunya para Emerging Writer si empunya lakon. Janet Deneefe juga hadir, memberikan sambutan dan ucapan selamatnya kepada para penulis. Pada satu sesi sebelum pembacaan karya oleh perwakilan penulis, Wayan Juniarta—salah seorang manajer kegiatan—menyebutkan nama dan meminta satu per satu pihak yang terlibat dalam penggarapan naskah tersebut agar maju ke atas panggung untuk diberikan applause dan foto bersama.

Di bagian penutup, empat orang penulis perwakilan membacakan karyanya. Dua buah puisi dan dua buah esai. Terpancar raut wajah semringah dan penuh gairah dari para penulis. Jelas, ini bukan launching biasa, mungkin pengalaman sekali dalam seumur hidup bagi mereka. Setelah acara demi acara tuntas, kami pun beramah tamah, mengobrol, sekadar bertukar kartu nama, atau obrolan serius lainnya menyangkut proyek penerbitan dan rencana-rencana mereka. Sebuah pengalaman berharga bagi saya untuk mengikut rangkaian acara tersebut dan bertemu dengan orang-orang luar biasa seperti mereka.

Tak terasa, enam hari saya berada di Ubud untuk mengikuti UWRF. Banyak pelajaran yang dapat saya petik, banyak pula pengetahuan yang ikut membenam di benak saya. Pada hari terakhir menjelang senja, panitia sudah berbenah, mengemasi barang-barang. Kursi-kursi, meja-meja, x-banner, dekorasi, bahkan “markas” media center pun mulai dirapikan. Itu semua menandai bahwa pesta literasi tersebut akan segera diakhiri. Seiring dengan hari yang semakin gelap, satu per satu venue menjadi sepi. Namun, bukan berarti semuanya selesai sampai di sana. Kesibukan justru beralih ke Blanco Renaissance Museum. Di sanalah Closing Ceremony yang meriah digelar. Pukul tujuh lebih sedikit, tarian pembuka dipentaskan. Pada malam penutupan itu tumpah ruahlah suka-cita para hadirin, pertunjukan tarian tradisional dan musik alernative-pop pun memberikan jejak yang penuh kesan bagi semua tamu. Pesan penyelenggara pun tak lupa disematkan untuk mengingatkan hadirin pada UWRF edisi berikutnya. Mereka memulainya dengan sangat baik dan menutup semuanya dengan manis.

Kendatipun saat itu status Gunung Agung bagi banyak orang masih membuat galau, tak surut minat para peserta dan pembicara untuk menghadiri festival tahunan di Ubud itu. Bahkan, Nuri Vitachi—ketua asosiasi penulis Asia Pasifik—pada Gala Opening dalam sambutannya menyebutkan bahwa mereka tak gentar untuk hadir ke Ubud, karena semangat merekalah Gunung Agung enggan meletus, katanya berseloroh. Ia memberikan apresiasi sekaligus motivasi bagi seluruh elemen yang terlibat. Ya, walaupun masih diterpa kekhawatiran erupsi Gunung Agung (bahkan panitia menganjurkan kepada seluruh peserta dan pembicara untuk membawa jas hujan dan masker), antusiasme semua orang tak mampu diredam. Acara berlangsung lancar, meriah, dan kaya makna. Sebagai sebuah ajang apresiasi literasi, seni, dan sastra, UWRF merupakan alam permai yang setiap tahunnya menggoda kita untuk berkunjung dan menjelajahinya; baik sekadar menikmati atmosfernya maupun memetik buah-buahan segar yang tumbuh subur di atas tanahnya. Bagi saya pribadi, sungguh saya tak kapok datang ke sana lagi. (Luttfi Fatahillah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar