Kamis, 31 Desember 2015

Menuju Perbaikan Diri

Hari-hari sibuk di pengujung tahun. Sebuah tugas ajaib dengan deadline mepet yang cukup menantang, menghadapkan saya pada risiko dengan tingkatan yang lebih tinggi. Akhirnya setelah semua kesibukan mereda, saya bisa menulis lagi di blog ini. Sempat ada beberapa bahan tulisan yang rasanya mendesak ingin dituangkan, tapi memang pekerjaan-pekerjaan mendadak dan agenda-agenda pelesiran sangat menyedot perhatian. Alhasil, baru sekaranglah blog ini bisa kembali terisi dengan sebuah tulisan. Topik-topik menarik yang ingin saya angkat itu sepertinya lebih enak dibuat terpisah. Tapi karena sisa umur tanggal 31 tinggal menghitung jam sementara saya ingin bercerita lebih panjang, biarlah mereka saya pampatkan dalam sebuah tulisan saja. Semuanya masuk di sini. Entah seperti apa nantinya. Tapi, marilah kita mulai menulis.

Jadi begini, bulan ini ada beberapa hal unik yang saya temui. Mulai dari seminar, tugas tambahan, pelesiran ke beberapa tempat yang cukup berkesan, sampai momen menyambut tahun baru 2016. Begini saja, saya rangkum semuanya biar tidak terkesan terlalu memaksa untuk diuraikan satu per satu. Saya akan membuat sebuah wajan bernama “perbaikan diri”. Semua hal yang saya alami pada bulan ini, akan saya tuangkan, aduk ke dalamnya lalu direbus berbarengan hingga menjadi sesuatu yang bisa ditelan.

Saya menemukan benang merah dari semua pengalaman yang saya alami akhir-akhir ini. Ini merujuk pada sesuatu yang tadi saya sebut sebagai “perbaikan diri”. Tentu saja, perbaikan diri yang paling ideal ialah ketika segala sendi dalam kehidupan kita dapat kita perbaiki dan benahi. Maka saya mengajak—pertama-tama—untuk memperbaiki diri kita demi kebaikan keluarga kita. Mengapa? Sebab keluarga adalah fondasi sebuah negeri. Saat keluarga-keluarga yang menjadi tulang punggung sebuah negeri sehat, maka negeri itu pun dapat berdiri tegak. Sementara kekokohan keluarga dimulai dari kehidupan rumah tangganya. Dalam seminar rumah tangga yang saya ikuti waktu itu, terasa benar bahwa kebahagiaan rumah tangga akan berdampak pada kualitas hidup kita. Dan kebahagian rumah tangga hanya akan tercapai manakala si suami dan si istri berusaha saling membahagiakan (credit untuk Teh Mimin Aminah “Smartlove”). Pokoknya, suami yang bisa membahagiakan ialah suami yang dibahagiakan; istri yang mampu membahagiakan ialah istri yang dibahagiakan. Rumah tangga ialah persoalan dua belah pihak, bukan soal hati sebelah-sebelah semata. Ulang tahun kedua pernikahan saya baru saja saya lewati. Ini jadi momen baik untuk menerapkan perbaikan dan hal-hal positif tadi.

Kemudian, kita mesti optimis pula dalam memandang hidup. Bisa jadi ada banyak hal yang menjadi batu sandungan. Tapi selama kita punya hati, Tuhan selalu mampu menunjukkan jalan. Entah itu untuk sukses, atau untuk keluar dari kesulitan. Tugas dengan deadline mepet itu contohnya. Sepertinya pekerjaan itu tak bakal selesai tepat waktu, tapi siapa bisa mengira. Dengan tekad dan sedikit pengorbanan, serta playlist lagu di mediaplayer yang sebenarnya acak-acakan, akhirnya pekerjaan itu selesai juga. No guts no glory, no pain no gain. Memang itu ungkapan paling pas saat kita membicarakan sebuah pencapaian. Berikutnya, menunggu lawan-lawan tanding lainnya yang tak bisa saya anggap lebih ringan. Apa pun itu, hadapilah karena kita tak bisa dikalahkan (meminjam kutipan dari The Old Man and The Sea-nya Ernest Hemingway, “Manusia bisa dihancurkan tapi tak bisa dikalahkan.”)

Dan lantas, orang-orang datang dan pergi. Mereka datang sendiri-sendiri tapi sepertinya sepakat untuk pulang dalam satu rombongan. Agak ironis (hanya saya yang tahu tentang makna kalimat-kalimat ini, yang terhubung dengan pengalaman saya dalam seminggu terakhir ini). Tahun depan sudah menunggu, ada banyak perubahan yang terjadi. Tapi percayalah, tugas manusia sederhana, kita hanya diwajibkan untuk berusaha sekuat tenaga demi mencapai tujuan kita. Urusan berhasil atau tidak, itu bagian Allah. Dan segala perubahan di pengujung tahun ini, atau perubahan-perubahan yang menanti di tahun depan nanti, jadikanlah semacam batu gerinda untuk menajamkan naluri sebagai manusia. Melembutkan hati dan watak kita, serta mengagungkan akhlak kita.

Jadi, begitulah. Selama akhir tahun ini banyak hal yang terjadi. Semuanya terlalu menyibukkan sampai-sampai waktu seolah dipaksa dipadatkan dalam sebuah kotak korek api. Pengalaman-pengalaman yang cukup seru untuk menyambut tahun baru. Well, selamat tinggal tahun-tahun penuh intrik, selamat datang tahun baru yang masih malu-malu. Mungkin inilah saat yang tepat bagi perubahan dan “perbaikan diri”; dari dalam diri kita dan untuk sekitar kita. Menuju yang lebih baik, pastinya.[Luttfi Fatahillah]  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar