Selasa, 12 September 2017

Penerbitan Alternatif: Pejuang yang Bergerak di Keheningan


Sebuah pepatah anonim mengatakan, “Jika kau hanya punya satu nyawa, kau mesti belajar cara membaca.” Pepatah itu tak berlebihan rasanya, mengingat kegiatan membaca—seperti yang telah kita ketahui—sangatlah bermanfaat. Namun, tampaknya pengetahuan kita tentang pentingnya membaca tak lantas jadi suatu pemahaman maupun kesadaran. Betapapun ia telah menempel pada kerak di benak kita, kesadaran untuk melakukan aktivitas membaca tertinggal di langit-langit kerongkongan atau di ujung lidah semata. Ia tak lantas jadi suatu perilaku maupun kebiasaan yang mengejawantah.
Sangat sedih rasanya, mendengar hasil survei dari Connecticut State University tentang Most Literate Nations. Dari 62 negara yang disurvei, Indonesia hanya lebih baik daripada Bostwana (sebuah negara berkembang di Afrika Tengah), menempatkan negeri kita di urutan ke-61, kedua dari bawah. Mari kita renungkan hal tersebut. Betapa negara sebesar ini, dengan jumlah penduduk terbesar keempat, memiliki sumber daya alam terlengkap di dunia, ternyata tak dapat berbicara banyak di percaturan global. Fakta yang menohok ulu hati kita adalah: budaya literasi dan minat baca masyarakat kita sungguh di bawah rata-rata dibandingkan negara lain. Perlahan negara-negara tetangga mulai merangkak naik, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan negara-negara lain di Asia Tenggara mulai menununjukkan tajinya. Sementara itu, dalam kaitannya dengan budaya literasi, negara kita hanya bisa berada di atas Kamboja dan Laos, tersisih dari negara-negara yang dikenal dominan di Asia Tenggara.
Kemudian, mari kita bergeser ke Barat. Negara-negara dengan sistem pendidikan terbaik seperti Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia, menempati posisi-posisi terbaik dalam rangking literasi dan pendidikan. Ternyata, itu sejalan pula dengan survei kualitas kesejahteraan penduduknya, menempatkan negara-negera tersebut di urutan 20 besar negara terkaya dan termakmur. Maka, simpulan yang dapat kita tarik ialah: Jika negara dan masyarakat ingin maju, jangan lupakan pendidikan dan literasi. Kedua hal tersebut menjadi fondasi untuk memajukan sebuah negeri. Perjuangan untuk menjadikan literasi sebagai fokus sama pentingnya dengan menjadikan sektor pendidikan sebagai prioritas pembangunan sumber daya manusia.
Lantas, bicara soal literasi tak akan terpisahkan dengan buku sebagai sumber bacaan. Manakala berbicara tentang buku, aktivitas penerbitan pun mutlak harus kita telaah sebagai keniscayaan dalam pengadaan suatu bahan bacaan. Oleh sebab itu, penerbitan mesti mendapat tempat yang istimewa. Termasuk sistem-sistem penerbitan lainnya yang tergolong ke dalam sistem penerbitan alternatif. Sedikit wawasan yang bisa dibagi, jumlah terbitan buku di Indonesia tergolong rendah, tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Jumlah ini lebih rendah dibanding Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun, India 60.000, dan China sekitar 140.000 judul buku per tahun. Tentunya hal ini patut menjadi pertanyaan, perbandingan jumlah penduduk Indonesia dengan jumlah judul yang diterbitkan tampaknya sangat tak sebanding. Lain halnya dengan Jepang misalnya, yang jumlah penduduknya setengah dari jumlah penduduk Indonesia, yang mampu menerbitkan hingga 40.000 judul per tahun (hampir 2,5 kali lipat dari jumlah judul terbitan per tahun di Indonesia). Tak dapat dipungkiri pula, bahwa Jepang memiliki kualitas pendidikan yang baik dengan status negaranya yang maju. Literasi, pendidikan, dan minat maca saling berkelindan, membentuk suatu sulur-sulur yang menjadi akar dan fondasi bagi kemajuan suatu bangsa. Dengan demikian, kita tak lagi boleh menutup mata terhadap unsur-unsur tersebut.
Nah, bicara soal penerbitan, secara umum terbagi menjadi penerbitan tradisional dan self publishing. Sederhananya, pada penerbitan tradisional, penulis menyerahkan naskahnya berikut hak ekonomi atau hak eksploitasi naskah tersebut kepada penerbit dalam jangka waktu yang ditentukan. Hal ini terjadi ketika penerbit merasa sreg dengan naskah tersebut dan melihat adanya prospek yang baik di pasar atas naskah tersebut. Penerbit konvensional ini kemudian akan menggarapnya melalui proses editorial, mencetaknya, hingga kemudian menerbitkannya. Adapun pada self-publishing, si penulis menerbitkan naskahnya sendiri hingga menjadi buku. Seringkali pada self-publishing, penulis memiliki brand sendiri sebagai bendera atas naskahnya. Permodalan hingga perhitungan keuntungan sepenuhnya diatur oleh si penulis.
Pada perkembangannya, muncul istilah hybrid publishing. Sistem penerbitan ini merupakan kategori yang tak menempatkan dirinya pada kedua kategori sebelumnya (di luar tradisional dan self publishing). Ia merupakan makhluk baru yang muncul karena improvisasi dari para penerbit mayor maupun dari sebuah agensi penerbitan atau penyedia jasa penerbitan. Pada penerbitan tradisional, si penulis dibayar dan diatur oleh penerbit. Pada penerbitan self publishing, si penulis mengeluarkan modal untuk buku yang dia terbitkan. Sementara pada sistem penerbitan hybrid, terdapat model-model tertentu yang disepakati kedua belah pihak; ada layanan yang digratiskan dan ada layanan berbayar; menyangkut hal-hal yang terkait dengan editorial, pencetakan, hingga pemasaran buku.
Kemudian, muncul pula penerbitan indie atau independent publishing. Istilah indie dan self publishing menjadi semakin menyaru dan seringkali saling menggantikan. Padahal, ia berbeda. Pada awal kemunculannya di Barat, indie merupakan suatu entitas penerbit yang tidak terafiliasi dengan penerbit-penerbit mayor. Ia terpisah dan membuat arus sendiri yang terkadang tak sejalan dengan arus utama. Bisa dibiliang, mereka mengusung misi tertentu beserta idealisme yang mereka perjuangkan. Penerbitan indie ini kemudian perlahan menjadi suatu aktor penerbitan yang semakin diperhitungkan. Muncul pula penerbitan digital sebagai respons atas perkembangan teknologi. Pada indie publishing—sebagaimana yang dipahami masyarakat—para penulis bisa lebih leluasa untuk menerbitkan bukunya, dengan variasi tema dan genre yang lebih luas.
Perkembangan dunia penerbitan kini mencapai suatu babak baru, ketika semua kategori penerbitan tadi menjadi semakin bercampur baur, tak terlihat lagi dengan jelas mana yang konvensional, mana self-publishing, indie, atau yang digital. Semua jenis penerbitan tadi bebas berkarya dan berimprovisasi untuk dapat bersaing.
Penerbit bercorak indie-digital pun mulai tumbuh dengan menawarkan berbagai platform, terutama menggunakan website. Di dalam negeri, Bitread publishing menjadi contoh salah satu penerbitan indie-digital yang menggunakan platform website untuk membantu para penulisnya berkarya. Dengan platform tersebut, para penulis baik profesional maupun pemula, memanfaatkan kemudahan-kemudahan dalam menerbitkan karyanya. Soal platform digital, di luar negeri sana ada Amazon yang berusaha memanfaatkan ceruk pasar dengan sangat ambisius. Mereka memiliki aplikasi yang mereka kembangkan sendiri, bersamaan dengan platform pemasaran yang juga telah sangat dikenal.
Penerbitan indie menjadi suatu bukti bahwa “selalu ada tempat bagi siapa pun”. Penerbitan indie memiliki keleluasaan untuk mendarat di pasar-pasar yang spesifik, bahkan pada tema maupun genre yang dipandang tak seksi sekalipun. Buku jenis apapun dapat digarap dengan metode penerbitan indie tersebut; yang kemudian dapat membuat arus baru bahkan melawan arus yang telah menghegemoni.
Perkembangan dunia penerbitan dewasa ini sangatlah menarik bagi para penulis, terutama para penulis indie. Anggapan bahwa naskah-naskah atau buku yang tidak diterbitkan penerbit mayor hanya akan berakhir di tong sampah menjadi salah besar. Kini, semakin banyak penulis yang muncul ke permukaan tanpa bermitra dengan penerbit mayor, mereka memilih penerbit yang terbilang kecil atau maju dengan sistem self-publishing. Para penerbit mayor bergulat di pasar yang telah didikte pasar, menyisakan ruang-ruang yang tak tersentuh yang bisa menjadi potensi bagi penerbit indie dengan jenis terbitannya yang lebih luwes dan fleksibel. Para penulis indie memiliki motivasi kuat dalam menerbitkan karyanya. Mereka punya misi sendiri untuk menerbitkan secara indie. Entah memang karena panggilan hati, sekadar berbagi, atau ingin memberikan kontribusi pada komunitas tempat ia berekspresi. Mereka berani beda, membuat setiap penulis indie memiliki keunikannya masing-masing.
Penerbitan alternatif menjadi sebuah wahana yang turut berjuang di garis terdepan untuk memajukan literasi negeri. Kendatipun belum banyak yang mengenal mereka; walaupun sering dipandang sebelah mata. Mereka bergerak dalam senyap, memotivasi masyarakat untuk menulis dan berkarya sebagai bentuk perjuangan dalam membangun budaya literasi negeri. Membaca ialah salah satu tingkatan dasar yang perlu menjadi kebutuhan wajib kita, dan menulis ialah tahapan berikutnya yang lebih tinggi. Tak hanya mengolah dan memproduksi wacana dari suatu bacaan, menulis ialah kegiatan mencipta, membagi ilmu, opini, pemikiran, dan suara hati yang kelak mengabadi lewat sebuah tulisan. Bukan soal tradisional atau self-publishing, konvensional, digital, atau indie, ini semua adalah tentang kita sebagai bangsa yang beradab, dengan impiannya untuk menjadi bangsa yang besar dan bermartabat melalui suatu belantara yang bernama literasi. Maka, apapun label dan gaya-nya, menulislah dan terbitkanlah. Buat Indonesia kembali disegani dunia.[Luttfi Fatahillah]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar