Postingan

Kala Coretan Berarti Segalanya

Baru-baru ini saya tergelitik dengan salah satu pemberitaan di media massa. Tidak terlalu penting tapi cukup menarik perhatian. Jokowi menuliskan kesannya pada buku tamu di Blair House saat kunjungannya ke Amerika (akhir Oktober, 2015). Ia menuliskan kesannya dengan gaya tulisan sambung yang bunyinya: “Terima kasih atas kehangatan, persahabatan, dan keramah-tamahan yang baik selama rombongan Indonesia berada di Blair House. Terima kasih yg sebesar-besarnya. –  (tanda tangan) Jokowi, 28 Oct 2015.” Hanya itu. Tak kurang dan tak lebih. Isi kesannya santun, menghargai penerimaan tuan rumah yang baik kepada tamu dari Indonesia. Jokowi sangat tersanjung dengan keramahan Obama dan stafnya selama mereka mengunjungi White House. Deborah Dewi—seorang grafolog ngetop Indonesia—lantas memberikan analisanya atas tulisan tangan sang presiden.  Grafolog American Handwriting Analysis Foundation itu memaparkan bahwa tulisan tangan Jokowi mampu menunjukkan persepsi hubungan bilateral Indon...

Antara Aku dan Si Tikus Kecil

Malam itu, seekor tikus kecil masuk begitu saja lewat celah pintu kamarku yang sempit—pintu kamarku sudah tak sebagus dulu, ada celah di pojok bawahnya. Si tikus berlari masuk dari luar kamar lewat celah itu lalu berbelok menyusuri tepian dinding. Sempat kukira itu cecak, karena pernah  beberapa kali aku melihat cecak yang terjatuh atau mungkin sengaja menjatuhkan diri. Tapi begitu aku sadar bahwa cecak tak secepat itu larinya—dan tentu saja mereka tak berwarna hitam—langsung aku tersentak dan berdiri di atas kasur. Si tikus juga kaget, kini dia bersembunyi di belakang ranselku yang tegeletak di lantai. Aku masih ternganga, memandangi daerah di sekitar ransel itu, berjaga-jaga kalau si tikus berlari menuju ke arahku. Tak terjadi apa-apa, kuberanikan diri melangkah dan mendekati ranselku. Saat aku melangkahkan kaki, si tikus sepertinya diam tak berani bergerak … tapi pada langkah kedua, pijakan kakiku membuat lantai kamar berdecit. Maklumlah, aku tidur di loteng yang berlantai ka...

Hari-Hari Si Ngatijo

Setiap malam Ngatijo tidak pernah tidur pulas. Ia kerap membolak-balikkan badannya di atas ranjang, berganti posisi karena Ngatijo tidak kunjung merasa nyaman. Lelaki tua yang ubanan itu belum juga makmur di usianya yang senja, masih saja melarat. Malam itu, sesekali Ngatijo merasakan sakit di kepala, snut-snutan. Keningnya pasti terasa nikmat bila dipijat – andai ada orang yang memijatnya, begitu pikirnya. Ranjang tempat ia berbaring tak lagi empuk, rasanya hanya seperti rebahan di atas dipan yang dilapis lipatan dan kerutan kain butut. Jika Ngatijo sedikit saja bergerak, suara derit yang parau bakal terdengar – seperti bunyi sesuatu yang terjepit di antara dipan dan kasurnya. Lalu tiba-tiba, kedua matanya seketika terbuka, dalam benaknya terlontar sebuah pertanyaan: waduh, besok ngutang sama siapa lagi ya?             Malam merangkak lambat, bulan purnama terang, namun alam sudah sunyi dan kian tenang. Di dapur rumah Ngatijo, tikus dan cecurut di dekat...

Hebatnya Dunia Pemahat-Kata

Bekerja di dunia tulis-menulis membuat saya semakin bersyukur. Mengapa? Apa hubungannya antara menulis dan bersyukur? Sebelum saya menjawabnya, akan saya ceritakan dulu bagaimana saya bekerja setiap hari …. Komputer hampir seperti segalanya bagi saya, bahkan paras monitornya lebih sering saya tatap ketimbang wajah istri saya sendiri. Saya selalu duduk manis di depan layarnya ketika di kantor. Atau saat saya membawa pekerjaan kantor ke rumah, si komputer akan duduk manis di pangkuan saya. Ini menyadarkan saya mengapa komputer jinjing itu disebut laptop. Lalu, begitu menyalakan komputer, masuklah saya ke “dunia lain”. Dunia yang mengizinkan saya melakukan apa saja. Dunia yang—setidaknya untuk sementara waktu—membolehkan saya membuat kesalahan, sebanyak dan sefatal apa pun itu. Dunia yang tak mengenal kata menyesal sebab segalanya bisa saya sunting kemudian. Kata “menyunting”, selalu menyenangkan bagi saya—in every sense of the words. Inilah dunia saya: dunia pemahat-kata. Dari puluh...

Ummm ....

Gambar
Ya dan tidak, ternyata sama saja. Ada yang bisa bantu saya? =p

Tik tok tik tok …

Waktu terasa begitu cepat berlalu dan semakin cepat berlalu. Rasanya memang begitulah adanya. Dulu kata orang, saat saya ceritakan hal ini, dia minta saya bersyukur. Dia bilang itu tandanya waktu yang saya punya selalu bisa saya manfaatkan dengan hal-hal yang berguna. Tapi saat ini, saya merasa bahwa waktu secara harfiah memang benar-benar cepat berlalu. Entah mengapa, dari hari ke hari, waktu terasa begitu deras mengalir. Seorang teman di kantor bilang bahwa waktu sangat tidak terasa berlalu, dari pagi hingga siang, dari siang hingga petang, hingga akhirnya bubaran pulang. Dia bilang karena dirinya sibuk. Tapi, saya pernah mencoba seharian bermalas-malasan, ternyata waktu tetap saja sangat cepat merangkak meninggalkan lamunan kita, menelantarkannya di sudut-sudut dan emperan pusaran dimensi waktu yang penuh misteri. Menurut saya, kita merasa diri kita terlalu banyak pekerjaan sehingga waktu benar-benar tersita. Ilusi ini terjadi karena otak dikelabui oleh pembagian waktu dan kine...

Si Baik dan Si Buruk

kadang tebersit di pikiran kita, mengapa banyak sekali orang baik yang bisa tersisihkan oleh orang jahat. padahal, kalau kita ingat-ingat ajaran orang tua dulu, atau mungkin kalau kita tengok film dan buku-buku, tak sedikit yang meyakinkan kita (lewat pesan moralnya), bahwa orang jahat selalu dapat dikalahkan oleh orang baik. tapi, nyatanya tidak seperti itu. ada banyak orang baik yang kalah bersaing dengan orang jahat. biasanya si jahat memang main curang, apa pun bentuknya. tapi, seharusnya yang baik tetap menang walaupun si jahat berlaku curang, selicik dan sehina apa pun cara yang dia tempuh. sekarang, coba pikirkan, bagaimana kalau keadaannya tidak selalu seperti itu, bahkan saya sering menyaksikan ada orang baik yang dia mesti mengalah atau tunduk kepada orang jahat. hmmm..."mungkin pertandingan belum selesai, kita lihat nanti siapa yang tertawa paling akhir". ternyata anggapan saya salah, sampai akhir pun si baik tetap kalah, sementara si jahat tetap berbusung dada ...