Jumat, 09 Maret 2018

Wejangan Sir Muhammad Iqbal dan Literasi di Pesantren




Sastrawan, filosof, sekaligus reformis asal Pakistan, Sir Muhammad Iqbal, pernah memberikan wejangannya tentang menulis. Menurutnya, kemampuan menulis sebagai buah dari intelektualitas dapat diasah dengan empat jenis bacaan. Tak hanya menjadikan keahlian menulis kita semakin baik, secara umum kapasitas kita sebagai manusia pun akan ikut terbangun. Ia menuturkan: “Bacalah empat jenis bacaan. Pertama, bacaan tentang agamamu; kedua, buku-buku sastra; ketiga, bacaan-bacaan yang berhubungan dengan pekerjaan, keahlian, atau kesenanganmu; dan keempat, bacaan dengan tema yang sama sekali kamu tidak menguasai atau bahkan tidak kamu sukai.”

Pertama, membaca bacaan atau buku-buku yang berhubungan dengan agama kita. Muhammad Iqbal ialah seorang muslim, yang dengan predikat tersebut ia sadar bahwa atribut kemuslimannya senantiasa melekat. Sebagai seorang muslim, ia tahu bahwa agama merupakan fondasi hidup. Maka, ia menempatkan agama sebagai prioritas. Pandangan seperti ini sejatinya bersifat universal, sebab agama—apa pun itu—berfungsi sebagai fondasi utama dalam perikehidupan kita. Ajaran-ajaran baik dan kebijaksanaan disampaikan oleh setiap agama. Ia merupakan ruh dan inspirasi dari setiap nilai-nilai positif yang berkembang dalam peradaban manusia. Agama juga menjadi filter dan rambu-rambu bagi kita dalam mengarungi kehidupan. Maka benarlah apa yang Muhammad Iqbal katakan, pengetahuan agama seharusnya menjadi kekuatan utama dalam menjalani hidup. Agar kekuatan itu senantiasa menyala, kesadaran serta ilmu pengetahuan dalam beragama pun harus terjaga, yakni dengan terus memasukkan nutrisi ke dalam jiwa kita dengan ajaran-ajaran baik dari agama yang kita anut.

Kedua, bacaan sastra. Mengapa hal ini penting? menurut Muhammad Iqbal, membaca sastra tak ubahnya sebuah menu untuk menajamkan perasaan. Dalam sastra, perasaan dan keadaan batin yang sesungguhnya tak terlukiskan dapat diekspresikan menggunakan bahasa. Manakala kita membaca dan meresapi rangkaian kata dari sebuah karya sastra, rasa kita lewat bahasa akan kian dipertajam, menjadikannya lebih peka, jauh dari sifat keras hati, bebal, sehingga kita lebih pandai menjaga diri dan proporsional saat bersikap terhadap orang-orang di sekitar kita.

Ketiga, bacalah buku-buku atau bacaan yang membahas bidang yang kita sukai atau yang kita kuasai. Bagian ini erat kaitannya dengan aspek manusia sebagai makhluk sosial. Saat kita meningkatkan kapasitas dan keahlian yang kita miliki, secara tak langsung keterlibatan kita dalam kehidupan bermasyarakat akan semakin signifikan. Seorang dengan keahlian yang tinggi akan lebih bermanfaat dan dihargai di dalam komunitasnya. Ia dapat berkontribusi dengan keahliannya tersebut untuk membangun masyarakat. Sebagai pribadi pun, ia akan semakin cakap, andal dalam menggunakan keahliannya yang sudah tentu menjadi modal dan kekuatan baginya untuk mengatasi segala tantangan. Seorang dokter harus terus mengasah ilmunya tentang kedokteran, medis, farmasi, pengobatan, ilmu herbal, dan lain sebagainya. Seorang guru harus terus menambah wawasan dan ilmunya tentang ilmu-ilmu pendidikan serta teknik-teknik mengajar, dan seterusnya.

Keempat, bacalah bacaan atau buku tentang bidang yang tidak kita sukai atau tidak kita kuasai. Mengapa hal ini penting? Untuk apa kita mencari tahu tentang hal-hal yang tidak kita sukai? Bukankah itu hanya buang-buang waktu? Bisa jadi anggapan itulah yang pertama tebersit di benak kita saat mendengar wejangan ini. Tapi menurut Muhammad Iqbal, pada hal-hal yang tidak disukai pun dapat memberikan manfaat bagi kita. Otak kita sesungguhnya dapat menangkap dan menyimpan informasi melalui alam sadar dan alam bawah sadar kita. Informasi-informasi yang “tidak berguna” atau tidak menjadi prioritas untuk kita simpan dalam memori ternyata dapat menjadi semacam potongan-potongan informasi yang dapat dipanggil sewaktu-waktu, secara sadar atau tidak. Ia pun bisa menjadi kepingan-puzzle-pelengkap atas pengetahuan-pengetahuan tidak tidak utuh yang pernah kita terima. Dengan demikian, jangan lupakan untuk membaca hal-hal yang jauh dari keseharian atau bahkan sesuatu yang tidak kita sukai. Jika informasi itu tertanam di alam bawah sadar kita, ia dapat berguna pada saat yang tak terduga.

Wejangan Sir Muhammad Iqbal tersebut tampak kuat mengejawantah ketika Bitread menyambangi Pondok Pesantren Daar-el Qolam di Gintung, Tangerang. Dalam program Bitread Satu Sekolah Satu Buku – Pesantren Menulis, tim Bitread menyaksikan langsung antusiasme dan bakat-bakat terpendam dari para santri dan santriwati di sana. Kegiatan ini merupakan program yang diinisiasi Bitread setelah menyadari dan menangkap adanya potensi literasi yang luar biasa di lingkungan pesantren. Akan tetapi pada faktanya, lingkungan pesantren tampaknya belum terlalu banyak terjamah oleh program-program literasi mainstream yang jamak digelar. Kebanyakan program literasi yang melibatkan pesantren lebih bersifat kegiatan workshop atau event-event lain yang sifatnya insidental dan tak berkesinambungan. Oleh sebab itu, Bitread hadir ke hadapan masyarakat pesantren dengan membawa sebuah program literasi yang secara kontinyu dapat mengasah minat dan bakat mereka di bidang literasi.

Delapan puluh peserta One Day Wokrshop memadati ruangan. Kegiatan ini gratis, tanpa memungut biaya dari para santri. Para santri hanya diwajibkan membuat sebuah karya—cerpen, esai, atau artikel—sebagai tiket workshop tersebut. Selama sehari, mereka dibekali pengetahuan, wawasan, serta motivasi yang berhubungan dengan kepenulisan. Pada sesi pertama, mereka mendapatkan informasi tentang latar belakang program Pesantren Menulis, menyadarkan bahwa di pesantren-pesantren sebenarnya terkandung potensi literasi yang besar. Mereka disadarkan bahwa menjadi santri adalah kekuatan yang tak dimiliki semua orang. Sebagai seorang santri, mereka digembleng dengan pengajaran agama yang menjadi porsi terbesar dalam keseharian mereka, mereka dituntut untuk berdakwah dan diamanahi ilmu untuk menyebarkan risalah Islam lewat lisan dan laku mereka. Jika mereka memiliki kemampuan menulis, hal tersebut akan semakin menyempurnakan predikat mereka sebagai santri calon pewaris para ulama. Mereka sadar, menjadi santri tak hanya harus pandai berorasi dan berdakwah secara verbal, kepiawaian mereka dalam menulis pun dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah dan syiar yang efektif.

Tak ketinggalan, materi-materi motivasi pun dipresentasikan ke hadapan mereka, membuat mereka semakin yakin arti penting menulis, nilai luhur kegiatan menulis sebagai salah satu wujud budaya literasi. Pada sesi kedua selepas tengah hari, lokasi workshop beralih ke sebuah area hijau di tepi danau. Di sana, mereka ditantang untuk mempraktikkan ilmu dan wawasan yang mereka peroleh pada sesi pertama. Secara individu dan berkelompok, mereka ditantang untuk mencari  inspirasi, memperoleh ide, dan meramu ide tersebut untuk dieksplorasi dalam karya yang akan mereka tulis. Hingga sesi akhir, semangat mereka tak surut. Beberapa di antara mereka bahkan menyanyangkan bahwa program tersebut hanya dilaksanakan dalam satu hari saja, seharusnya program seperti ini dapat menjadi kegiatan mingguan atau bulanan yang diselenggarakan secara rutin.

Program Pesantren Menulis sebenarnya tidak terhenti sampai di sana. Setelah mengikuti One Day Workshop, mereka akan dibimbing dalam program konsulitasi penerbitan selama dua bulan hingga mereka benar-benar menerbitkan karya, baik itu karya kolektif, antologi, maupun karya individu. Dua puluh lima karya terbaik dari karya yang mereka kirimkan sebagai tiket workshop pun akan dipilih dan dikurasi oleh Pidi Baiq, untuk kemudian diterbitkan dalam antologi terbaik pesantren. Bukan berarti karya-karya lainnya menguap atau dilupakan begitu saja, karya-karya lainnya juga akan tetap dikurasi dan dibimbing hingga menjadi sebuah naskah yang siap diproses di meja redaksi. Aksan Taqwim Embe, pengajar Pesantren Daar-el Qolam sekaligus penulis yang tahun lalu terpilih sebagai salah seorang emerging writers di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017, sangat mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan seperti ini harus secara reguler dilasaksanakan untuk memfasilitasi potensi para santri, utamanya dalam bidang literasi dan kepenulisan. Ia yakin bahwa melalui program ini, dapat ditemukan benih-benih penulis dari kalangan pesantren yang dapat berbicara banyak di kancah literasi Indonesia.

Bitread terus mengajak pesantren-pesantren dan sekolah umum lainnya untuk dapat bergabung dalam program Satu Sekolah Satu Buku. Daar el-Qolam tak akan menjadi perhentian pertama dan terakhir bagi program ini, sejumlah pesantren dan sekolah lainnya telah siap bersinergi bersama Bitread untuk mensukseskan program ini.

Kata-kata Sir Muhammad Iqbal dalam pembukaan tulisan ini telah ada pada pribadi santri. Agama mereka telah terbina, bahkan menjadi elemen utama dalam kurikulum pendidikan yang mereka jalani. Di pesantren tentu tak hanya ilmu agama yang diajarkan kepada santrinya, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan ilmu pasti ataupun ilmu sosial turut mereka peroleh. Dengan motivasi yang ditularkan dalam workshop ini, kehausan mereka dalam menuntut ilmu melalui aktivitas membaca akan kian memuncak. Hal ini berimbas pula pada minat baca mereka. Tak hanya bacaan yang mereka senangi saja, misalnya sastra dan fiksi, bacaan-bacaan yang sesuai dengan bidang keilmuan dan keahlian yang mereka sukai pun tak akan luput sebagai bahan bacaan mereka.
Bitread Satu Sekolah Satu Buku – Pesantren Menulis akan menjadi tonggak peningkatan kapasitas santri dalam menjalankan segala fungsi dan amanah mereka di tengah masyarakat. Jika yang bukan santri saja bisa menjadi seorang yang hebat dan bermanfaat bagi masyarakat, maka seharusnya seorang santri yang pada dirinya kaya akan pengetahuan, wawasan, dan kesadaran spritual tentu dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Lewat menulis dan media literasi seperti buku, pengetahuan dan ilmu mereka akan tersebar ke tengah masyarakat, mengispirasi dan menjadi titian jalan menuju kejayaan negeri. Maka tak salah jika kita katakan bahwa menulis adalah suatu jalan untuk mengabdi  dan mengabadi.[Luttfi Fatahillah]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar