Kamis, 23 April 2015

God Works in A Mysterious Way

Waktu itu, saya diminta orang rumah untuk membawakan bubur ayam, sepulang kerja. Itu berarti saat pulang saya mesti mencarikan dulu tukang bubur ayam atau tempat jualan bubur ayam yang buka malam-malam. Untunglah, saat ini tukang bubur ayam tidak hanya ramai saat pagi hari saja, sebab malam hari pun, sudah banyak penjual bubur ayam yang menjajakan dagangannya. Intinya, buat saya permintaan itu tak jadi masalah. Tapi kemudian, saya mengingat-ngingat, sejauh yang saya tahu, hanya ada dua tempat jualan bubur ayam yang buka (juga) waktu malam. Yang satu tempatnya agak jauh—sehingga saya mesti mengambil jalan yang agak memutar ketika pulang—dan satu lagi tak begitu jauh dari rumah, kira-kira hanya makan waktu sepuluh menit dari rumah, tapi sayangnya di situ harganya mahal.
Menjelang jam bubaran kantor, tiba-tiba hujan turun deras. Saya sempat hendak mengurungkan niat membawakan bubur ayam ke rumah. Namun setelah ditimbang-timbang, kasihan juga orang rumah yang sudah membayangkan hangatnya bubur ayam untuk santap malam mereka. Akhirnya, saya niatkan untuk menerabas hujan. Untunglah jas hujan milik saya selalu siap sedia melindungi saya dari guyuran hujan. Berangkatlah saya dengan niat mencari bubur ayam, setelah salat Magrib di masjid dekat kantor. Di atas motor, saya mengingat-ngingat lagi, kiranya di mana saja tempat jualan bubur ayam atau tempat-tempat yang memungkinkan tukang bubur ayam mangkal.
Saat itu, jalanan cukup ramai, sementara cuaca seperti ini biasanya bisa mengulur waktu tempuh cukup panjang, kadang memang kenyataannya seperti itu karena jalanan macet, kadang cuma perasaan saya saja. Dinginnya hawa malam pun kini terasa berlipat-lipat dengan derasnya hujan yang turun. Demi membawakan bubur ayam ke rumah sesuai permintaan, kondisi demikian tak saya pedulikan. Sesuai rencana, saya menuju tempat jualan bubur ayam yang tempatnya agak jauh. Sengaja, daripada saya mesti beli bubur ayam mahal-mahal ke tempat yang satunya lagi.
Nahas, ternyata tempat itu tutup. Saya tidak tahu, dia kebetulan tutup malam itu, ataukah memang tak berjualan lagi. Sudah lama saya tidak lewat sini. Dengan perasaan kecewa, sebentar saya meratapi tempat itu. Isyarat buruk, saya mesti membeli bubur ayam mahal di tempat lain kalau seperti ini ceritanya, pikir saya. Namun kemudian, saya justru memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan terus menyusuri jalan itu, berandai-andai menemukan tempat lain atau secara kebetulan menemukan gerobak bubur ayam yang sedang mangkal. Tapi memang entah mengapa, saat itu insting saya mengatakan bahwa saya bakal menemukan bubur ayam jika terus melanjutkan perjalanan. Motor pun saya kendalikan pelan-pelan, tampak seperti hendak menepi ke arah trotoar. Tak ada cara lain agar mata saya cukup awas memperhatikan ruas kiri jalan; hujan agak mengganggu pandangan sehingga penglihatan pun jadi kurang awas. Pelan-pelan saya susuri jalan agar tidak menabrak kendaraan di depan, sebab saya mesti memperhatikan pula sisi kiri saya, siapa tahu ada tukang bubur ayam.
Kira-kira sepuluh menit kemudian, tampak sebuah gerobak hijau yang “mencurigakan” di pinggir jalan. Samar-samar saya baca tulisan di gerobak itu: “BUBUR AYAM”. Rasanya seperti menang lotere. Mendekatlah saya ke sana kemudian memarkirkan motor di dekat gerobak itu. Saya celingak-celinguk, mencari si empunya gerobak. Ternyata dia sedang berteduh di warung dekat sana. Seorang Bapak yang tak terlalu tua, tampak jelas sedang gundah menanti pelanggan. Mungkin dia serasa mimpi juga melihat seorang pelanggan yang muncul di tengah hujan deras seperti ini. Kami sama-sama terpana karena rasanya seolah dipertemukan takdir. Saya lekas pesan bubur ayam, dibungkus. Dengan sigap dan semangat si Bapak menyiapkan pesanan saya. Saya bersyukur akhirnya bisa menemukan tukang bubur ayam. Dan dalam hati, saya rasa si Bapak ini pun bersyukur juga sebab ada pembeli yang muncul di tengah kondisi seperti ini. 
Pesanan pun selesai dibungkus. Harga satu porsinya tujuh ribu rupiah, tapi karena hati saya sedang senang tak kepalang, maka saya bulatkan tarif tiap porsinya jadi sepuluh ribu. Tentu saja, si Bapak pun jadi riang tak terkira. 
Saya pun pulang membawa bubur ayam sambil bernyanyi-nyanyi di atas motor. Hujan pelan-pelan reda. Di tengah jalan, saya sempatkan diri melamun. Saya merasa bahwa ini semua memang bukanlah kebetulan. Saat menemukan tempat bubur ayam yang tadi tutup, ada sesuatu yang mendorong saya sehingga saya merasa bahwa di depan sana bakal saya temukan tukang bubur ayam yang lain. Padahal bisa saja saya langsung putar arah dan membeli bubur ayam yang mahal daripada susah-susah mencari. Tapi nyatanya, saya terus menyusuri jalan hingga kemudian menemukan gerobak bubur ayam itu. Di waktu bersamaan, mungkin saja si Bapak penjual bubur ayam juga sedang putus asa karena tidak ada pembeli yang menyatroninya. Kemudian secara dramatis, saya menjadi perantara rezeki yang turun dari langit buat dia. Dan bagi saya, dia pun seolah “dewa penolong” yang dikirim Tuhan karena saya mengikuti dorongan perasaan.
Itulah yang terjadi. Nyata sekali saya digerakkan oleh sesuatu, mungkin optimisme akan peruntungan saya, hingga akhirnya menemukan gerobak bubur ayam itu di tengah kondisi yang sedemikian rupa. Si tukang bubur pun mungkin saat itu terus berdoa agar dipertemukan dengan pelanggannya. Bagi saya, semua itu bukanlah kebetulan, pengalaman itu menjadi bukti bahwa Tuhan memang kadang berlaku dengan cara yang misterius. Dia memberi rezeki buat si tukang bubur ayam itu lewat perantara saya. Tapi tiba-tiba, sesuatu menyentil pikiran saya: bukankah saya pergi mencari bubur ayam karena orang rumah meminta saya mencarikan bubur ayam? Jadi, sebenarnya apa/siapa yang memulai rantai ini? Ah, God trully works in a mysterious way.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar