Selasa, 16 Agustus 2016

Menjadi Manusia karena Buku

Apa yang paling berharga dari seorang manusia ialah akal pikirannya. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Kedua makhluk ini sama-sama makan, sama-sama melakukan ekskresi, sekresi, dan sama-sama bereproduksi. Bedanya, kita bisa bernalar dan menggunakan hati, sementara hewan tidak. Otak dan hati merupakan dua elemen yang membentuk akal dan pikiran. Oleh karena itu di dalam Islam, ada hikmahnya mengapa gerakan sujud menjadi momen yang teramat dahsyat. Salah satu wujud mengagungkan Tuhan sekaligus mengerdilkan diri kita ialah dengan cara bersujud. Otak kita yang sangat berharga ini--di dalamnya terdapat triliunan sel, memuat 1 miliar bit memori (setara dengan 500 set ensiklopedi lengkap), 100 miliar neuron yang fungsinya mengingat dengan 100 triliun koneksi di antara mereka--diletakkan sejajar dengan kaki yang begitu rendah, menyentuh tanah, seolah sederajat dengan telapak kaki kita yang sering menapak pada sesuatu yang kotor. Timbunan protein dan jaringan yang kita namakan otak ini, tak ternilai harganya. Di sanalah ide dan gagasan manusia lahir; meletup dan berdenyut setiap saat.

Produk dari onggokan yang dinamai otak ini adalah ide atau pemikiran. Dengan pemikiran, orang bisa jadi apa saja, orang juga bisa berubah menjadi apa saja. Anda bisa memaksa seseorang untuk melakukan apa pun yang anda mau, tapi tidak demikian dengan pikirannya. Isi hati dan pikiran seseorang takkan dapat dipaksa oleh ancaman atau tekanan dalam wujud lahiriah. Itulah yang membuat sebuah ideologi dapat hidup langgeng walaupun si pencetusnya telah mangkat. Yusuf Estes pernah berkata, "Anda dapat mengunci saya di dalam sebuah peti, lalu melempar saya ke lautan, tapi Anda tidak dapat melakukan apa-apa pada hati (pikiran) saya." Maka, untuk mengubah perilaku atau pemikiran seseorang, caranya ialah dengan melakukan interaksi pemikiran, bukan dengan kekerasan atau tindakan fisik yang gegabah lagi picik. Anda tak bisa meminta seseorang agar berbuat baik melaui paksaan.

Ada banyak media untuk menyuguhkan pemikiran. Apalagi di era teknologi canggih seperti sekarang ini, rupa-rupa media tersedia. Kita hanya tinggal memilihnya saja, sesuai sasaran dan gaya kita. Tapi di tengah itu semua, buku masih menjadi media yang terpandang. Sebab di dalam sebuah buku, tercurahlah gagasan-gagasan dari otak manusia yang tak ternilai harganya. Ia menjadi corong bagi tersebarnya berbagai idealisme dan pemikiran; hasil sulingan ide untuk dicecap segala jenis nalar dan logika. Apa pun bentuknya, baik itu di alam nyata maupun yang tersedia di dunia maya, buku tetap menjadi etalase intelektual yang menawarkan riuhnya gempita pemikiran.

Tanpa ide dan pikiran, tak akan ada buku. Oleh musabab itu, buku dan gagasan menjadi dua sejoli yang tak terpisahkan. Selama ada gejolak pemikiran, buku akan tetap ada. Ia akan senantiasa hadir di tengah peradaban, merekam, melanggengkan, atau justru memupusnya. Maka manusia dengan otaknya yang dijejali ide, tak akan mampu lepas dari buku. Pada tingkatan yang lebih tinggi, membaca saja tidak cukup, tapi menulislah, sebab menulis adalah sarana manusia untuk mencapai "keabadian".

Memandang buku sebelah mata adalah penghinaan terhadap takdir Tuhan. Orang yang tak peduli pada buku sesungguhnya sedang melakukan salah satu keteledoran yang berbahaya. Jika buku tak punya daya teramat hebat, mengapa Tuhan memutuskan untuk memuat firman-Nya pada mushaf-mushaf yang disebut buku? Mesti kita ingat juga, bahwa dalam kepercayaan umat Muslim, ayat pertama yang dilafalkan sang nabi ialah "Iqra" (bacalah; membaca teks, membaca alam semesta, membaca keagungan Tuhan). Merupakan suatu kezaliman manakala kita menganggap buku sebagai benda tak berharga. Sebuah kutipan anonim menyebutkan, "jika kau merasa hanya punya satu nyawa, kamu mesti belajar caranya membaca buku."

Buku bisa mengubah hidup kita. Tentu kita masih ingat dengan cerita tentang petualangan sekelompok anak di pesisir Belitung yang ternyata kelak memberikan dampak positif pada masyarakat di sekitar sana. Tak hanya itu, orang pun jadi tergerak untuk menggali lebih dalam tentang hakikat pendidikan. Jangan lupa juga bagaimana Max Havelaar dapat membukakan mata dunia tentang ironi kekuasaan dan penderitaan bangsa ini kala Indonesia dijerat kolonialisme model lama. Atau coba bacalah The Old Man and The Sea, atau buku-buku motivasi tulisan Nick Vujicic dan Parlindungan Marpaung yang inspiratif dan mengena di hati. Jadi, buku jelas punya daya dan mampu mengubah. Jika kita masih saja tak peduli dengan buku yang dengan narasinya mampu mengubah kehidupan, maka tanyalah diri kita; pantaskah kita disebut manusia.[Luttfi Fatahillah]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar