Rabu, 27 Januari 2016

Cerpen: Bencana Terakhir di Bumi


“Cepat!” seorang pria menyalak di mulut sebongkah pintu besi. Sebelah tangannya memegang tuas pengunci dari dalam. Pria satunya, berlari secepat yang ia bisa tanpa sedikit pun menengok ke belakang. Maka pada jarak yang menurutnya pas, ia melompat; mengempaskan dirinya ke dalam ruangan yang gelap itu. Pintu besi lekas ditutup. Terdengar suara dentang keras, disusul bunyi nyaring putaran gerigi yang menandakan pintu besi itu telah sepenuhnya terkunci. Seketika kegelapan menelan mereka bulat-bulat. Pria yang masuk terakhir masih terengah-engah, setengah mati ia berusaha mengatur napas. Setelah situasi agak tenang dan tak terdengar suara apa pun dari balik pintu, seketika mereka bergidik saat menyadari bahwa ruangan itu benar-benar gulita. Sempurna seperti kehendak mereka.

“Kau sudah menyalakan ventilasinya?” suara itu serak dan berat, masih sedikit terengah.

“Sudah,” jawab pria satunya.

Lumrahnya, beberapa saat setelah mata kita terbiasa dengan kegelapan, bentuk-bentuk mulai muncul samar secara perlahan. Tapi tidak dengan kegelapan seperti ini, kegelapan yang memerangkap mereka (atau justru menyelamatkan), bukanlah kegelapan biasa. Mereka berdua cukup pintar untuk menciptakan kegelapan seperti itu. Tak ada secuil cahaya pun yang mampu menyelinap ke dalam ruangan besi itu. Dan andai mereka melupakan sistem ventilasinya, ruangan itu niscaya akan menjadi sarkofagus raksasa buat mereka.

“Kau lihat itu? mereka semua mati!”

“Aku sudah cukup melihat itu semua. Aku pernah menyaksikan bagaimana mereka mati,” jawab pria yang lebih dulu berada di ruangan itu.

Saat itu sekira akhir zaman, tengah terjadi suatu bencana yang maha ganjil. Sesosok makhluk yang konon berwujud bayangan hitam, menghabisi nyawa penduduk bumi secara massal. Kematian mereka bisa dibilang mengerikan; tubuh-tubuh bergelimpangan tak bernyawa seperti batu. Memang, jasad para korban tidak sepenuhnya berubah menjadi batu; sebab masih tampak urat kehitaman bertonjolan serupa akar dari kulit mereka yang pucat. Sementara tubuh mereka kaku, rupa-rupa pose kematian meninggalkan jejak di tempat kejadian. Tak ada yang mampu lolos dari teror itu, bahkan sebagian dari mereka kehilangan nyawa saat berusaha melarikan diri. Kala bayangan itu datang menerkam, tubuh-tubuh pun mengejang lantas ambruk seperti pohon tumbang.

Enam bulan lamanya mereka berdua membangun ruangan kedap cahaya itu, persis setelah bencana itu menjalari seantero bumi selama enam bulan pertama sejak kemunculannya. Pada fase awal, makhluk itu bergerak lambat. Perlu dua bulan baginya untuk melumpuhkan sebuah kota. Berita lantas menyebar seperti api melalap rumput kering di musim kemarau. Bulan ketiga, sepetak provinsi tiba-tiba menjadi pulau mati. Saat itu, seluruh penduduk dunia terlambat menyadari bahwa ternyata makhluk itu mampu menyeberangi lautan. Bulan keempat, sepotong benua mengalami nasib yang sama. Orang-orang tak sempat mengungsi sebab mereka terlalu takut untuk keluar rumah. Bulan kelima, tanda-tanda peradaban manusia yang maju, tak ditemui lagi di separo bumi. Bulan keenam—bulan saat kedua orang ini mulai membangun sebuah kamar besi—kota-kota dunia tak lagi disesaki manusia.

“Kau sudah siapkan perbekalan?” tanya salah seorang dari mereka. Agaknya laki-laki kedua, yang belakangan memasuki ruangan itu.

“Sudah. Semua kutaruh dalam peti penyimpanan.”

Sesaat kemudian, ia tahu bahwa temannya itu tengah berjalan dan berusaha meraba-raba permukaan dinding yang terbuat dari besi. 

“Kau tak berhasil menemukan kacamata inframerah?” tanya pria bersuara serak.

“Tidak. Aku coba menemuimu tapi…”

“Lupakan. Aku sudah coba mencari di tangsi dan fasilitas lainnya. Nihil,” suara serak dan berat itu menginterupsi.

“Yah, mungkin orang-orang itu punya ide sama dengan kita. Apa kau sempat melihat wujud bayangan itu?”

Tak ada jawaban. Suara sol sepatu yang menjejak permukaan lantai sempat mengalihkan perhatian pria pertama. Walau dalam gelap, mereka paham benar setiap jengkal bungker itu. Berikutnya, terdengar suara gerak peristaltik kerongkongan yang tengah dilalui air. Diikuti bunyi desahan dari mulut kawannya yang basah.

“Aku tak melihatnya. Kau tahu, aku terlalu takut melihat ke belakang.”

“Sayang sekali, padahal siapa tahu kau jadi satu-satunya orang yang berhasil melihatnya.”

“Satu-satunya, dan mati. Kau bercanda. Aku sama sekali tak ingin melihatnya. Aku sudah cukup melihat korbannya. Aku tak perlu tahu bagaimana rupa pembunuhnya. Aku terlalu pengecut.”

“Kutahu kau tak cukup bodoh untuk melakukan itu. Setidaknya, kita bisa selamat, kan?”

“Yah, untuk beberapa hari. Kita lihat saja nanti. Tapi, jika kau yang berada pada posisiku tadi. Kurasa kau punya cukup nyali untuk menengok ke belakang. Aku terlalu tua untuk semua kegilaan ini. Kau masih muda, kau lebih kuat dan larimu lebih cepat.”

Suara tawa parau terdengar di ruangan gelap itu.

“Tak mungkin. Aku lebih pengecut daripada kau. Bukankah aku yang pertama kali mencapai tempat ini, dan sejujurnya aku sempat punya pikiran untuk meninggalkanmu tadi, jika sedikit saja kau terlambat.”

“Sial!” Ia hampir saja tersedak karena air pada tegukan terakhir belum sempurna ia telan.

“Tapi kupikir, daripada tinggal sendirian di tempat seperti ini. Mati barangkali lebih baik,” lanjut pria pertama.
“Aku setuju. Dan betapa bodohnya kita membuat tempat seperti ini.”

“Tidak juga. Kupikir idemu masuk akal. Tak akan ada bayangan selama tak ada cahaya. Ya, kan?”

“Kira-kira begitu. Bukankah sifat bayangan seperti itu?”

“Ya, aku yakin ini berhasil. Tapi, apakah makhluk itu bisa menembus permukaan, dinding besi misalnya?”

“Aku tak tahu. Kenapa kau kira aku tahu?”

Pria pertama berjalan ke arah pintu. Langkah kakinya begitu hati-hati di atas lantai yang juga terbuat dari besi.

“Mau ke mana kau?”

“Sssst. Sebentar.” Kita tak tahu, apa orang ini menyimpan jarinya di bibir atau mulutnya mengeluarkan suara desis begitu saja.

“Ada apa?”

Tak ada jawaban. Sunyi. Apa yang lebih buruk dari ruangan gelap, pengap, dan senyap?

“Hei, jangan membuatku takut!”

“Diam!”                                                                                                                                                                                                                                       
Pria kedua hanya dapat menduga-duga apa yang dilakukan temannya itu. Tapi ia membayangkan temannya itu sedang menempelkan kupingnya ke permukaan pintu besi. Bodoh, pikirnya. Mungkin dia lupa seberapa tebal dinding besi ini. Bukankah temannya itu ikut merancang ruangan ini. Kau tidak akan mendengar apa-apa dengan permukaan besi setebal delapan inci dengan telinga telanjang.

“Apakah makhluk itu mampu mendengar kita dari luar?”

“Kau tadi berusaha mendengar lewat pintu itu? Apa yang kau dengar?”

“Tak ada.”

“Jika saja makhluk itu punya kemampuan mendengar. Mungkin ia juga tak mampu mendengar kita dari luar.”

Lagi-lagi senyap. Lalu tiba-tiba terdengar suara gaduh, lantai yang berdecit, dan suara gedebuk cukup keras. Semua itu mengagetkan pria satunya. Ia tersentak mundur dan berjalan terpatah sambil menyapukan tangannya ke sana kemari. Ia merasa heran ketika didapatinya permukaan dinding itu terasa semakin dingin.

“Hei, kenapa kau?”

Hening. Tak ada sahutan.

“Huh, kalian sok pintar!”

“Maksudmu?” tanya si pria kedua, tak paham maksud dari sergahan tadi.

“Sok pintar dan naif!”

Pelan-pelan si pria beringsut mundur. Tangannya masih menapaki dinding besi yang kian dingin, seakan tak berapa lama lagi akan membeku. “Ada apa denganmu?” Ia merasakan sesuatu mendekat ke arahnya.

“Vlad, kenapa dengan suaramu?”

“Haruskah aku meniru suaranya?”

Walaupun kita tak mampu melihat ekspresi wajah pria kedua. Kita bisa tahu bahwa kini matanya terbelalak dalam kegelapan. Satu hal yang membuatnya semakin malang ialah selebar apa pun ia membuka matanya, tetap hanyalah kegelapan yang ia lihat. Gelap, bahkan kegelapan itu kian meraja dan seolah berusaha membekap jiwanya. Tenggorokannya tercekat. Setelah berhasil mengumpulkan keberanian, si pria melontarkan sebuah pertanyaan.

“Se…sejak kapan?”

“Sejak kau ragu bahwa aku bisa mendengar,” jawab suara itu. Tawa licik berderai lepas; berdesakan di kegelapan total.

“Bukankah kau bayangan? Ba… Bagaimana bisa?”

“Kau salah. Aku bukan bayangan, akulah kegelapan!”

Pria itu lemas dan terseok menjauh dari sosok tak kasat mata itu. Tiba-tiba, ia merasa udara dalam paru-parunya secara perlahan disedot keluar. Ia berusaha mencari pegangan, tapi hanya dinding besi yang mampu ia raih: dingin, sedingin hawa kematian. Waktunya tak lama lagi. Pria ini berusaha bernapas sekuatnya tapi hasilnya sia-sia belaka. Ajaibnya, pada saat terakhir ia masih bisa berucap lirih, “… kegelapan.”

Lalu urat-urat dalam tubuhnya mengeras, darah hitam mengalir deras dalam pembuluhnya hingga pada suatu waktu serentak terhenti. Di antara tawa terbahak yang bengis, manusia terakhir itu mengejang, lantas roboh bagai pohon tumbang.[Luttfi Fatahillah]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar