Postingan

Kembali Jadi Anak Kecil

Saat kecil, kita pasti sering membayangkan bahwa kelak ketika dewasa kita akan jadi orang sukses. Sebagian besar dari kita pasti membayangkan demikian, dan sisanya—entah karena terlalu polos atau memang bermental easy going—barangkali tidak pernah memikirkan hal itu. Saya sendiri ketika masih kecil selalu membayangkan bahwa nanti saat sudah dewasa, saya akan menjadi orang sukses; jadi orang kaya, cita-cita tercapai, punya harta banyak. Tapi, apa yang akan kita perbuat bila memang kehidupan tidak pernah semulus seperti yang kita inginkan? Waktu kecil kita memandang dunia dalam perspektif seorang anak. Selalu ada hal baru dan menyenangkan setiap harinya. Ketika kita mengalami sesuatu untuk kali pertama, kita akan sangat antusias ketika merasainya. Segala pengalaman pertama adalah pengalaman yang mengasyikkan. Misalnya: hari pertama puasa, pertama kali naik kereta, pertama kali berangkat sendiri ke sekolah, dan berbagai pengalaman lainnya. Semua itu menanamkan mental positif kepada k...

InfO2rmasi

Pada masa ini, orang yang akan menguasai dunia adalah orang yang menguasai informasi. Dulu orang pikir kekuasaan hanya bisa didapat lewat kekuatan, tak ubahnya saat zaman primitif. Saat seseorang punya keingingan, “paksaan” menjadi pilihan utama. Yang membedakan hanyalah sifatnya; ada paksaan secara keras dan ada paksaan secara lembut. Paksaan keras digunakan oleh orang dengan intelijensi yang agak kurang, sedangkan paksaan lembut biasa digunakan oleh orang berpendidikan dan punya pengaruh, bahkan tak jarang ia memanfaatkan orang lain. Ya, ada masa paksaan, yang pada masa itu orang dibuat takut untuk mengikuti kemauan orang lain. Ini pun terjadi dalam peperangan. Dalam suatu pertempuran—pada era apa pun—kekuatanlah yang lebih ditonjolkan:  kelebihan jumlah tentara, seberapa maut senjata, atau sebanyak apakah jumlah sekutu. Dahulu orang beranggapan kekuatan fisik adalah segalanya, dan hal ini berlangsung lama sekali. Walaupun peralihan antara zaman hard power ke soft power ...

Agent of Change?

Jalan-jalan dipasang barikade, arus lalu lintas macet atau terpaksa dialihkan, hingga aksi pembakaran yang tersulut di berbagai tempat; itulah potret yang jamak terlihat manakala demonstrasi terjadi di negeri ini. Huru-hara semacam itu bermunculan di banyak tempat saat massa berdemonstrasi menolak kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. Komposisi massa yang dimaksud mungkin bervariasi, tapi memang pada akhirnya unjuk rasa tersebut lebih banyak didominasi dan diatasnamakan oleh mahasiswa. Fungsi demonstrasi atau unjuk rasa itu sendiri tak lebih dari suatu media atau cara agar orang dapat menyatakan pendapatnya mengenai suatu persoalan. Tapi kalau demonstrasi sudah bercorak anarki, itulah yang menjadi masalah; yang sayangnya hal semacam ini kian mudah kita temukan di sana-sini. Membaca berita beberapa hari lalu tentang demo BBM membuat kita miris. Demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM di sejumlah kota seperti di Jakarta, Medan, dan Makassar, berujung bentrok. Pembakaran hingga pe...

God Works in A Mysterious Way

Waktu itu, saya diminta orang rumah untuk membawakan bubur ayam, sepulang kerja. Itu berarti saat pulang saya mesti mencarikan dulu tukang bubur ayam atau tempat jualan bubur ayam yang buka malam-malam. Untunglah, saat ini tukang bubur ayam tidak hanya ramai saat pagi hari saja, sebab malam hari pun, sudah banyak penjual bubur ayam yang menjajakan dagangannya. Intinya, buat saya permintaan itu tak jadi masalah. Tapi kemudian, saya mengingat-ngingat, sejauh yang saya tahu, hanya ada dua tempat jualan bubur ayam yang buka (juga) waktu malam. Yang satu tempatnya agak jauh—sehingga saya mesti mengambil jalan yang agak memutar ketika pulang—dan satu lagi tak begitu jauh dari rumah, kira-kira hanya makan waktu sepuluh menit dari rumah, tapi sayangnya di situ harganya mahal. Menjelang jam bubaran kantor, tiba-tiba hujan turun deras. Saya sempat hendak mengurungkan niat membawakan bubur ayam ke rumah. Namun setelah ditimbang-timbang, kasihan juga orang rumah yang sudah membayangkan hangatny...

Hanya 10 Menit (saduran; lupa sumbernya)

Adi masih asyik dengan permainan ular tangganya sendirian, si mbok yang sejak tadi pagi sudah sibuk dengan pekerjaannya kini terlelap karena kelelahan. Jam sudah menunjukkan pukul 21.35, Adi sebentar menengok jam dinding di ruang tengah, sesaat  seperti  teringat sesuatu, lalu kembali melempar dadu. Suara tawa yang terdengar dari TV menjadi ironi yang mewarnai suasana sepi di rumah itu. Malam itu, seperti malam-malam yang lain, Adi sendirian menunggu ayahnya pulang. Suatu adegan yang lucu di layar TV sempat membuatnya bersuara seperti tawa, tawa yang justru terlihat mengibakan. Adi masih menunggu ayahnya, ada suatu permintaan sederhana buat ayahnya malam itu. Salah satu pion sudah hampir sampai di  kotak terakhir, namun pintu rumah terbuka sebelum Adi sempat melempar dadunya.  Serta merta air muka yang berseri terpancar dari wajah mungil itu. Ayah sudah pulang ! Dengan segera ia tinggalkan ular tangga yang sedari tadi menemaninya , Adi membereskannya dengan te...